Wacana tari modern kerap menempatkan panggung atau studio sebagai ruang ulung dalam memproduksi gerak. Pendekatan tersebut turut membentuk tradisi akut yang menumpukkan perhatian pada koreografi yang dirancang, estetika formal, dan struktur pertunjukan. Dalam keseharian Makassar, laku gerak yang berlangsung tanpa direka menandai hubungan tubuh dengan lingkungan yang kompleks. Aktivitas berjalan, menepi dari kendaraan, menyesuaikan langkah di lorong padat, menggulung layar perahu, mengangkat barang di pasar, atau menunggu angin di pelabuhan memperlihatkan kualitas ritmis yang dibentuk oleh situasi sosial dan ekologis. Tubuh warga bergerak dalam laku adaptasi yang terus berlangsung, dan dari laku tersebut muncul struktur yang dapat dibaca sebagai koreografi sosial.
Tentang ritme sehari-hari, hasil observasi Barbara Ehrenreich memastikan bahwa kehadiran energi kolektif tanpa perlu institusi formal itu penting. Shared movement creates shared feeling, tulis Ehrenreich, menerangkan bahwa kebersamaan dapat terbentuk dari tindakan tubuh yang bergerak dalam ritme yang sama. Jika prinsip ini diterapkan pada kehidupan kota pesisir seperti Makassar, gerak yang tampak rutin terlihat sebagai produksi makna yang berlangsung terus-menerus.
Tubuh yang hidup di kota Makassar bergerak dalam ritme yang kompleks. Kota ini tidak hanya membangun laku hidup, tetapi juga membawa residu panjang sejarah maritim. Tubuh warga pesisir belajar membaca perubahan ruang, arah angin, dan tekanan arus. Di pasar, tubuh menyesuaikan diri dengan ritme perdagangan yang padat. Di pelabuhan, tubuh bergerak mengikuti logistik maritim. Di jalan-jalan kota, tubuh menavigasi kepadatan dan ruang sempit. Semua ini meramu arsip gerak yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari dan jarang masuk dalam wacana tari. Bagaimana laku gerak semacam itu memperlihatkan bahwa tubuh menyimpan pengetahuan historis, ekologis, dan sosial dalam bentuk tindakan yang terus diperbarui?
Kosmologi Air dan Sejarah Politik Pesisir
Hubungan masyarakat Makassar dengan laut membentuk cara tubuh bekerja dan beradaptasi dalam lingkungan pesisir. Tubuh warga hidup dalam ritme yang ditentukan angin, pasang surut, jalur dagang, dan risiko karam. Dalam kerangka tari, pengalaman semacam ini dapat dibaca sebagai dasar pembentukan pengetahuan kinestetik. Sondra Fraleigh menyebutnya archive of sensory memory. Tubuh mempelajari ruang bukan melalui pendidikan formal, melainkan keterlibatan langsung dengan kondisi material yang senantiasa berubah.
Sejarah abad ke-17 yang dicatat oleh Andaya dalam Warisan Arung Palakka memperlihatkan bagaimana pengalaman maritim ini bersinggungan dengan politik. Pada 1662, kapal Belanda De Walvis karam di perairan Makassar. Barang-barang yang terlempar keluar dari kapal diambil oleh para pengikut Karaeng Tallo dan Karaeng Sumanna. VOC menganggap barang itu tetap milik mereka, sementara Karaeng Sumanna menegaskan bahwa apa yang dilepaskan laut menjadi milik penemu. Pernyataan ini sering ditafsirkan sebagai ekspresi kosmologi maritim, meskipun ia juga terikat pada politik pelabuhan dan kepentingan kerajaan yang berlapis.
Adagium Bugis, sisana bombang, tawana sinangke, sering digunakan untuk menjelaskan pandangan bahwa laut menentukan kepemilikan. Namun, adagium ini tidak bekerja secara seragam. Ia beroperasi di tengah relasi dagang, patronase bangsawan, dan kebutuhan ekonomi yang berbeda di tiap wilayah pesisir. Karena itu, peristiwa De Walvis memperlihatkan lebih dari sekadar perbedaan kosmologi. Ia menunjukkan negosiasi antara hukum laut lokal, politik pelabuhan, dan kepentingan kerajaan yang bersaing dalam jaringan perdagangan Asia Tenggara.
