Keindonesiaan dalam Spektrum Tubuh Tari di Jakarta Menari Bersama

Spektrum Tubuh Tari  Mungkinkah memisahkan ruang dari tubuh dan tari, sebagaimana memisahkan keindonesiaan dari tubuh masyarakat Indonesia? Atau, justru pemisahan itu sudah terjadi tanpa disadari, yaitu ketika ruang, tubuh, dan tari telah dipisahkan dan dikotak-kotakkan ketika berhadapan dengan kategorisasi produksi pengetahuan? Apakah keindonesiaan itu hanya sebatas pada keindahan ornamental unsur ketradisian atau ia telah menubuh…

Baca
Poster dengan judul Tubuh yang Tumbuh karya dari Aulia

Tubuh yang Tumbuh: Membaca CTRL + MOVE dari Perspektif Keaktoran Perempuan

Sebagai seorang aktor, saya terbiasa memahami tubuh tidak sekadar sebagai instrumen estetika, tetapi sumber kehidupan pertunjukan itu sendiri. Dalam dunia teater, tubuh aktor adalah ruang pengetahuan, ruang yang menyimpan ingatan, luka, dan cara bertahan.  Maka, ketika menyaksikan pertunjukan tari CTRL + MOVE (15 Oktober 2025 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki), saya sedang melihat tubuh-tubuh…

Baca
Poster artikel dari Komite Tari

Tubuh, Tari, dan Kolektivitas dalam Bentangan Memproduksi Pengetahuan dari Praktik Tari

Sepanjang 2024 dan 2025, Komite Tari-DKJ menyelenggarakan berbagai program dengan berlandaskan pada perspektif Koreografi Sosial sampai Kebahagiaan Kolektif. Kedua perspektif tersebut bertransformasi sekaligus bertransmisi melalui program pengembangan kapasitas artistik, kemudian penerbitan artikel, penyelenggaraan festival dengan berbagai subprogram, sampai kemitraan yang dilengkapi dengan pengamatan. Adapun kerja-kerja Komite Tari dirancang untuk bertaut antarperspektif dari tahun ke tahun.…

Baca

Antara Aphrodisiac, Gairah, dan Mak Erot dalam Tubuh Ishvara

Saya lupa kapan tepatnya, mungkin saat saya TK, kali pertama saya mendengar nama “Mak Erot” dari bapak-bapak di sekitar rumah saya, dan tentunya, infotainment yang sering terpaksa saya tonton ketika mama saya menyuapi saya makan siang. Pada waktu itu saya tidak tahu menahu siapa Mak Erot dan apa yang ia lakukan. Belakangan, ketika umur saya…

Baca
Poster artikel Yoga Palwaguna

Tari sebagai Jembatan Pengalaman: Membangun Solidaritas Antartubuh

Pengalaman Ketubuhan sebagai Sumber Pengetahuan Dalam salah satu wawancaranya, Ocean Vuong (penyair Vietnam-Amerika) pernah bercerita tentang bagaimana praktik beragama dalam keluarganya berakar dari ritual dan perawatan. Kata Ocean, bagi keluarganya yang buta huruf, spiritualitas dimulai dengan perawatan dan berakar pada tubuh ragawi. Apa yang diungkapkan Ocean membuat saya berpikir ulang tentang teks sebagai medium penyebaran…

Baca
Poster artikel Aya Canina

Gerak, Ekspresi, dan Katarsis: Sebuah Pengamatan Psikologis atas Pertunjukan “Jakarta Menari Bersama”

Tubuh yang Bicara: Membaca Emosi dan Katarsis dalam Gerak Penari Dalam pertunjukan Jakarta Menari Bersama, tubuh menjadi medium yang paling jujur. Tidak ada kalimat, tidak ada dialog panjang. Percakapan hadir dari gerak yang seolah melahirkan dirinya sendiri dari tubuh penari, tubuh yang bicara. Dari bangku penonton, saya menyaksikan peserta Free’Soul Dance Challenge bergerak mengikuti musik…

Baca

CTRL + MOVE dan Tubuh yang Belajar: Refleksi Penikmat Awam Pentas Tari dalam Membaca Gerak sebagai Pendidikan Kemanusiaan

“Bangsa-bangsa di seluruh dunia akan segera menghasilkan generasi-generasi mesin yang berguna, tetapi bukan warga negara yang utuh yang bisa berpikir sendiri, mengkritik tradisi, dan memahami pentingnya penderitaan dan pencapaian orang lain.” -Martha Nussbaum dalam Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities   “Creature: Dancing Bodies”: Tubuh yang Menari, Tubuh yang Manusiawi Jemari kaki muncul…

