Musim kemarau tak kunjung usai di wilayah Berau, Kalimantan Timur. Saat musim kemarau, angin menerpa kaleng-kaleng bekas susu kental manis yang dipasang menjulang di atas pematang sawah. Kaleng-kaleng itu menyuarakan kesedihan kepada Tuhan atas tanah yang kering; kaleng-kaleng seakan-akan berbicara lantang dengan bahasa manusia.
Di tengah burung-burung pemakan padi dan bunyi kaleng yang menakutkan, Inda terus menggerus beras yang tersisa. Dalam bahasa Banua inda berarti ‘ibu’. Saya bertanya tanaman apa yang ia campurkan dengan beras yang ia rendam sejak semalam? Ia mencoba menjawab tetapi mulutnya masih penuh dengan mantra-mantra.
Inda terus meracik bakal puppur dinginnya. Inda, kadang juga mencampurkan daun yang dirasa dingin untuk memberikan sensasi sejuk pada kulitnya dalam racikan puppur. Kalau di daerah lain menyebutnya daun naraseh. Tidak hanya daun, masyarakat adat Kutai misalnya, menggunakkan kayu bangkal untuk bahan puppurnya sehari-hari (Savitri, 2025). Tradisi ini dipandang oleh perempuan adat di Kalimantan dengan banyak khasiat. Salah satunya adalah dinilai efektif melindungi kulit dari paparan sinar matahari (Kusumanti, 2017). Di Berau, praktik bapuppur dilakukan perempuan-perempuan adat untuk merespons perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun terakhir.
Tubuh Perempuan dan Panas Ekstrem Sehari-Hari
Sejak tahun 2021, tahun saya kembali pulang ke kampung halaman, suhu di Kalimantan Timur memang makin panas. Tercatat melebihi 36°C setiap hari. Berau pun mengalami hampir seminggu tanpa hujan. Akibatnya, tumbuh-tumbuhan di sekitar jalan tertutup debu tanah, karena tidak ada tetes hujan yang jatuh di kawasan tersebut. Di saat yang sama, berita berlalu lalang mengumumkan informasi panas ekstrem beberapa pekan terakhir. Penelitian terdahulu bahkan menjelaskan bahwa kenaikan suhu harian di Berau menyebabkan lonjakan kematian dari sebesar 7,3–8,5 persen, atau setara dengan tambahan sekitar 101–118 kasus kematian pada tahun 2018 (Wolf, 2021 & Arif, 2023). Ketakutan bertambah, khususnya para petani yang terus dihantui.
Di daerah lainnya, terdapat mamak-mamak yang harus beradaptasi dengan kondisi ini. Di Kampung Merasak, perempuan Dayak Kenyah harus pergi bekerja lebih pagi untuk mengurus kebun kakao dan ladang padinya tiap hari. Sebagai petani perempuan, perubahan iklim begitu berdampak pada kehidupan mereka. Perlahan, kehidupan Mamak Ujang dan teman-temannya berubah karena fenomena ini. Mereka bangun lebih dini, memasak lebih cepat, mencuci sebelum fajar tiba, dan berangkat manugal sebelum terik memuncak. Ritme hidup pun mulai berubah.
Mamak-mamak juga menggunakan puppur saat melakukan aktivitas luar ruangan lainnya seperti memancing. Sebelum melakukan pekerjaan domestiknya, mamak-mamak menyiapkan adonan puppur dingin. Beberapa butir puppur kering ditaruh di dalam wadah kecil, dicampur air, lalu diaduk hingga menjadi cairan putih yang lembut. Dengan gerakan pelahan, mereka membalurkan puppur ke wajah, lengan, dan kaki yang akan terpapar langsung dengan matahari. Bila siang menjelang dan keringat membuat bedak mulai luntur, mereka akan kembali mengoleskannya pada tubuh mereka. Setelah selesai mengusapkan puppur dingin itu, mereka berkaca sebentar, memastikan puppur telah merata sempurna. Mereka tersenyum puas, lalu pergi bersama teman-teman perempuannya.
Mamak Ujang bilang, puppur dingin benar-benar menyenangkan hati dan pikiran kala panas begitu menyiksa. Artinya, perubahan iklim berimbas pada kehidupan perempuan. Shiva (2016) menjelaskan bahwa perempuan adat sering kali menjadi korban utama dan kelompok paling rentan terhadap kerusakan ekologi terjadi. Meskipun begitu, kebiasaan bapuppur tersebut menjadi semacam respon tubuh perempuan untuk bertahan dan melanjutkan hidup di tengah krisis iklim.
