Pada 16 April 2026, Institut Media Digital Emtek (IMDE) bekerja sama dengan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengadakan diskusi dan lokakarya Tari Japati Kembang Kota dalam acara Dies Natalis ke-28. Ressa Rizky Mutiara hadir sebagai narasumber sekaligus koreografer. Saya tidak hanya berdiri sebagai pengamat di ruang lokakarya itu, tetapi juga sebagai pemandu alur peristiwa. Posisi ini membuat saya melihat dua lapisan sekaligus: apa yang tampak di permukaan dan apa yang sebenarnya bekerja di baliknya. Namun lebih dari itu, sebagai seseorang yang memiliki latar musik, saya juga membawa kegelisahan lain, cara tubuh dan bunyi saling berhadapan, atau mungkin justru saling menghindar.
Lokakarya ini mempertemukan tubuh-tubuh dari latar yang beragam. Ada penari Betawi, penari sanggar, pelaku industri film, hingga peserta yang tidak memiliki latar seni sama sekali. Mereka datang dengan tubuh yang sudah “berisi” dipenuhi oleh kebiasaan, ingatan gerak, dan cara masing-masing memahami tubuhnya.
Di awal sesi, perbedaan itu terasa sangat jelas. Tubuh-tubuh yang terlatih bergerak dengan arah yang lebih pasti, sementara yang lain masih tampak ragu, geraknya terputus, tidak stabil. Seolah-olah tubuh-tubuh itu masih berdiri sendiri, belum menemukan titik temu.
Dalam pendekatan Arts-Based Research (ABR), kondisi ini dapat dibaca sebagai fase awal produksi pengetahuan: tubuh mengalami, mencoba, dan meraba kemungkinan. Namun, sebagai seseorang yang terbiasa membaca pengalaman melalui bunyi, saya merasakan ada sesuatu yang belum hadir, sebuah kekosongan ritme yang belum terisi. Tanpa musik, gerak-gerak itu seperti belum menemukan jiwanya. Tubuh bergerak, tetapi belum sepenuhnya hidup. Ada eksplorasi, tetapi belum menjadi pengalaman yang utuh. Apakah tubuh benar-benar bisa mencapai keselarasan hanya dari dirinya sendiri? Atau, ia membutuhkan sesuatu yang lain untuk membuka kemungkinan itu?
Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa proses ini tidak sepenuhnya spontan. Ada peserta yang telah dipersiapkan sebelumnya yang sudah memahami metode, yang secara halus menjaga alur tetap berjalan. Mereka tidak tampil sebagai pengajar, tetapi menjadi semacam penyangga yang tidak terlihat.
Di titik ini, lokakarya ini sudah berada dalam dialektika: antara spontanitas dan struktur. Namun bagi saya, dialektika itu belum lengkap karena tubuh belum benar-benar bertemu dengan bunyi.
Kemudian, Musik Masuk
Lagu berbahasa Sunda mulai terdengar, mengisi ruang dengan cara yang tidak mencolok, tetapi terasa. Di sini saya melihat sekaligus merasakan pergeseran yang signifikan. Tubuh-tubuh itu mulai berubah. Bukan dalam bentuk, melainkan dalam kualitas kehadiran.
Gerak yang sebelumnya terasa terpisah mulai menemukan alur. Tubuh-tubuh itu tidak lagi bergerak sendiri-sendiri, tetapi mulai berada dalam satu frekuensi yang sama. Bukan karena mereka dipaksa mengikuti musik, melainkan mereka menemukan sesuatu di dalamnya, sesuatu yang memungkinkan mereka untuk saling terhubung. Di sinilah keresahan saya mulai menemukan jawabannya, sekaligus membuka pertanyaan baru.
Dialektika ternyata tidak hanya terjadi antara tubuh dengan tubuh, atau antara spontanitas dan struktur, tetapi juga antara tubuh dan musik itu sendiri. Tubuh dalam tari tidak pernah bekerja sendirian. Tubuh selalu mencari resonansi, baik dengan ruang, dengan tubuh lain, maupun dengan bunyi. Dalam konteks ini, musik tidak sekadar pelengkap gerak, tetapi medium yang memungkinkan tubuh menemukan energi kolektifnya.
Musik tidak lagi menjadi sekadar pengiring. Musik hadir sebagai entitas yang ikut bekerja mengganggu, mengajak, membuka, dan bahkan menyelaraskan. Hal ini terlihat jelas ketika tubuh-tubuh yang berbeda itu mulai menemukan energi bersama. Mereka mulai bernapas dalam ritme yang serupa, merasakan aksen yang sama, dan bergerak dengan kesadaran ruang yang mulai terhubung.
Dalam pengalaman auditif, frekuensi tidak hanya persoalan bunyi, tetapi persoalan keterhubungan. Ketika frekuensi itu terbangun, tubuh mulai bergerak bukan sebagai individu yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari energi bersama.