Baca

Ingatan yang Tertanam di Kayu Topeng: Seni Pertunjukan Tembut-Tembut Seberaya sebagai Situs Memori Kolektif Masyarakat Karo

Tubuh saya bertumbuh seiring dengan suara denting gamelan, pukulan kendang, dan nyanyian melengking para sinden. Gerak tangan mengukel maupun ngithing menjadi sangat sehari-hari pada masa saya SD hingga SMP. Lutut rasanya telah akrab dengan rasa nyeri usai mendhak berjam-jam. Hari-hari saya lewati dalam sebuah sanggar tari kecil di sebuah kota kecil Wonosobo, Jawa Tengah, pintu masuk…

Baca

Pejalan Budaya, Merantau, dan Tarian Keluarga Migran

Hari itu Idulfitri, hari raya bagi umat Muslim. Hari penuh berkah setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan. Namun, pada hari keagamaan yang teramat istimewa itu, apakah ada yang pernah menemukan dan menyaksikan sebuah kerumunan orang berjoget dan bernyanyi lepas dan penuh kegembiraan? Ternyata ada, dan saya berkesempatan mengalami hari yang tidak lazim itu. Hari yang…

Baca
Thumbnail esai karya Nella Giriani Putri

Tarian Bapuppur sebagai Arsip Ekologis dan Kebahagiaan Kolektif Perempuan Berau

Musim kemarau tak kunjung usai di wilayah Berau, Kalimantan Timur. Saat musim kemarau, angin menerpa kaleng-kaleng bekas susu kental manis yang dipasang menjulang di atas pematang sawah. Kaleng-kaleng itu menyuarakan kesedihan kepada Tuhan atas tanah yang kering; kaleng-kaleng seakan-akan berbicara lantang dengan bahasa manusia. Di tengah burung-burung pemakan padi dan bunyi kaleng yang menakutkan, Inda…

Baca

Menyingkap Ilusi Kebahagiaan Kolektif dalam Pariwisata

Waturaka adalah sebuah desa di Kabupaten Ende, hanya berjarak kurang lebih 4 kilometer dari Kelimutu, danau tiga warna yang menarik minat banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Desa Waturaka berada di Kecamatan Moni, suatu kawasan wisata yang memiliki banyak hotel, restoran, villa, dan homestay. Waturaka membentang di lembah Moni yang elok, dikelilingi bukit-bukit hijau, di antara…

Baca

Makassar sebagai Arsip Koreografi Sosial

Wacana tari modern kerap menempatkan panggung atau studio sebagai ruang ulung dalam memproduksi gerak. Pendekatan tersebut turut membentuk tradisi akut yang menumpukkan perhatian pada koreografi yang dirancang, estetika formal, dan struktur pertunjukan. Dalam keseharian Makassar, laku gerak yang berlangsung tanpa direka menandai hubungan tubuh dengan lingkungan yang kompleks. Aktivitas berjalan, menepi dari kendaraan, menyesuaikan langkah…

Baca

Tubuh, (Cultural) Performance, Kebahagiaan Kolektif, dan Hal-hal Lain

Program Open Call Telisik Tari 2025 menghasilkan lima tulisan di bawah tema besar “koreografi sosial”, sebuah konsep yang menautkan performance dengan gerak sehari-hari. Lima tulisan yang ringkas ini mengajak kita berdiskusi dan mendalami lebih jauh tentang tema-tema yang muncul di bawah konsep koreografi sosial dari berbagai tempat, di dalam maupun di luar negeri. Ibe S.…

Baca

Meninjau Pseudo-Entertainment: Agar Koreografi Tak Sekadar Pseudo

  Tulisan ini dibuat berdasarkan pengamatan pada Pseudo-Entertainment, sebuah proyek penelitian artistik, digagas oleh Bandung Performing Arts Forum (BPAF)* yang dilaksanakan pada Januari-Maret 2025. Proyek yang melibatkan seniman, pegiat lintas bidang, pengamat, dan publik ini mencakup serangkaian lokakarya, residensi, dan juga presentasi karya. Mengangkat tajuk “Apa yang Tersisa dari Masa Depan”, secara mendasar Pseudo-Entertainment menyoal…