Dalam pandangan Hewitt (2005), gerak tubuh manusia adalah arsip hidup yang menunjukkan bagaimana kolektif bekerja, beroperasi, dan berelasi. Gerak tubuh saat berjalan, berhenti, bekerja, bertani, atau bapuppur bukanlah sebuah gestur yang acak. Gerakan tersebut secara natural membentuk koreografi sosial mengenai bagaimana ritual perlindungan, pertahanan, dan perawatan yang dilakukan oleh tubuh-tubuh perempuan adat. Tarian ini lahir dari tubuh yang terus menyesuaikan diri dengan alam yang berubah secara ekstrem dan tumbuh karena interaksi sehari-hari. Dengan kata lain, tarian ini tidak hanya dilihat sebagai arsip kebahagiaan kolektif semata, tetapi menjadi arsip ekologis yang sangat berharga.
Pembacaan Ulang Tradisi Bapuppur dalam Sun Protection 36°
Di wilayah pusat Kabupaten Berau, tradisi bapuppur belum sepenuhnya hilang. Beberapa perempuan memoleskan puppur dingin pada wajahnya untuk mempercantik kulit. Mereka meyakini, bapuppur dapat mengencangkan dan memutihkan wajah. Kosmetik tradisional memang memegang peranan penting dalam perawatan diri dan praktik budaya dalam konteks masyarakat adat. Hal ini dirasakan oleh kelompok etnis di berbagai belahan dunia (Sultan, dkk, 2024). Bagi orang Berau pun, pemandangan bapuppur ini terasa familier. Pengetahuan ini diwariskan terus- menerus dari orang tua ke anak.
Di wilayah yang lebih urban, keluarga Melynda masih meneruskan tradisi ini. Menjelang siang, puppur itu dibalurkan ke tubuh saat panas mulai menyerang. Kebiasaan ini diturunkan kepada Melynda. Ia kerap ditawari ibunya untuk ikut meracik dan memakai puppur dingin, meski biasanya hanya dilakukan di dalam rumah. Ia meyakini bahwa bapuppur akan membawa kebaikan bagi pemakainya.
Melynda dan saya akhirnya ikut merespons isu panas ekstrem melalui karya performance kolaborasi kami yang berjudul Sun Protection 36°. Karya ini pernah ditampilkan di Berau tahun 2024 dalam rangkaian kegiatan seni Mamak Bakissa. Mengingat betapa teriknya Berau, saya melihat penggunaan puppur dingin itu masuk akal sekaligus puitik. Dari pengalaman yang saya lihat selama ini, saya sebagai peneliti seakan hadir secara emosional dan mengakui bahwa perubahan iklim telah merugikan dan mengubah ritme kehidupan perempuan. Spry (2006) menawarkan istilah performative-I untuk mewakili perasaan dan posisi peneliti yang sadar dan seperti ikut “terlibat” dalam fenomena yang diteliti.
Sebagai koreografer, Melynda memulai performance-nya dengan mengambil beras yang sudah direndam semalaman. Dengan beras dan tanaman pandan yang telah rapuh itu, ia menggerus dan mengolesi tubuhnya dengan ramuan puppur tebal. Kemudian, saya melihat ia mulai menirukan pose-pose behuma, memetik kakao, mengambil air, dan mendayung. Setelah itu, ia berkeliling merasakah tubuhnya bersatu dengan tanah, air, udara, dan tanaman di sekitar. Ketika saya mengira ia akan menyelesaikan gerakannya, ia justru menggetarkan tubuh dan melonjak secara eksploratif hingga bedak-bedak kering berjatuhan ke lantai. Saat puppur itu mulai hilang dari wajahnya, ia kembali lagi menggerus beras, melakukan repetisi gerakan.
