Hari itu Idulfitri, hari raya bagi umat Muslim. Hari penuh berkah setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan. Namun, pada hari keagamaan yang teramat istimewa itu, apakah ada yang pernah menemukan dan menyaksikan sebuah kerumunan orang berjoget dan bernyanyi lepas dan penuh kegembiraan?
Ternyata ada, dan saya berkesempatan mengalami hari yang tidak lazim itu. Hari yang tidak biasa itu merupakan perayaan Idulfitri tahun 2019 di Taiwan, bukan di Tanah Air. Karena hari raya itu selama ini saya kenal sebagai hari raya agama yang seharusnya dirayakan dalam semangat spiritual, maka perayaan yang diisi dengan jogetan dan musik dangdut menjadi terasa sangat ganjil. Ketika menginjakkan kaki di Keelung, salah satu kota pelabuhan di Taiwan, saya dikejutkan oleh sebuah panggung acara di depan pelabuhan yang berlatar laut, dihadirkan juga merah putih yang berkibar di samping panggung, dan keramaian itu disempurnakan oleh kerumunan teman-teman pekerja migran Indonesia. Pengalaman yang tidak biasa: hari raya di tanah yang jauh yang mengumpulkan pekerja migran Indonesia dalam kebahagiaan kolektif.
Di panggung itu, ada dua orang penari dari kelompok Uters Dance Taiwan: Indriati dan Ayu Masayu; dua perempuan ini menarikan Batik Grinsing, tarian yang berasal dari Batang, Jawa Tengah, tempat asal Indriati (akrab dipanggil Indri). Ia bercerita, tarian kreasi baru ini menceritakan proses pembuatan batik dan filosofinya. Gerakan tari, yang diiringi rekaman musik gamelan, terasa penuh makna, makna yang mewakili nilai-nilai luhur yang ditemukan dalam proses pembuatan batik: kesabaran, keikhlasan, dan keuletan. Menyaksikan Indri menari dan mendengarkan penjelasannya tentang makna tarian tersebut, saya sempat lupa bahwa dalam kesehariannya, Indri bekerja sebagai perawat lansia rumahan dengan tugas menjaga akong (kakek) di Taiwan.
Setelah Uters tampil, dangdut kemudian naik panggung. Dari dangdut garis lembut sampai dangdut koplo. Suasana berubah, penonton yang malu-malu mulai unjuk kebolehan. Mereka —para pemuda bersarung dan berkopiah—terlihat asik bergoyang dan tak lupa juga memberi saweran. Para perempuan berjilbab turut serta berjoget sembari merekam acara, berfoto dan melakukan video call bersama keluarga. Kakek dan nenek yang duduk di kursi roda juga terlihat terhibur. Saya akhirnya tergoda ikut berjoget bersama. Ternyata, energi tubuh yang menyimpan rasa senang itu memang menyebar dan menular. Meskipun, di balik kegembiraan, ada keharuan, ada tradisi yang jauh berbeda antara kampung halaman, Indonesia dan tanah asing, Taiwan.
Merantau, Kolektivitas, dan Ulang-Alik Pejalan Budaya
Idulfitri bagi kalangan pekerja migran bersinonim dengan tidak hadirnya ketupat buatan keluarga, sungkeman, dan saling berkunjung sesama saudara dan kerabat. Mayoritas pekerja migran Indonesia di Keelung bekerja sebagai anak buah kapal (ABK); para ABK akan melaut selama tiga bulan hingga setahun. Sedangkan perawat lansia—yang juga biasanya merangkap sebagai pembantu rumah tangga—hanya mendapat libur satu bulan satu kali. Alhasil, Idulfitri dengan sebutan halalbihalal menjadi festival seni sebagai perayaan bersama keluarga seperantauan dengan hiburan musik dan tari.