Baca

Menakar Masa Depan Proyek Sambang Setangga

Sambang Setangga merupakan perjalanan artistik yang menggali makna di balik fisikalitas. Ia memanfaatkan ruang sebagai medium untuk menjembatani dua realitas yang mungkin terasa berjauhan, yang terancam dan yang sedang hidup (merayakan): Kampung Kota Dago Elos dan Kalipasir. Lebih dari sekadar titik-titik di peta, Sambang Setangga menjadi penanda, pertemuan antara dua komunitas, sebuah metafora perjalanan yang…

Baca

KOREOGRAFI SOSIAL: MENARI DAN KETERHUBUNGAN DALAM SOSIAL

Pada tahun ini, Komite Tari-DKJ mеngangkat tеma “Korеografi Sosial: Mеnari Mеmpеrkuat Jalinan Kеtеrhubungan Dalam Sosial.” Berdasarkan tema ini, akan dikеmbangkan bagaimana tari dan khususnya korеografi dapat bеrpеran dalam mеncеrmati isu-isu sosial–sеpеrti kеtimpangan, kеtidakbahagiaan sosial, dan kеsеhatan mеntal, sеkaligus mеmpеrkuat hubungan antar masyarakat. Termasuk akan didorong kolaborasi antara pеnari dan pеnеliti dari bеrbagai disiplin ilmu; sosiologi,…

Baca

MERAWAT RUANG, MERAWAT KOREOGRAFI, MERAWAT KONTEKS

Judul tulisan ini dibuat dengan mengacu pada tema Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023—yaitu “Merawat Bumi, Merawat Kebudayaan”. Bahwa penulisan ini dibuat berdasarkan catatan dari PKN 2023, khususnya dari program Mitra Ruang Ekspresi Warga (selanjutnya ditulis: program Ruang Warga), turunan dari kuratorial Laku Hidup -dengan beberapa anggota Komite Tari-DKJ terlibat dalam program-.  Mengacu pada tema di…

Baca

APA YANG KAU CARI, FARIDA?: Menelisik Citra Indonesia dalam Balet (Bagian II)

Mempertanyakan Identitas Ballet Indonesia (bagian II) Proses untuk terus mempertanyakan dan menemukan balet bercitra Indonesia terus berlanjut dari Pekan Balet I/1982 ke Pekan Balet II/1983. Pada periode ini Farida yang masih menjabat Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dalam sambutannya mengatakan pola Pekan Balet ini masih sama dengan yang sebelumnya, dengan membagi jenis penampilan…

Baca

APA YANG KAU CARI, FARIDA?: Menelisik Citra Indonesia dalam Balet (Bagian I)

(Penulis: Esha Tegar Putra) “Memang sulit sekali. Tak semudah yang dibayangkan, bagaimana menggabungkan sesuatu berbau Indonesia dalam balet.” (Farida Feisol, Masalah-Masalah yang Dihadapi dalam Menata Tari, November 1983) “Kalau dulu bisa muncul semacam Sangkuriang dan Farida Gunung Agung Meletus, itu kan hanya kegilaan kita saja.” (Yulianti Parani, wawancara 30 Desember 2020) “Sesudah menguasai teknik balet,…

Baca

CATATAN PERJALANAN SEORANG FOTOGRAFER PANGGUNG

Seorang bocah berusia belasan tahun tengah menonton acara musik di televisi. Yang tengah tayang adalah seorang penyanyi dikelilingi beberapa orang yang menari dengan lincah. Dalam pikiran si bocah, dia hanya ingin melihat penampilan penyanyi favoritnya. Si bocah merasa terganggu dengan kehadiran penari-penari tersebut; sebuah pemikiran yang kelak, bertahun-tahun kemudian, berhadapan dengan kenyataan yang ada di…

Baca

Tubuh, Ingatan, dan Ruang: Bagaimana Tubuh Memiliki Otonomi Atas Diri dan Relasinya dengan Ruang

Jika kita bicara soal tubuh manusia, kita akan mengasosiasikannya dengan bagian dari diri kita yang dikendalikan oleh otak atau pikiran kita. Dalam sains modern, dikatakan bahwa seluruh bagian dari anggota tubuh manusia dapat dikendalikan oleh otak atau pikiran; oleh karenanya, tubuh dianggap sebagai benda yang pasif dan tidak otonom. Seperti yang dikatakan oleh Rene Descartes…

Baca

MEMAKNAI ELEMEN DAN SEKELILING REPERTOAR TARI SEBAGAI ARSIP TARI

Bila kembali sejenak ke TELISIK TARI pada 2022, artikel-artikel yang dimuat dalam website telisiktari-id.preview-domain.com ditulis berdasarkan arsip tentang tari koleksi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang berbentuk berita dari media cetak. Sementara pada tahun yang sama, Komite Tari-DKJ menumbuhkan pembahasan perihal Expanded Choreography yang menjadi muatan dalam praktik Artistic Development dan buku Seri Wacana Tari berjudul…

Baca

Rekontekstualisasi Breakdance: Mungkinkah? Perlukah?