Melalui tarian yang diciptakan tersebut, saya melihat bagaimana Melynda mereproduksi arsip ekologis pada tubuh-tubuh perempuan adat Berau. Tarian yang ditunjukkan akhirnya merepresentasikan perempuan penjaga hutan dan sungai, pelestari benih, pelaku pertanian tradisional, dan pemegang pengetahuan ekologis lokal yang bijak. Hewitt (2005) melihat bagaimana tubuh dapat melawan melalui koreografi sosial. Ia juga menjelaskan bahwa dalam koreografi, gerak kecil bisa menjadi bentuk kritik. Gerakan-gerakan Melynda, contohnya, dapat dibaca sebagai kritik atas perubahan iklim yang terjadi lantaran deforestasi di Kalimantan Timur, khususnya di Berau. Data KLHK tahun 2020 mencatat setidaknya 44.709,9 hektare wilayah yang rusak akibat penebangan, pembakaran, atau alih fungsi lahan (Ramadhany, 2023). Perempuan seakan harus merumuskan jalan keluar dan mencari cara untuk bertahan dari kerusakan ekologis yang tidak mereka ciptakan.
Pada akhirnya, entah dalam koreografi sosial yang Inda dan Mamak Ujang lakukan, atau dalam karya Sun Protection 36°, saya menempatkan tradisi bapuppur dingin tidak hanya sebagai kebahagiaan kolektif semata. Haugo (1995) menjelaskan perempuan adat sering kali melakukan performance sebagai ruang negosiasi dalam menghadapi persimpangan isu yang merenggut hak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, bapuppur tidak hanya berisi gerakan-gerakan nan puitik, tetapi juga menunjukkan gestur-gestur perlawanan, perawatan, sekaligus refleksi terhadap tubuh perempuan yang setiap hari berhadapan langsung dengan perubahan iklim.
Catatan kaki
- Inda dalam bahasa Banua berarti ibu.
- Puppur adalah sebutan bedak oleh mayoritas masyarakat Kalimantan.
- Melubangi tanah untuk menanam benih padi.
- Mamak Bakissa adalah pameran bersama dan kolaboratif antara seniman individu dan kolektif di Kabupaten Berau. Pameran ini juga merupakan hasil desiminasi Nella Putri Giriani setelah melakukan residensi di Mollo, Nusa Tenggara Timur.
- Behuma adalah istilah di Kalimantan yang merujuk pada tradisi berladang atau membuka ladang, terutama dalam sistem perladangan berpindah masyarakat Dayak.
Referensi
Arif, A. 2023. Berau memanas, kematian meningkat dan petani bekerja pada malam hari. Kompas. https://www.kompas.id/artikel/berau-memanas-kematian-meningkat-dan-petani-bekerja-di-malam-hari.
Hewitt, A. 2005. Social choreography: Ideology as performance in dance and everyday movement. Duke University Press.
Kusumanti, D. P., & Sayuti, N. A. 2017. Aktivitas tabir surya formula bedak dingin Jawa. Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology, 1(1), 01-07.
Haugo, A. 1995. “Negotiating hybridity: Native women’s performance as cultural persistence.” Women & Performance: A Journal of Feminist Theory, 7(2), 125-142.
Ramadhany, N. 2023. “Laju Deforestasi Hutan Akibat Aktivitas Pertambangan di Provinsi Kalimantan Timur.” Rekayasa Hijau: Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan, 7(1), 10-19.
Savitri, D. 2025. “Kulit Kayu Bangkal (Nauclea Subdita) sebagai Antihiperpigmentasi pada Bedak Dingin Kalimantan.” Jurnal Ilmu Multidisiplin, 4(1), 141-154.
Shiva, V. 2016. Staying alive: Women, ecology, and development. North Atlantic Books. Spry, T. 2006. A “performative-I” copresence: Embodying the ethnographic turn in performance and the performative turn in ethnography. Text and Performance Quarterly, 26(4), 339-346.
Sultan, S., Telila, H., & Kumsa, L. 2024. “Ethnobotany of traditional cosmetics among the Oromo women in Madda Walabu district, Bale zone, southeastern Ethiopia.” Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine, 20(1), 39.
Wolff, N. H., Zeppetello, L. R. V., Parsons, L. A., Aggraeni, I., Battisti, D. S., Ebi, K. L., Game, E. T., Kroeger, T., Masuda, Y. J., & Spector, J. T. 2021. “The effect of deforestation and climate change on all-cause mortality and unsafe work conditions due to heat exposure in Berau, Indonesia: A modelling study.” The Lancet Planetary Health, 5(11), e736–e745. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(21)00279-5






