Pengalaman Ketubuhan sebagai Sumber Pengetahuan
Dalam salah satu wawancaranya, Ocean Vuong (penyair Vietnam-Amerika) pernah bercerita tentang bagaimana praktik beragama dalam keluarganya berakar dari ritual dan perawatan. Kata Ocean, bagi keluarganya yang buta huruf, spiritualitas dimulai dengan perawatan dan berakar pada tubuh ragawi. Apa yang diungkapkan Ocean membuat saya berpikir ulang tentang teks sebagai medium penyebaran pengetahuan.
Tidak hanya menunjukkan bagaimana pengalaman ketubuhan bisa menjadi sarana mendapatkan pencerahan, Ocean juga mengungkapkan bahwa bahasa Inggris, yang dia gunakan untuk berkarya, justru membuat jaraknya dengan sang ibu yang tak bisa membaca itu kian jauh.
Ibu saya tidak buta huruf. Beliau bersekolah hingga kelas empat SD sebelum kemudian bekerja sebagai buruh pembersih lingkungan di sebuah perkebunan tempat keluarganya tinggal. Namun, saya tahu Ibu bukan pembaca. Buku bukan sumber pengetahuan yang bisa dengan mudah beliau akses.
Setelah menonton pertunjukan tari “LOR@ANG” karya Dedi Ronald Maniakori dan “PER:PUAN” karya Savika Refa Zahira, saya makin yakin bahwa tubuh dapat menjadi medium untuk bercerita. Bahkan boleh jadi, penyampaian pesan dan gagasan melalui tubuh bisa menjangkau orang-orang yang tak akrab dengan teks, dengan buku, seperti ibu saya.
Menonton dua karya tari yang menjadi bagian dari Open Studio CTRL + MOVE itu membuat saya sadar bahwa koreografi juga dapat dibaca sebagai sebuah cerita. Bedanya, narasi dan emosi disampaikan bukan dengan kata-kata, melainkan gerak tubuh, juga didukung oleh musik dan tata panggung.
Dalam konteks Indonesia, dengan tingkat literasi beragam, pendekatan ini menjadi signifikan. Tari dapat diposisikan bukan sebagai seni pertunjukan semata, melainkan medium alternatif untuk membagikan pengalaman dan membangun keterhubungan sebagai awal pembentukan solidaritas antarwarga.
Koreografi sebagai Medium Penyampai Narasi
“LOR@ANG” dan “PER:PUAN” dipertunjukkan di Studio Tari Tradisi, Taman Ismail Marzuki, pada Sabtu 18 Oktober 2025.
Dedi sudah mulai bercerita sejak penonton baru memasuki studio. Bukan dengan kata, melainkan melalui suara musik dengan ketukan yang rapat dan konstan. Awalnya, suara tersebut mengingatkan saya pada detak jantung. Namun, ketukannya yang begitu monoton membuat saya berpikir ulang. Itu bukan suara jantung manusia, atau paling tidak, bukan jantung makhluk hidup. Suara tanpa dinamika itu terasa begitu mekanis—dingin dan robotik.
Termasuk Dedi sendiri, ada tiga orang yang menarikan “LOR@ANG”. Koreografinya dipenuhi dengan gerakan-gerakan rapat, repetitif, dan bertempo cepat. Rangkaian gerakan itu memang sering diakhiri dengan satu gestur bertempo lambat. Namun, ketika dibandingkan dengan keseluruhan koreografi, ketimpangan proporsinya begitu kentara. Selain itu, yang dapat terbaca dengan jelas juga bagaimana ketiga tubuh penari berinteraksi. Gerakan-gerakan berulang itu tidak muncul begitu saja, tetapi juga ditularkan dari satu penari ke penari lain. Di salah satu bagian, ketiga tubuh berjalan dalam satu barisan kemudian saling memberi tanda. Ketika satu tubuh berbelok, tubuh lain mengikuti. Tubuh-tubuh para penari seolah saling memperhatikan, mempelajari, bernegosiasi, kemudian saling menyesuaikan diri—menyamakan diri. Dengan musik dan gerakan, Dedi berhasil membangun suasana, interaksi, bahkan konflik dalam cerita meski tanpa kata-kata.
