Percakapan Tubuh Urban: Tradiporary dan Free’Soul
Pada Jakarta Menari Bersama Vol.4 (18 Oktober 2025), tubuh-tubuh dari berbagai latar tari hadir tidak sekadar menampilkan keterampilan, tetapi untuk membangun percakapan melalui gerak. Di Teater Wahyu Sihombing, pertemuan antara tradisi, modern, dan kontemporer melahirkan dialektika tubuh urban: cair, dinamis, dan penuh negosiasi. Tubuh-tubuh tersebut saling menyapa, bertukar ritme, sesekali beradu energi, dan berdialog tanpa kata yang mencerminkan kehidupan kota Jakarta itu sendiri. Percakapan tubuh ini tidak berhenti pada estetika, tetapi bergerak menuju ranah sosial, menjadi medium komunikasi antarpengalaman dan cara pandang.
Segmen Tradiporary Dance Battle menandai momentum penting dalam perkembangan tari kontemporer. Format yang menggabungkan nilai tradisi dengan semangat battle khas hip-hop membuka ruang hibrida, tempat tubuh-tubuh tradisi memasuki arena urban tanpa kehilangan akar maknanya. Tradiporary sendiri merupakan persilangan antara dance battle konvensional dan format 7 to smoke battle, yang berlangsung melalui beberapa babak, mulai dari preliminary, 16 besar, hingga delapan besar yang menggunakan format 7 to smoke. Setiap tahap menghadirkan percakapan yang makin intens antara tradisi dan improvisasi, menjadikan Tradiporary tidak sekadar kompetisi, tetapi perayaan tradisi yang terus menegosiasikan eksistensinya dalam ekosistem tari.
Sebagian besar penari menampilkan pola gerak tradisi yang kuat, relatif stabil, masih berpijak pada bentuk sanggar dan komunitasnya. Gerak tersebut merefleksikan jejak sosial yang membentuk mereka. Namun, pengamatan lebih dekat menunjukkan adanya sejumlah penari yang melakukan eksplorasi tubuh yang cukup berani. Mereka melakukan penjelajahan tubuh yang lebih bebas serta keluar dari lingkaran sosialnya, menafsir ulang tradisi melalui kesadaran tubuh yang lebih reflektif. Di sini, tampak tanda-tanda evolusi: bagaimana tubuh tradisional beradaptasi dengan konteks urban; menunjukkan bagaimana inovasi tidak selalu berarti memutus tradisi, tetapi memperluas pembacaannya.
Salah satu penari, Boby Ari Setiawan, menciptakan momen signifikan dalam battle. Melalui ragam geraknya, tubuhnya seolah menggiring percakapan—bahkan perdebatan—di antara penonton dan penari lain. Ia memperlihatkan bagaimana tubuh bisa berfungsi sebagai argumen yang hidup, tidak sekadar medium pertunjukan.
Dalam skena battle, aspek mentalitas menjadi sama pentingnya dengan teknik: kepercayaan diri, ketangguhan, dan kemampuan merespons spontanitas lawan. Nilai ini merupakan fondasi dari budaya hip hop battle, yang memandang kompetisi tidak hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana seseorang menghadirkan diri secara utuh. Dalam Tradiporary Battle, aspek mentalitas ini tampak tumbuh. Selain menampilkan gerak, penari juga membangun energi dialogis di atas panggung.
Menariknya, percakapan tubuh di Tradiporary tidak hanya terjadi antarpenari, tetapi juga dengan musik eksperimental yang menjadi pendukung utama. Musik menuntut respons spontan, tidak hanya menyelaraskan ketukan dan beradaptasi dengan perubahan ritme. Ia mendengarkan perasaan yang tersembunyi di antara ritme. “Feel the music to move and make others feel” menjadi semacam asas etik dalam Tradiporary. Di sini, musik tidak hanya sebagai latar, ia mitra percakapan yang menuntut kepekaan, refleks, dan intuisi.
Lebih jauh, percakapan tersebut juga berlangsung di tingkat batin. Sebagian penari tampak membangun dialog internal antara tubuh dan kesadaran, antara tradisi yang dibawa dan konteks baru yang dihadapi. Percakapan tubuh meluas: penari berkomunikasi tidak hanya dengan lawan tanding, tetapi juga dengan juri dan penonton. Intensitas komunikasi dengan juri lebih kuat, menandakan relasi kuasa dalam struktur kompetisi yang menuntut pengakuan nilai. Namun, pada saat yang sama, tubuh-tubuh itu juga berbicara pada publik, seolah mengajak penonton ikut memahami konteks sosial dan budaya yang mereka bawa ke dalam arena.
Secara keseluruhan, peristiwa Tradiporary memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisi dapat dibagikan dalam ragam bahasa tubuh yang baru. Ia menjadi ruang belajar bersama di mana tradisi dan inovasi tidak saling meniadakan, tetapi memperkaya satu sama lain. Percakapan tubuh urban di sini tampak estetis dan juga epistemologis: ia memproduksi cara baru memahami hubungan antara masa lalu dan masa kini, antara akar dan cabang, antara lokal dan global.