Istilah “merantau” merupakan istilah khusus dalam konsep migrasi. Merantau adalah gerakan perpindahan pekerja migran Indonesia ke luar kota atau luar negeri dalam mencari kerja (labour migration). Saya ingin menggunakan kata “merantau” dalam tulisan ini karena memiliki konotasi budaya tersendiri yang tidak mudah diterjemahkan dalam budaya Barat. Sosiolog asal Minangkabau, Mochtar Naim mengatakan, merantau berarti “pergi ke rantau” dengan tujuan mencari penghidupan dan pengalaman dengan maksud kembali pulang. Merantau sebagai gejala sosial yang berakar jauh memiliki ciri tetap, bahwa perantau selalu mengalami pengasosiasian dengan budaya lama. Sedangkan, bermukim di rantau hanyalah cara untuk mencapai tujuan merantau.
Di sisi lain, menyoroti apa yang dilakukan oleh para perantau di tempat baru yang melahirkan banyak komunitas seni budaya di Taiwan, seperti Uters Dance Taiwan, terungkap bahwa mereka yang bermigrasi itu, justru baru menemukan identitas yang sesungguhnya setelah pindah ke tempat lain dengan bekerja ulang-alik, pulang-pergi (commuter).
Budayawan Umar Kayam dalam bukunya, Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya, menegaskan bahwa “manusia Indonesia” adalah “pejalan budaya” (cultural commuter), yakni orang yang bergerak secara ulang-alik dari tradisionalitas ke modernitas, dari desa ke kota atau merantau ke luar seperti yang dilakukan personil Uters Dance Taiwan.
Bagi seorang pejalan budaya, merantau merupakan proses redefinisi identitas. Bahkan, melihat kasus Uters, terdapat reinterpretasi makna dari pekerja migran sebagai pejalan budaya, khususnya melalui tatapan luar dan pemaknaan yang dilabelkan, hal ini justru semakin menegaskan identitasnya pada diri mereka sebagai pekerja migran Indonesia.
Pada 2019, selama empat bulan saya menjalani residensi Trans Voice Project Indonesia-Taiwan untuk penelitian komunitas seni dari pekerja migran Indonesia. Saya berangkat dari pertanyaan awal perihal fungsi seni bagi komunitas seni pekerja migran tersebut. Bagaimana pekerja migran dipersepsi, diidentifikasi, dan disandingkan dengan ikon dari tradisional ke modernitas, dari luar untuk kembali ke dalam? Namun, ketika saya menilik lebih dalam, terutama secara khusus mengamati Uters Dance Taiwan, saya melihat bagaimana transformasi pengalaman tidak hanya terjadi ketika menjadi pekerja (labour), tetapi juga ditempuh melalui seni, sebuah cara yang menggembirakan (healing).
Kolektivitas sebagai suatu dimensi organisasi sosial merupakan hal pokok dalam studi masyarakat tentang perantauan buruh migran. Dalam perantauan manusia menciptakan “jaring-jaring makna”. Menurut antropolog, Clifford Geertz, tenunan jaring makna tersebut dapat diurai melalui pembacaan deskripsi tebal (thick description) melalui simbol dan laku ekspresi. Dengan demikian, mengamati Uters Dance Taiwan sebagai komunitas (kolektif), menurut saya, memiliki unsur inklusivitas, heterogenitas, dan keragaman tradisi dan pluralisme.