Menyimak tubuh-tubuh penari dalam “LOR@ANG”, membuat saya teringat pada pengalaman sebagai perantau dari kecamatan kecil di ujung selatan Bandung yang datang ke Jakarta. Sebagaimana tubuh-tubuh para penari itu saling membaca dan menyesuaikan, saya juga mempelajari gerak-gerik orang-orang Jakarta lalu mencoba menyamakan diri: mengantre di halte JakLingko, berebut tempat di kereta Commuter (juga menaruh tas di depan dan memastikan tak menyimpan dompet di kantung belakang celana), jalan cepat-cepat dari Stasiun Cikini ke Perpustakaan Jakarta agar kebagian tempat duduk yang dilengkapi colokan listrik. Ternyata, meski tanpa kata-kata yang menjelaskan secara langsung, tubuh saya bisa mengenali pengalaman yang dibagikan tubuh para penari itu.
***
Ibu saya punya empat orang anak, dua laki-laki, dua perempuan. Namun di antara semuanya, Ibu paling sering membagikan ceritanya pada saya, bahkan dibanding anak perempuannya sendiri. Beliau bercerita tentang bagaimana tubuhnya berubah setelah mengonsumsi pil kontrasepsi, proses persalinannya yang berat, hingga tubuhnya yang selalu terasa gerah ketika memasuki masa menopause.
Meski demikian, sebagai manusia dengan tubuh laki-laki, cerita itu lebih banyak sampai pada saya sebagai informasi belaka. Saya kesulitan untuk benar-benar membayangkan sensasi yang dialami oleh tubuh Ibu—rasa sakitnya, lukanya, perubahan-perubahannya. Saya masih merinding ketika membaca penggambaran proses persalinan di buku Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma, misalnya.
Sensasi itu kembali saya rasakan ketika menonton “PER:PUAN” yang ditarikan sendiri oleh Savika Refa Zahira. Dia memulai tariannya dengan gerakan-gerakan lembut dan dekat sekali dengan tubuhnya, seperti sedang memeriksa apa yang ada dalam dirinya. Dari paha, ke pinggang, ke dada, ke kepala. Gerakan itu terasa intim, apalagi Savika melakukannya di pojok belakang, seolah-olah dia melakukannya memang untuk diri sendiri, bukan untuk konsumsi penonton.
Sama seperti dalam kebanyakan cerita, saya juga menemukan progresi narasi dalam tarian Savika. Tubuhnya yang semula ada di pojok kemudian berpindah tempat, jadi lebih dekat dengan audiens. Makin dekat jarak antara Savika dan penonton, gerakan-gerakannya menjadi lebih besar, lebih dinamis, lebih meledak-ledak. Sangat kontras dengan gerakan-gerakan yang dia lakukan di awal. Saya menangkap kesan bahwa gerakan-gerakan itu asing bahkan bagi tubuhnya sendiri, seolah semua itu berasal bukan dari dirinya. Seperti ada dorongan yang memaksa Savika, merasukinya untuk melakukan manuver-manuver yang, setidaknya dalam penglihatan saya, begitu melelahkan, menghisap banyak energi dari tubuhnya.
Saya merinding. Jadi seperti itukah rasanya menjadi perempuan? Orang-orang menuntutmu untuk menjadi cantik, sementara tubuhmu harus menanggung banyak pengalaman tak menyenangkan—bahkan menyakitkan?
Saya bukan tidak pernah mendengar atau membaca pengalaman perempuan yang hidup di masyarakat patriarkis seperti Indonesia, tetapi menyaksikan tubuh Savika bercerita tetap memberikan kesadaran yang berbeda. Sebagai pembaca, saya menikmati kisah-kisah yang membuat saya merasakan emosi tertentu. Tubuh dan koreografi yang ditampilkan dalam “PER:PUAN” berhasil melakukan hal itu.
