Tubuh yang Bicara: Membaca Emosi dan Katarsis dalam Gerak Penari
Dalam pertunjukan Jakarta Menari Bersama, tubuh menjadi medium yang paling jujur. Tidak ada kalimat, tidak ada dialog panjang. Percakapan hadir dari gerak yang seolah melahirkan dirinya sendiri dari tubuh penari, tubuh yang bicara. Dari bangku penonton, saya menyaksikan peserta Free’Soul Dance Challenge bergerak mengikuti musik dan prompt yang menantang—memicu reaksi berbeda pada setiap tubuh penari: ada yang menunduk perlahan lalu membuka tangan seolah melepas sesuatu, ada yang berputar cepat seperti ingin melarikan diri dari jiwanya sendiri.
Dalam psikologi, tubuh sering dipandang sebagai panggung batin. Menurut psikolog Amerika, Judith Kestenberg, dalam pengembangan perspektifnya atas pendekatan Laban Movement Analysis, setiap pola gerak mengandung dinamika emosi yang unik: gerakan mengalir menunjukkan keterbukaan dan rasa aman, sementara gerak terputus-putus mengindikasikan ketegangan atau resistansi. Dalam Free’Soul Dance Challenge, saya melihat korelasi itu tampak jelas. Bahu yang berguncang, napas yang terengah, atau langkah yang mendadak berhenti sering kali tampil dalam gerak tarian yang merespons emosi negatif. Namun, tampak juga temuan yang seolah mengingkari teori itu: seorang peserta merespons prompt “lonely” dalam gerak mengentak-entak. Padahal, kesepian memiliki kelindan dengan kesunyian, kehampaan, kekosongan yang memungkinkan manusia memaknai situasi dan ruang sebagai ‘lengang’.
Dalam perspektif psikologi humanistik, pengalaman tersebut dapat dibaca sebagai bentuk katarsis, yakni pelepasan emosi terpendam melalui ekspresi simbolik. Sigmund Freud, bapak psikoanalisis, menyebut katarsis sebagai proses pemurnian emosi melalui tindakan, yang oleh banyak psikolog modern diberi penekanan dalam nilai terapeutiknya bagi keseimbangan afektif. Tari, dalam hal ini, menjadi wadah aman untuk “menyelesaikan” konflik batin yang sulit disadari.
Namun, emosi tidak hanya hadir dalam kesunyian tubuh individual. Dalam segmen Battle Tari Tradisional Tradiporary, ketegangan dan adrenalin berpadu dalam nuansa tradisi. Sejak mula, kompetisi ini mengingatkan kita—yang ahli dan yang awam—pada battle dance hip-hop, yang telah lama menjadi sarana penyaluran energi kolektif melalui duel simbolik. Dalam Tradiporary, para penari saling menantang dengan kreativitas dan penguasaan lenggok ragam budaya: gerak pencak silat khas Betawi, tari piring khas Minang, hingga tari-tarian perang yang menggunakan busur dan anak panah.
Dalam suasana penuh riuh-sorak, terlihat bagaimana pertarungan di panggung berubah menjadi bentuk katarsis bersama. Para penonton ikut terlibat secara emosional; tertawa, berseru, menyalurkan energi melalui dukungan. Freud menyebut katarsis sebagai pelepasan emosi melalui tindakan. Di sini, tindakan itu bersifat sosial. Battle Tradiporary menciptakan ruang aman bagi ekspresi kompetitif—sebuah kanal untuk menyalurkan intensitas psikis ke arah kreatif.
Menari Bersama: Menemukan Koneksi di Tengah Kota yang Sibuk
Jakarta, dengan ritme yang cepat dan jarak sosial yang sering kali sulit ditakar, kerap terbata-bata dalam menyediakan ruang bagi warganya untuk benar-benar hadir bersama. Namun, sore itu, didukung tata ruang Teater Wahyu Sihombing di Taman Ismail Marzuki yang menghapus jarak antara penampil dan penonton, Jakarta Menari Bersama mengubah perasaan asing yang kerap menguar di ruang publik menjadi arena keintiman yang tak terduga. Tanpa sekat apa pun, termasuk usia. Puluhan tubuh bergerak serentak tanpa panduan koreografi tunggal.
Bagi seseorang yang dekat dengan keilmuan psikologi, pemandangan ini menghadirkan potret social synchrony, sebuah konsep psikologi sosial yang berarti keselarasan ritme antarindividu dalam suatu kelompok. Social synchrony memungkinkan seseorang untuk terhubung, tidak hanya satu individu terhadap individu lain, tetapi juga sebagai gerak kolektif yang “menarikan” ritme kelompok. Ketika sekelompok orang menari bersama, batas antara “aku” dan “kita” perlahan kabur; gerak kolektif melatih empati somatik: tubuh belajar mengenali tubuh lain. Lebih jauh, sinkronisasi gerak meningkatkan kadar endorfin dan oksitosin, hormon yang berperan dalam hadirnya perasaan gembira dan kelekatan.
