Waturaka adalah sebuah desa di Kabupaten Ende, hanya berjarak kurang lebih 4 kilometer dari Kelimutu, danau tiga warna yang menarik minat banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Desa Waturaka berada di Kecamatan Moni, suatu kawasan wisata yang memiliki banyak hotel, restoran, villa, dan homestay. Waturaka membentang di lembah Moni yang elok, dikelilingi bukit-bukit hijau, di antara persawahan dan kebun sayur yang subur. Di dataran tinggi yang dingin dan sejuk ini, orang-orang setempat setiap hari bertegur sapa dengan rupa-rupa wisatawan yang ingin mencicip indahnya danau keramat tersebut.
Saya pergi ke Waturaka, Oktober yang lalu, langsung disergap hawa dingin yang menusuk kulit, tetapi tak butuh waktu lama bagi siapa saja untuk jatuh hati pada hamparan alamnya yang rupawan. Perjalanan saya ke Waturaka semakin berkesan karena bertemu dengan seorang anak bernama Riana dan segerombolan kawan-kawannya. Sejenak mereka bak cerminan dari kehangatan orang-orang di kampung ini menerima siapa saja yang datang ke sana. Pertemuan ini kemudian membangkitkan kembali keresehan-keresahan yang selama ini mengusik, sekaligus menyalurkan energi lebih ke dalam diri saya untuk merenungkannya lagi.
Autentisitas yang Dipentaskan
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dari cara tubuh-tubuh kecil itu bergerak, dari cara kaki mereka menyentuh tanah, dari tawa yang pecah tanpa dibuat-buat. Senyum tulus mereka, dan ajakan polos— “Kaka, sini, sa kas tunjuk ada air panas di atas, dekat air terjun”—diucapkan dengan ringan, tanpa beban. Tidak ada tuntutan untuk menjual keindahan, tidak ada script hospitality yang dipelajari dari pelatihan desa wisata. Riana hanya ingin berbagi keajaiban kecil yang ia temukan di desanya. Ia tidak sedang mempresentasikan destinasi; ia sedang menjalani ketubuhannya: spontan, terbuka, dan bersinggungan secara jujur dengan dunia di sekitarnya.
Dalam momen sesingkat itu, saya merasa seperti disentuh oleh sesuatu yang lebih dalam daripada keramahan: keterhubungan tubuh antar-manusia. Kehangatan yang saya rasakan di dada bukan karena pemandangan, tetapi karena perjumpaan tubuh-ke-tubuh—gerak tangan kecil yang mengajak, langkah kakinya yang melompat ringan, mata yang menantikan respons saya.
Mungkin kebahagiaan memang bukan sesuatu yang megah. Mungkin ia adalah sensasi kecil dalam tubuh, perasaan menjadi bagian dari dunia, dan getaran komunitas yang hidup di antara manusia.
Dalam konteks pariwisata, pengalaman sederhana seperti ini menyingkap dimensi lain dari kebahagiaan: bukan kepuasan individual wisatawan, tetapi kebahagiaan kolektif yang lahir dari praktik berbagi, menyambut, dan saling menyentuh pengalaman hidup.
Keramahan yang hadir di industri pariwisata modern biasanya tersusun dari pelatihan—cara berdiri yang benar, senyum tiga detik, gerakan tangan yang anggun. Di banyak tempat, hospitalitas telah menjadi semacam ilmu yang diwariskan—excellence service yang melatih kepekaan tubuh, mengatur jarak dan tatapan, hospitality etiquette yang merapikan cara menyapa, guest relations yang merancang kesan pertama sehalus mungkin dan psychology of tourism yang mengajarkan bagaimana meredakan lelah yang dibawa tamu dari perjalanan panjang.
Semua pengetahuan ini membentuk koreografi keramahan yang rapi; sebuah tata laku tubuh yang diupayakan demi kenyamanan tamu—meski tak selalu selaras dengan irama diri yang paling jujur. Namun keramahan Riana lahir dari tubuh yang sudah terbiasa menjemput dunia dengan kejujuran.
Dari sini, saya mulai bertanya: Bagaimana ‘tubuh-tubuh’ masyarakat lokal berubah ketika pariwisata masuk? Bagaimana kebahagiaan kolektif mereka ikut digerakkan oleh ekspektasi eksternal? Dapatkah keramahan, yang sejatinya pengalaman tubuh, dikoreografikan seperti tarian?
Kebahagiaan yang Dikonstruksi
Kajian pariwisata menunjukkan bahwa autentisitas budaya tidak selalu muncul dengan sendirinya, tetapi sering dinegosiasikan. Dalam tulisannya, Tiberghien, Bremner, dan Milne (2017) melihat bagaimana performa budaya seringkali dipoles agar sesuai ekspektasi wisatawan. Pada titik ini, tubuh masyarakat lokal menjadi semacam panggung: gerakannya tidak lagi sepenuhnya milik mereka, tetapi sudah terbingkai oleh kebutuhan pasar.
