Sebagai seorang aktor, saya terbiasa memahami tubuh tidak sekadar sebagai instrumen estetika, tetapi sumber kehidupan pertunjukan itu sendiri. Dalam dunia teater, tubuh aktor adalah ruang pengetahuan, ruang yang menyimpan ingatan, luka, dan cara bertahan.
Maka, ketika menyaksikan pertunjukan tari CTRL + MOVE (15 Oktober 2025 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki), saya sedang melihat tubuh-tubuh yang bekerja seperti aktor. Dengan menanggung kesadaran, mengolah pengalaman, dan mencipta makna dari gerak.
Ketubuhan Perempuan dan Metode Aktor
“Creature: Dancing Bodies” karya Rizqi Amalia Kamila memperlihatkan tubuh manusia sebagai organisme yang sering dan selalu berpikir. Sebagai aktor perempuan, saya melihat karya ini sebagai refleksi tentang tubuh yang selalu menyadari dirinya sebagai alat dan sekaligus menjadi isi. Tubuh yang belajar dari dalam, bukan dari instruksi luar.
Jika dalam metode Konstantin Stanislavski, aktor diharuskan membangun kejujuran emosi melalui ingatan afektif (affective memory), maka penari dalam karya ini seolah bekerja dengan ingatan biologisnya sendiri. Gerak tidak muncul dari ekspresi, tetapi dari denyut jantung, sistem saraf, dan ketegangan otot. Tubuh penari di sini bukan meniru perasaan, melainkan menjadi perasaan itu sendiri.
Saat pertunjukan berlangsung, saya teringat pada training aktor perempuan di mana tubuh sering menjadi medan negosiasi antara hasrat dan kepatuhan. Dalam “Creature: Dancing Bodies”, tubuh perempuan bukan lagi tubuh yang dipandang, melainkan tubuh yang mengamati dirinya sendiri. Ini dekat dengan teori Eugenio Barba tentang pre-expressivity: bahwa tubuh aktor bekerja dengan energi yang muncul sebelum ekspresi terbentuk. Ia menolak peran sosial, menolak bentuk yang sudah ditentukan, dan memilih bekerja dari lapisan terdalam geraknya dengan lapisan tempat kesadaran tubuh perempuan bertumbuh.
Namun, dalam konteks keaktoran, karya ini mengingatkan bahwa latihan tidak sekadar membentuk tubuh agar bisa tampil, tetapi tubuh mampu menjadi ruang kesadaran. Di sinilah tubuh aktor dan tubuh penari saling bertemu, yaitu keduanya adalah ruang latihan, ruang tumbuh, dan ruang perlawanan terhadap bentuk-bentuk yang membatasi.
Tubuh, Arsip, dan Resistansi
Siti Alisa dalam karyanya, “Unbodying Fragments: A Lecture Performance”, menjadi titik temu yang paling kuat antara dunia tari dan dunia teater. Dalam karya ini, semua dari bagian tubuh tidak hanya melakukan, tetapi juga berbicara. Ia mengajar, menjelaskan, menafsirkan, bahkan membongkar dirinya sendiri.
Sebagai aktor yang juga berkarya dalam bentuk lecture performance, saya memahami bagaimana tindakan mampu menjelaskan sesuatu di atas panggung adalah juga bentuk dari keaktoran reflektif, yaitu aktor tidak lagi memerankan tokoh, tetapi memerankan dirinya sendiri yang sedang berpikir. Tubuh penari-aktor dalam “Unbodying Fragments” menjadi tubuh yang menulis ulang sejarahnya sendiri: tubuh yang dibentuk oleh disiplin balet, tetapi kini berusaha membebaskan diri dari bentuk itu.
Dalam teori teater kontemporer, khususnya Hans-Thies Lehmann (Postdramatic Theatre), tubuh seperti ini adalah tubuh yang tidak tunduk pada struktur dramatik, tetapi tubuh yang selalu berusaha menegosiasikan identitas dan ingatan di depan penonton. “Unbodying Fragments” adalah tindakan dekolonisasi tubuh, seperti aktor yang memutuskan keluar dari teks dan berbicara dengan bahasa tubuhnya sendiri dengan mengambil keputusannya sendiri juga.
Bagi aktor perempuan, ini adalah wilayah yang begitu politis. Tubuh di panggung bukan lagi alat representasi, melainkan sebagai arsip yang bisa hidup. Ia memanggul sejarah peran domestik, latihan keras, dan sistem nilai yang membentuknya. Dalam keaktoran, arsip tidak hanya catatan tertulis, tetapi memori yang melekat di tubuh: bagaimana cara tubuh menunduk, tangan menahan, dan bagaimana napas menegangkan dada. Semua itu adalah arsip performatif. Maka, tubuh perempuan di panggung baik dalam teater maupun tari adalah tubuh yang sedang menulis ulang sejarah dirinya sendiri.
Tubuh Aktor dalam Ketegangan antara Kontrol dan Gerak
“PAGE 404” karya Rifa Arrahmi Annida memperlihatkan tubuh yang terkunci di dalam sistem, seperti aktor yang berusaha mencari ruang untuk bernapas di dalam panggung yang sempit. Dalam istilah Jerzy Grotowski yaitu the total act, tubuh semacam ini adalah tubuh yang berkorban sebagai tubuh yang menyingkirkan segala bentuk representasi untuk menemukan tubuh sejati. Tubuh para penari dalam karya ini seperti sedang “mencari diri” di tengah bisingnya data, visual, dan suara digital yang mendikte arah mereka. Tubuh mereka seperti tubuh aktor yang berjuang menembus tembok psikologis peran. Mereka tidak hanya bergerak, tetapi juga menolak.
Di sinilah muncul ketegangan antara CTRL (kendali) dan MOVE (gerak). Dalam teater, kendali adalah keadaan kesadaran teknik seorang aktor mengatur napas, tempo, pusat tubuh, dan niat dalam setiap aksi. Sementara itu, gerak adalah momen ketika kesadaran itu sengaja dilepaskan, dan tubuh dibiarkan menuntun pengalaman. Ketika keduanya bersinggungan, di situlah keaktoran lahir. “PAGE 404” menunjukkan tubuh yang sedang mencari cara untuk tetap hidup di dalam kendali sosial dan itulah peristiwa teater yang paling jujur: tubuh yang tidak menyerah.
Jika keaktoran adalah seni keberadaan, CTRL + MOVE adalah arsip tentang bagaimana perempuan terus “ada”, bahkan ketika dunia dan seisinya selalu mencoba mengatur cara mereka bergerak.
Aulia Detha Amalia
Pengajar dan seniman