Berbeda dengan Tradiporary, segmen Free’Soul Dance Challenge menghadirkan wajah yang lebih personal, reflektif, dan spiritual. Formatnya menyerupai solo showcase dan battle royale, dengan formasi lingkaran yang membentuk semacam ritus kolektif. Dalam ruang itu, tubuh-tubuh menyalurkan energi, emosi, dan pengalaman batin mereka di hadapan publik.
Improvisasi menjadi prinsip utama. Setiap penari membangun ruangnya sendiri, menjadikan panggung sebagai ekstensi dari tubuhnya. Pada babak final, ketika juri Yessy Hutabarat mengajukan pertanyaan, “Apa yang ingin kamu sampaikan kepada Tuhan?”, sehingga tubuh penari pun berubah menjadi medium doa yang terbuka. Gerak tidak lagi hanya berbicara kepada audiens, tetapi juga kepada entitas yang lebih tinggi.
Di titik ini, baik Tradiporary maupun Free’Soul memperlihatkan bahwa tubuh tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan konteks sosial, spiritual, dan lingkungan yang melingkupinya. Tubuh menjadi ruang pengetahuan yang hidup—menggabungkan pengalaman tradisi, modernitas, dan spiritualitas dalam satu tarikan napas.
Dari Arena Battle ke Lanskap Sosial Kota
Jika Tradiporary dan Free’Soul menunjukkan bentuk percakapan tubuh dalam arena pertunjukan, maka pada tataran yang lebih luas, peristiwa ini mencerminkan cara masyarakat kota bernegosiasi dengan keberagaman. Jakarta Menari Bersama menampilkan Jakarta sebagai ruang koreografi sosial, tubuh-tubuh dari berbagai latar budaya dan estetika hidup berdampingan, saling memengaruhi, dan saling belajar.
Arena battle dalam Tradiporary dapat dibaca sebagai miniatur dari kehidupan kota: kompetitif, dinamis, tetapi juga komunikatif. Tubuh penari yang berhadapan dengan musik eksperimental dan format improvisasi menggambarkan cara warga kota beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Sementara Free’Soul merepresentasikan sisi introspektif masyarakat urban, bagaimana individu berusaha menemukan makna spiritual di tengah kebisingan sosial.
Dalam kerangka koreografi sosial sebagaimana yang didiskusikan oleh Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, kedua segmen ini mengilustrasikan bagaimana perilaku sosial bisa dibaca melalui tubuh. Koreografi tidak lagi terbatas pada susunan gerak, tetapi mencakup struktur relasi antarmanusia. Jakarta Menari Bersama menghadirkan relasi itu secara konkret: antara sanggar tradisi dan komunitas urban, antara penonton dan pelaku, antara institusi dan inisiatif mandiri.
Dengan demikian, apa yang tampak di panggung Jakarta Menari Bersama tidak terlepas dari realitas sosial di luarnya. Tubuh-tubuh yang menari adalah cerminan tubuh sosial Jakarta: bergerak di antara ketegangan dan harmoni, antara kompetisi dan kolaborasi. Dalam hal ini seni pertunjukan dapat berfungsi sebagai model kehidupan sosial, sebuah ruang eksperimental untuk belajar hidup bersama dalam keberagaman.
Tubuh sebagai Arsip Hidup dan Ruang Kebersamaan
Pengalaman menonton Jakarta Menari Bersama membuka kesadaran bahwa tubuh-tubuh di panggung tidak sekadar representasi estetis, tetapi arsip hidup yang menyimpan memori sosial, spiritual, dan budaya. Setiap gerak adalah bentuk penyimpanan dan sekaligus pembaruan pengetahuan. Tubuh-tubuh itu menjadi teks terbuka, tempat nilai-nilai kolektif masyarakat kota tercermin dan diuji ulang.
Konsep arsip hidup yang diusung Telisik Tari 2025 menemukan relevansinya di sini. Melalui Tradiporary dan Free’Soul, tubuh menghadirkan jejak waktu masa lalu yang masih hidup, dan masa kini yang terus menafsir. Ketika penari menari dengan mandau atau selendang, atau ketika mereka menari dalam lingkaran hingga percakapan tubuh pada Tuhan, tubuh mereka memanggil memori yang jauh sekaligus memproyeksikan masa depan.
Fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk produksi pengetahuan kolektif. Tubuh tidak lagi menjadi objek tontonan, tetapi sumber pengetahuan yang memproduksi wacana baru tentang kebersamaan, spiritualitas, dan kreativitas urban. Dalam konteks Jakarta Menari Bersama, kebahagiaan kolektif tidak sekadar hasil acara festival, tetapi kesadaran bersama yang tumbuh dari pertemuan antartubuh yang berbeda.
Pada akhirnya, baik Tradiporary maupun Free’Soul memperlihatkan dua dimensi tubuh urban Jakarta: satu yang berakar pada tradisi dan sosialitas, satu lagi yang berorientasi pada spiritualitas dan pengalaman batin. Keduanya membentuk koreografi sosial yang utuh, sebuah laku bersama yang menegaskan bahwa menari adalah cara untuk mengenali diri, mengenali sesama, dan mengenali ruang hidup yang terus berubah.
Frans Junias Jugganza
Penari dan koreografer