Uters, singkatan dari Universitas Terbuka, berdiri tahun 2012 sebagai organisasi nirlaba—keuangan selalu mengandalkan kas anggota hasil pentas—meskipun di bawah naungan Universitas Terbuka (UT) Indonesia di Taiwan dengan jargon romantisme nasionalis yang menarik, “Hilang Budaya Hilang Entitas Bangsa”. Melalui wawancara dengan Indriati, terungkap bahwa Uters berawal dari organisasi kampus yang didirikan oleh tiga orang pekerja migran: Rita, Indri, dan Brigitta yang saat itu merangkap kuliah di UT. Saat ini Uters sudah berjalan 13 tahun dan memiliki 14 anggota tetap. Setiap tahun perekrutan anggota diinformasikan lewat media sosial Facebook (UtersTaiwan), TikTok, dan Instagram. Tantangannya, menurut Indri, banyak yang mendaftar dan akhirnya banyak juga yang menghilang. Dapat dikatakan, sulit melakukan regenerasi personel setelah kontrak kerja selesai. Di samping itu, tantangan lain yang bersifat insidental adalah ketika orang tua yang dijaga mendadak masuk rumah sakit yang dampaknya adalah penari yang pekerjaannya mengurus orang tua ini tidak bisa pentas dan harus digantikan secara mendadak.
Menari, Rasa Bahagia Berkumpul (Keluarga)
“Menari adalah cara untuk mengekspresikan perasaan. Saat menari, tubuh bergerak mengikuti irama musik, membuat pikiran lebih rileks, hati bahagia, dan rasa percaya diri meningkat,” ungkap Rita Aristiani , salah seorang penari Uters asal Bandung.
Baik Rita maupun Indri tidak memiliki latar belakang formal sebagai penari, tetapi hampir semua personel Uters mampu mementaskan belasan tarian tradisional—penonton hanya mengenal semua tarian itu sebagai tarian Indonesia. Tubuh mereka serempak menarikan tarian Ratoh Jaroe- Aceh, Tari Dayak, Wonderland Indonesia, dan Genjring sebagai tari kreasi dengan modifikasi modern. Meminjam istilah reinvented tradition dari Eric Hobsbawm dan Terence Ranger—tarian yang ditiru lalu dikreasikan atau dimodifikasi—dengan perubahan koreografi tanpa merusak pakem.
Referensi koreografi tari diambil dari YouTube, di antara rasa lelah setelah bekerja, masing-masing anggota berlatih mandiri atau latihan virtual via daring. Ketika libur bersama, sebulan sekali, mereka baru menyesuaikan gerakan dan berinovasi dalam koreografi. Pertemuan tersebut juga tentu saja diisi dengan mengobrol dan menikmati makan bersama-sama.
“Menari, untuk saya pribadi, menciptakan perasaan senang, kalau untuk Uters menciptakan keluarga, kita kan seorang diri di sini (Taiwan),” jelas Indri menjelang tengah malam ketika ia dengan terbuka bersedia diwawancarai lewat telepon WhatsApp selepas bekerja. Indri menambahkan bahwa sebagai penari, ia harus tekun, rajin, dan punya imajinasi, agar saat menari bisa masuk ke tarian tersebut, tidak hanya menghafal gerak dan pentas saja.
Dalam tulisan “Menari, Jalan Pulang” (Kalam, 2025), Anastasia Melati Listyorini sebagai peneliti, seorang rekan juga teman yang sering kali mendampingi Uters Dance Taiwan melihat bahwa, tubuh pekerja migran Indonesia adalah versi lain dari tubuh yang menari, tubuh yang lelah tetapi tidak menyerah, tubuh yang jauh dari rumah tetapi tidak kehilangan rasa pulang. Melalui referensi yang diperoleh dari YouTube, teman dan ingatan masa kecil, tarian mereka terasa hidup, tidak dikekang oleh aturan estetika atau standar teknis. Ia lahir dari pengalaman, bukan dari institusi. Di sini, Melati melihat bagaimana tari sebagai praktik kultural bisa menjadi alat emansipasi dan penguatan diri. Pulang tidak hanya tentang kembali ke Indonesia, tetapi juga tentang membangun rumah dalam kebersamaan tubuh yang saling menguatkan, melalui tari.
Setidaknya dengan menari, juga sebagai pejalan budaya dan keluarga migran Indonesia, mereka dapat memandang dan mengalami kehidupan di perantauan dengan lebih gembira dan berwarna.