Dua tahun kemudian, ketegangan kembali terjadi ketika kapal Leeuwin karam dan peti uangnya diambil warga. VOC menganggap tindakan itu kriminal, sedangkan sebagian masyarakat pesisir memandangnya sah menurut praktik lokal. Perbedaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi dan posisi Makassar yang saat itu berada dalam persaingan langsung dengan VOC. Peristiwa terbunuhnya Cornelis Kuyff yang diam-diam mengusut peristiwa itu menambah lapisannya. Ketika Karaeng Sumanna mengirim uang penghiburan sesuai praktik adat setempat, Belanda menilainya sebagai penghinaan. Perbedaan penafsiran ini menunjukkan konflik antara dua sistem hukum yang berdiri di atas logika sosial yang berbeda.
Dari peristiwa De Walvis dan Leeuwin dapat dilihat bahwa gerak tubuh warga pesisir bekerja dalam struktur nilai yang berbeda dengan sistem nilai kolonial. Mengambil, mengangkut, atau menyembunyikan barang karam bukan hanya tindakan ekonomi, melainkan merupakan respons tubuh terhadap situasi politik. Helen Thomas mengingatkan bahwa tubuh terikat pada struktur sosial; gerak kepatuhan atau penolakan lahir dari posisi tubuh terhadap kekuasaan.
Sejarah pesisir Makassar, dengan demikian, memperlihatkan hubungan yang selalu berubah antara ekologi laut, dinamika politik, dan strategi hidup warga. Tubuh pesisir beroperasi dalam kondisi yang tidak stabil: arus berubah, ruang pesisir bergeser, ancaman datang dari laut maupun dari kekuasaan kolonial. Tubuh mempelajari risiko ini melalui pengalaman sehari-hari. Pengetahuan tersebut disimpan sebagai memori gerak, diwariskan melalui pembiasaan, dan menjadi bagian dari struktur tubuh.
Walking Art dan Pembacaan Tubuh di Ruang Kota
Walking art menyediakan cara untuk memetakan bagaimana tubuh membaca kota. Metode berjalan yang telah banyak dipraktikkan seniman dan peneliti dari beragam disiplin ini menempatkan tubuh sebagai alat baca ritme kota. Setiap langkah memproduksi informasi tentang ruang dan membentuk relasi resiprokal antara tubuh dan lingkungan yang dilewati. Rebecca Solnit menulis bahwa walking is how the body measures the world, sebuah gagasan yang menegaskan bahwa berjalan adalah cara tubuh mengolah ruang menjadi pengalaman dan pemahaman. Walking art membuat proses pengukuran ini dapat dibaca, yang menunjukkan bagaimana tubuh senantiasa melakukan interpretasi atas kota.
Tubuh senantiasa bergerak seirama dengan tempat ia berada. Di bawah jalan layang, tubuh harus bergerak cepat. Ruang yang tidak akur dengan intensitas kendaraan dan tekanan infrastruktur membuat tubuh menyesuaikan langkah. Tubuh menghindar, mengambil jarak, mempercepat gerak. Semua itu adalah ekspresi dari negosiasi tubuh terhadap ruang. Gerak itu tidak estetis, tetapi memuat struktur.
Pasar memperlihatkan struktur berbeda. Di Pasar Terong, arus barang, suara, lalu lintas pejalan kaki, dan ritme transaksi menciptakan koordinasi spontan. Pedagang, pembeli, dan pekerja bergerak tanpa arahan. Mereka menyesuaikan diri satu sama lain. Situasi ini memperlihatkan gagasan Ehrenreich tentang energi kolektif. Ritme yang tercipta bukan hasil komando, melainkan akibat dari keharusan berbagi ruang dan waktu. Tubuh yang berinteraksi dalam ritme yang sama menciptakan struktur kolektif yang stabil tetapi tidak deterministik.