Jakarta Menari Bersama tidak hanya menyajikan tontonan, tetapi juga ruang partisipasi. Dalam Free’Soul Dance Challenge, para peserta duduk berjajar, tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga saksi bagi gerak penari yang sedang tampil. Mata beradu tatap dengan tubuh, seolah keduanya berbicara dengan bahasanya sendiri. Meski bertajuk kompetisi, para peserta justru menjadi pendukung utama bagi peserta lainnya. Mereka bersorak, bahkan berdecak kagum bersama saat penari menampilkan gerakan memikat. Momen-momen sederhana ini menciptakan apa yang disebut psikolog sosial Albert Bandura sebagai vicarious experience, pengalaman emosional yang muncul dari melihat orang lain mengekspresikan diri, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa keberanian dan keyakinan dalam diri bagi mereka yang menunggu giliran tampil.
Fenomena serupa juga tampak dalam Battle Tradiporary. Di balik format “pertarungan”, para penari justru memperlihatkan rasa hormat dan kekaguman terhadap lawan. Dalam keagungan suasana tradisi, alih-alih menajamkan sekat, pertarungan ini justru membangun rasa ingin tahu dan penghargaan. Para penari tentu memahami bahwa kompetisi tidak selalu tentang menang-kalah, sering kali justru menjadi sarana afiliasi sosial yang kuat. Dalam konteks kota yang kerap menekan, menghimpit, dan memaksa individu untuk bertahan, pengalaman menari bersama seakan menjadi jeda psikologis melalui upaya koneksi antar tubuh.
Menari di Tengah Kota: Arsip Identitas dan Kesehatan Mental Masyarakat Urban
Tidak berlebihan jika kita katakan hidup di kota besar seperti Jakarta kerap terasa seperti hidup dalam keterputusan; terputus dari alam, dari ritme tubuh, bahkan dari diri itu sendiri. Tuntutan untuk terus produktif membentuk lanskap psikis yang lunglai, terdehidrasi dan terfragmentasi. Dalam konteks ini, isu kesehatan mental masyarakat urban tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai persoalan stres individual, tetapi lebih mendesak lagi, tentang ekosistem kota yang membuat orang kehilangan ruang untuk hadir utuh. Jakarta Menari Bersama hadir sebagai suaka terhadap “dehidrasi” tersebut: sebuah ajakan untuk mendengarkan tubuh melalui menari.
Menariknya, pada babak final Free’Soul Dance Challenge, keenam finalis diminta menari dengan merespons prompt berikut: “Dance with Your God”, sebuah ajakan untuk menari bukan demi penilaian, melainkan demi sebuah perjumpaan. Seperti yang disampaikan Yessy Hutabarat, founder Jakarta Amara Creative Center (JACC), mewakili dewan juri, “Menarilah dengan jujur. Express, not impress!” Dengan masukan seperti itu, penonton dibuat terpana oleh apa yang ditampilkan oleh para penari—mereka bergerak dengan intensitas yang sulit dijelaskan kata. Sebuah pesona teatrikal diterjemahkan lewat tarian: menunduk khusyuk, berputar liar, menatap langit dengan tubuh gemetar. Pada momen itu, menari menjelma bentuk doa; tubuh menjadi ruang spiritual yang aktif.
Pengalaman seperti ini menyentuh dimensi self-transcendence, yakni kemampuan individu untuk melampaui batas dirinya dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar: Tuhan dan makna hidup itu sendiri. Viktor Frankl, psikiater Austria yang masyhur lewat buku Men’s Search for Meaning, menyebutnya sebagai kebutuhan fundamental manusia untuk menemukan makna, yang jika terpenuhi, berperan besar dalam menjaga kesehatan mental. Dalam konteks urban yang sering membuat individu kehilangan arah, “menari dengan Tuhan” dapat dibaca sebagai metafora: pertemuan antara manusia dan sesuatu yang mempunyai daya menyembuhkan.
Lebih jauh, yang membuat Jakarta Menari Bersama signifikan adalah caranya menautkan kesehatan mental dengan identitas budaya. Dalam Battle Tradiporary, tubuh para penari membawa ingatan ragam gerak tradisi Indonesia ke ruang kota hari ini; yang modern dan cair. Setiap gerak menjadi bentuk arsip hidup tentang asal-usul yang menolak hilang dan bertransformasi lewat semangat para peserta yang didominasi para penari muda. Di sinilah tari menjadi pertemuan antara psikologi dan budaya: tubuh berperan sebagai arsip, penegas bahwa setiap manusia urban menanggung sejarahnya masing-masing.
Akhirnya, dalam masyarakat yang cenderung memuja efisiensi, menari menjadi bentuk perlawanan halus terhadap alienasi. “Dance Dialogue” yang dipilih sebagai tema Jakarta Menari Bersama tahun ini memberi alternatif bahwa kesehatan mental tidak hanya bisa ditempuh lewat percakapan antara pasien dan terapis, tetapi juga lewat percakapan antara tubuh fisik dan tubuh transendensi. Menari di tengah kota menjadi cara untuk menegosiasikan identitas di bawah kekuasaan modernitas; menemukan keseimbangan antara menjadi warga urban sambil tetap berpijak pada jejak kolektif yang membentuk diri.
Aya Canina
Penulis. Buku pertamanya, Ia Meminjam Wajah Puisi (Basabasi, 2020).