Mengingat arsip breakdance yang saya amati adalah kumpulan berita dari media cetak lokal era 1980-an (baca: lebih dari tiga setengah dasawarsa lalu), apakah judul dalam bentuk pertanyaan di atas sudah terlambat atau masihkah relevan untuk dilontarkan?  Tulisan mengenai breakdance di media menyampaikan bagaimana tarian ini di Indonesia secara umum berada dalam tegangan antara ditolak dan…

Baca

Hasrat untuk berekspresi: mencari pembebasan diri dalam breakdance di Jakarta, tahun 1985.

Dalam media saat itu, Tempo, 5 Januari 1985, terlihat tajamnya perbedaan perspektif selera antara pelaku ekspresi tubuh kaum muda melalui breakdance dan pemerhati perilaku kaum muda tersebut, yang mewujud dalam penghakiman maupun dukungan di media cetak. Perbedaan perspektif tersebut, yang terlihat lebih terkesan negatif daripada positif, justru semakin mengangkat breakdance menjadi perbincangan masyarakat luas. Ruang…

Baca

ARSIP KLIPING KORAN BUKAN SEKADAR BERITA KEDALUWARSA

Melalui pembacaan lima arsip terkait seni tari yang  terbit tahun 1970-an yang saat ini tersimpan di Dewan Kesenian Jakarta ternyata sebagai pembaca saya menemukan berbagai soal yang dapat saya tanggapi. Tulisan ini melibatkan tiga arsip tentang tari tradisional, satu tentang kritik seni tari, dan satu lagi tentang organisasi kesenian yang pada masa itu banyak melakukan…

Baca

Perbincangan Pertunjukan Lintas-Disiplin pada “Meta ekologi” (1979) Sardono; Pengantar arsip berita “Meta Ekologi” dari Timur, “Total Theatre” dari Barat

Pertunjukan “Meta Ekologi” Sardono W. Kusumo pada Oktober 1979  merupakan sebuah pertunjukan yang disambut sangat baik dalam liputan di banyak media saat itu. Dari beberapa arsip koran harian pada masa itu, baik yang menginformasikan pertunjukan maupun mengenai pembacaan yang membangun diskursus seni tari dan teater dari beberapa komentator dan pengamat pertunjukan “Meta Ekologi” di masa…

Baca

Breakdance: kebebasan tubuh sebatas pada ruang yang diinstitusikan

Perbantahan seru mengenai tren breakdance terjadi di media surat kabar di Indonesia pada masanya. Kegiatan breakdance yang dilakukan oleh kaum muda di tempat umum dianggap mengganggu ketertiban umum, tidak mencerminkan nilai-nilai moral dan kebudayaan Indonesia, termasuk perihal nilai-nilai agama, serta dikhawatirkan terpengaruh miras, narkoba, seks bebas, maupun prostitusi. Mereka yang mendukung, menganggap breakdance sebagai kegiatan…

Baca

BREAKDANCE BIKIN HEBOH!! MEMBACA DINAMIKA NILAI DALAM ARSIP BREAKDANCE

Mencermati breakdance berdasarkan arsip Komite Tari-Dewan Kesenian Jakarta, secara mendasar perihal yang mengemuka adalah spasial dan temporal; bahwa di sisi timur Amerika, yaitu di South Bronx-New York, pada era ‘70 tumbuh gerakan -budaya- hip hop. Dengan pengertian bahwa breakdance adalah bagian dari hip hop, saat breakdance sampai di Indonesia sekitar satu dekade kemudian, hip hop sendiri justru tidak banyak disebut;…

Baca

Mengangkat Tayub dengan Kartu Induk

Tanyalah kepada anak gadis usia SD di dukuh Ngrajek Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Ngajuk (Jatim), apa cita-cita mereka setelah tamat SD. Hampir dapat dipastikan mereka ingin jadi waranggana, penari tayub. Desa itu memang dikenal sebagai “gudang” waranggana.

Baca