Pelabuhan Paotere memperlihatkan hubungan tubuh dengan lingkungan ekologis. Angin, arus, dan logistik barang membentuk ritme yang memengaruhi gerak buruh pelabuhan dan pelaut. Tubuh mengikat tali, mengangkat barang, menunggu angin, dan membaca arus. Semua tindakan itu adalah bagian dari pengetahuan ekologis dan menjadi arsip lingkungan yang hidup. Tubuh menyimpan cara membaca perubahan alam. Pengetahuan itu tidak selalu disadari, tetapi memengaruhi bagaimana tubuh bergerak dan mengambil keputusan.
Walking art menuju Tallo memperlihatkan bagaimana tubuh merespons perubahan fisik pesisir. Abrasi, reklamasi, lorong sempit, dan tekstur tanah membuat langkah berubah. Tubuh harus membaca kondisi tanah, arah angin, dan suara air. Gerak itu memperlihatkan relasi ekologis yang kuat. Tubuh merasakan perubahan lingkungan dalam bentuk sensasi dan ketegangan otot.
Walking art memperlihatkan kebersamaan kecil yang muncul dari tindakan sederhana. Koordinasi langkah, saling memberi ruang, dan membaca ritme keramaian adalah bentuk solidaritas yang muncul dari gerak. Dan, kebersamaan semacam ini tidak lahir dari perintah atau aturan, tetapi dari ritme tubuh yang bergerak dalam ruang yang sama. Energi komunal itu membentuk kehidupan sosial kota.
Realisme Kosmik-Maritim dan Relevansinya bagi Tari Indonesia
Realisme kosmik-maritim dapat dibaca sebagai cara melihat tubuh dalam interaksi dengan lingkungan. Tubuh warga Makassar bergerak sebagai hasil dari hubungan dengan ekologi laut, sejarah politik pesisir, dan struktur sosial kota. Langkah yang berubah karena pasir, arus, atau tekanan urban bukan respons mekanis, tetapi merupakan bagian dari akumulasi pengalaman.
Perspektif Helen Thomas membantu melihat bagaimana tubuh terus memproduksi makna melalui interaksi dengan struktur sosial. Tubuh yang hidup di pasar, pelabuhan, kampung air, dan ruang reklamasi membaca tekanan ekonomi, kebiasaan warga lain, dan ritme industri. Semua itu membentuk gerak yang dapat dibaca sebagai bagian dari proses koreografis sosial.
Gerak tubuh yang saling menyesuaikan membentuk rasa kebersamaan. Di Makassar, ritme pasar, pelabuhan, dan kampung pesisir memperlihatkan bentuk kebersamaan semacam itu. Energi kolektif itu membentuk struktur sosial yang tidak mudah dilihat jika memakai pendekatan urban yang hanya membaca bangunan dan infrastruktur.
Jika pembacaan tari Indonesia menggunakan kerangka dari Ehrenreich, Thomas, dan Fraleigh, maka sumber pengetahuan gerak dapat diperluas. Tubuh yang bekerja di pasar, pelabuhan, dan kampung air menjadi bagian dari ekosistem tari. Gerak mereka membawa jejak sejarah pesisir yang panjang, pengalaman ekologis yang rumit, dan ritme kota yang terus berubah. Tubuh itu tidak hanya melakukan kerja. Mereka memproduksi pengetahuan kinestetik yang penting.
Melalui pembacaan-pembacaan di atas, koreografi sosial Makassar dapat dibaca sebagai rangkaian respons tubuh terhadap lingkungan hidup, struktur sosial, dan ritme komunal. Gerak yang muncul dari kehidupan sehari-hari menyimpan jejak sejarah maritim, politik pesisir, dan perubahan ruang kota. Dengan kerangka itu, tari tidak lagi harus berangkat dari panggung. Tari dapat muncul dari tubuh yang hidup di tengah kota pesisir dan mempelajari dunia melalui gerak yang terus dilakukan setiap hari.
Referensi
Andaya, Leonard Y. 2006. Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Ehrenreich, Barbara. 2006. Dancing in the Streets: A History of Collective Joy. New York: Metropolitan Books.
Fraleigh, Sondra. 2010. Butoh: Metamorphosis of Body and Soul. Pittsburgh: University of Pittsburgh Press.
Solnit, Rebecca. 2010. Wanderlust: A History of Walking. New York: Viking.
Thomas, Helen. 2003. The Body, Dance and Cultural Theory. New York: Palgrave Macmillan.