Karyawan hotel, pemandu wisata, penenun—semua menampilkan kehangatan dengan pola yang seragam: senyum ramah, kepala sedikit menunduk, tangan terkatup.
Tubuh-tubuh yang awalnya bebas berbicara dalam bahasa keseharian kini dibentuk ulang oleh tuntutan industri. Senyum menjadi rutinitas. Gestur tubuh menjadi tugas. Keceriaan menjadi peran.
Ketika performa tubuh dipaksa berulang, kebahagiaan pun menjadi ilusi. Tubuh yang bekerja sepanjang hari untuk tampak ramah perlahan kehilangan hubungan organik dengan emosinya sendiri. Inilah saat ketika ketubuhan terasing: tubuh bergerak, tetapi perasaannya tertinggal.
Tubuh yang seharusnya jembatan pengalaman berubah menjadi alat produksi;
tubuh yang seharusnya tempat kejujuran berubah menjadi ruang staging.
Pariwisata modern bukan hanya mengatur ruang dan waktu; ia mengatur tubuh: bagaimana berdiri, bagaimana menyambut, bagaimana tersenyum, bagaimana menahan letih.
Ia menciptakan harmoni visual yang nyaman bagi wisatawan, tetapi kadang menyembunyikan kelelahan, keterpaksaan, atau jarak emosional. Dalam industri yang digerakkan oleh ekonomi, tubuh masyarakat lokal menjadi “permukaan” untuk citra budaya yang ingin dijual.
Tubuh menjadi komoditas. Ketubuhan menjadi konstruksi. Kebahagiaan menjadi performa.
Masyarakat lokal harus menyesuaikan gerak tubuh, bahasa tubuh, bahkan ekspresi wajah mereka demi selera pasar global. Yang di luar seolah ditubuhkan, dan yang asli kadang justru diasingkan.
Tuntutan atas autentisitas melahirkan perilaku seragam, kehilangan spontanitas tubuh yang seharusnya kaya interpretasi. Kita melihat tubuh-tubuh yang jinak, bukan tubuh yang hidup.
Namun, performa tidak selalu berarti kepalsuan. Banyak masyarakat lokal memanfaatkan ruang performatif ini sebagai suatu siasat: tubuh yang teratur bisa juga menjadi tubuh yang cerdas menghadapi perubahan.
Yosef Gervasius dan anggota sanggar di Bliran Sina sedang mencoba merajut kembali pengalaman tubuh yang lebih jujur. Mereka menolak pariwisata yang membuat tubuh hanya bergerak demi citra.
“Kami ingin wisatawan datang untuk belajar, bukan hanya menonton,” kata Yosef.
“Dan kebahagiaan hadir di antara benang yang dipintal, di antara tarian.”
Kunjungan pun diubah menjadi ruang partisipatif: wisatawan diajak menenun, memegang benang, merasakan tekstur kain, menumbuk warna, ikut menari ro’a mu’u bersama warga.
Di sini, tubuh wisatawan dan tubuh masyarakat lokal tidak dipisahkan oleh panggung, tetapi dipertemukan dalam pengalaman yang sama. Tubuh yang bekerja bukan lagi tubuh yang memerankan “keterbukaan”—melainkan tubuh yang berbagi ruang, berbagi makna, dan berbagi ritme.
Pariwisata, kata Yosef, dapat meningkatkan kesejahteraan dan mempertahankan kearifan lokal jika dijalankan dengan bijak. Dengan kata lain, pariwisata dapat menjadi tempat di mana tubuh tidak dipaksa, tetapi diberdayakan.
Pada akhirnya, pertemuan dengan Riana dan senyum sederhana yang ia berikan, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukan selalu soal pertunjukan yang megah atau pengalaman yang viral. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana, spontan, dan tulus — sesederhana seorang anak yang menunjuk air panas di dekat air terjun, sambil tersenyum dan membagikan kegembiraannya kepada orang lain. Dari sanalah, pariwisata dapat belajar: kebahagiaan kolektif yang sejati lahir dari kejujuran, keterlibatan, bukan sekadar koreografi yang dipaksakan.
Referensi
Cole, S. 2007. Beyond authenticity and commodification. In Tourism, Culture & Communication, 7(2).
Csordas, T. 1990. Embodiment as a paradigm for anthropology. Ethos, 18(1), 5–47
Picard, M. 1996. Bali: Cultural tourism and touristic culture. Archipelago Press.
Pritchard, A., & Morgan, N. 2006. Hospitality, power, and the body: Discourses of gendered hospitality. Ashgate
Tiberghien, G., Bremner, H., & Milne, S. 2017. Performance and authenticity in cultural tourism experiences. Tourism Geographies, 19(4), 620–637
Urry, J. 2002. The tourist gaze. Sage Publications.
Veijola, S., & Jokinen, E. 1994. The body in tourism. Theory, Culture & Society, 11(3), 125–151