Membangun Solidaritas Lewat Tari sebagai Alternatif Bacaan
Indonesia adalah negara besar dengan permasalahan yang kompleks, termasuk masalah ruang dan perkotaan yang diceritakan dalam “LOR@ANG” serta isu-isu perempuan yang disampaikan dalam “PER:PUAN”. Perubahan membutuhkan kesadaran kolektif, tetapi realitas menunjukkan bahwa masyarakat masih kerap terbelah ketimbang bersatu. Setidaknya itu yang tampak di media sosial. Tidak tanggung-tanggung, sesama warga dunia maya, kita sendiri sering mengelompokkan orang berdasarkan media sosial yang mereka gunakan. Konon, warga X lebih bisa mengkritisi pemerintahan dan menuntut perubahan ketimbang warga TikTok yang dianggap belum semelek dan sekritis pengguna X.
Selain itu, persoalan literasi juga menjadi tantangan serius. Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto, Guru Besar Fakultas Filsafat di Universitas Parahyangan, menyampaikan dalam pembukaan Bandung Readers Festival 2019 bahwa banyak masyarakat Indonesia yang functionally illiterate. Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), menunjukkan hampir 70% orang dewasa di Jakarta berada di tingkat literasi dasar. Artinya, mereka hanya mampu membaca teks singkat tentang topik yang familier atau tulisan dengan satu informasi spesifik.
Tentu, kerja-kerja untuk meningkatkan literasi warga tetap penting dan perlu terus digalakkan. Namun, bagaimana jika kita juga mulai menggunakan tarian sebagai alternatif bacaan? Paling tidak untuk membangun kesadaran bahwa apa yang dirasakan oleh tubuh kita juga dirasakan tubuh-tubuh lain. Bahwa rutinitas kota yang menjebak kita dalam rutinitas melelahkan itu juga dirasakan ribuan tubuh lain. Bahwa jerat-jerat yang membatasi tubuh seorang perempuan juga dirasakan oleh jutaaan tubuh perempuan yang lain?
Alih-alih berharap Ibu saya suatu hari (entah kapan) bisa membaca karya-karya Okky Madasari atau Ayu Utami, saya bisa mengajaknya menonton pertunjukan tari dan mendengar senimannya bercerita.
Jika tubuh kita sudah mulai bisa saling bercermin, saling membaca, kita bisa mulai percaya bahwa kita tak sendirian. Bahwa kesulitan-kesulitan yang kita alami sebagai warga negara tak perlu terus kita tanggung dalam sunyi. Bahwa kita bisa bersolidaritas, menyatukan tubuh, dan bersama-sama menuntut perubahan, menagih perbaikan.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa membawa tarian seperti “LOR@ANG” dan “PER:PUAN” lebih dekat dengan masyarakat luas? Bagaimana kita bisa mengupayakan agar ada lebih banyak tubuh yang bisa mendengar cerita Dedi, Savika, dan penari-penari lainnya?
Bagaimana agar ibu saya yang selama ini hanya menonton tari di panggung hajatan atau tujuh belasan juga bisa melihat dirinya dalam tubuh-tubuh penari yang tidak hanya menyediakan hiburan, tetapi juga menyampaikan cerita dan gagasan? Tubuh-tubuh yang berkata: kita berbagi pengalaman, dan karenanya kita juga bisa berbagi kekuatan.
Referensi:
- https://onbeing.org/programs/ocean-vuong-a-life-worthy-of-our-breath-2022/https://onbeing.org/programs/ocean-vuong-a-life-worthy-of-our-breath-2022/
- https://www.youtube.com/watch?v=EVUuM2BIr34
- https://www.oecd.org/content/dam/oecd/en/about/programmes/edu/piaac/country-specific-material/cycle-1/Jakarta-Indonesia-Note.pdf
Yoga Palwaguna
Penulis. Buku pertamanya, Misi Menggagalkan Doa (Langgam Pustaka, 2025)