Di sini saya merasakan peran penting musik, musik yang tidak selalu menentukan bentuk gerak, tetapi ia dapat membangun kondisi emosional yang memungkinkan gerak menjadi hidup. Musik membantu tubuh menemukan kontinuitas rasa. Ia menjaga energi agar tidak pecah. Ia merawat keterhubungan di antara tubuh-tubuh yang berbeda.
Namun, menariknya, meskipun musik tersebut berbahasa Sunda, tubuh-tubuh di ruang itu tidak berubah menjadi “Sunda”. Tidak ada usaha meniru, tidak ada bentuk yang dipaksakan. Ini menunjukkan bahwa relasi antara musik dan tubuh tidak bersifat linear. Rasanya musik tidak selalu menentukan tubuh.
Tubuh Tidak Selalu Tunduk pada Musik
Yang terjadi justru sebuah hubungan yang lebih cair, sebuah pertemuan. Dalam perspektif musik, ini menjadi momen yang jarang. Karena di sinilah terlihat bahwa musikalitas tidak selalu berada pada struktur lagu, tetapi juga pada bagaimana tubuh merespons bunyi tersebut.
Salah satu peserta sempat berkata, “Kalau ada musik, saya jadi lebih berani bergerak.” Kalimat ini sederhana, tetapi bagi saya, ia mengandung sesuatu yang lebih dalam. Musik tidak hanya memberi ritme, tetapi memberi keberanian. Memberi rasa. Namun, di titik ini pula saya kembali mempertanyakan: apakah semua tubuh benar-benar mengalami hal yang sama?
Peserta yang sudah terbiasa dengan tubuhnya tampak lebih cepat menyatu dengan musik. Mereka lebih mudah menangkap ritme, lebih cepat menemukan jalur. Sementara yang lain masih membutuhkan waktu mencoba memahami, mengikuti, atau bahkan sekadar bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa dialektika antara tubuh dan musik juga tidak sepenuhnya setara.
Selain itu, penggunaan musik tidak disertai dengan refleksi yang cukup. Tidak ada pembacaan lebih jauh tentang bagaimana bunyi bekerja, bagaimana ia memengaruhi tubuh, atau bagaimana ia membentuk pengalaman. Dalam konteks tertentu, ini menjadi celah, karena pengalaman yang kuat tidak selalu diikuti dengan artikulasi yang memadai. Padahal, justru di sanalah potensi pengetahuan berada.
Tubuh Membaca
Kembali ke tubuh yang datang dengan identitas masing-masing, perlahan identitas itu mulai kehilangan batas-batas yang sebelumnya begitu jelas. Penari Betawi tidak lagi sepenuhnya “Betawi”, peserta nonpenari tidak lagi sekadar “pemula”. Yang tersisa bukan lagi tubuh yang membawa kategori, melainkan tubuh yang sedang berada dalam keadaan menjadi sebuah tubuh yang belum selesai, yang sedang bergerak menuju kemungkinan lain. Di titik inilah saya mulai melihat sesuatu yang lebih kompleks, bukan sebagai pengamat tari, melainkan seseorang yang datang dari disiplin musik.
Selama ini, sebagai musisi, saya terbiasa memahami musik sebagai struktur yang hadir di luar tubuh: tempo, aksen, dinamika, frasa, interval semua seolah menjadi perangkat yang memberi arah, sementara tubuh hanya menjadi medium yang menanggapi.
Akan tetapi, lokakarya ini memaksa saya untuk meragukan asumsi itu karena saya melihat bahwa tubuh ternyata tidak sekadar menanggapi bunyi. Tubuh juga mengubah makna bunyi.
Di sinilah pertanyaan yang lebih mendasar muncul: apakah musik benar-benar hidup di dalam bunyi itu sendiri atau justru musik baru menjadi pengalaman ketika tubuh hadir untuk mengalaminya? Tanpa tubuh, bunyi mungkin hanya gelombang. Namun, ketika tubuh mendengar, merasakan, dan bergerak, bunyi berubah menjadi pengalaman. Di titik ini, saya mulai memahami bahwa persoalan musik dalam tari tidak sekadar soal iringan; musik tidak hanya memberikan ritme pada tubuh, tubuh juga memberi eksistensi pada musik; seperti simbiosis mutualisme yang indah.
Sebuah lagu mungkin memiliki tempo yang tetap, tetapi energi yang lahir di dalam ruang tidak pernah sepenuhnya berasal dari struktur musik itu sendiri. Energi itu muncul ketika tubuh mulai memberi bobot, memberi tekanan, memberi jeda, memberi napas pada bunyi yang didengarnya. Bisa jadi dalam arti tertentu, tubuh tidak “mengikuti” musik. Tubuh justru menyelesaikan musik. Ini adalah pengetahuan baru yang saya dapatkan sebagai musisi.
Selama ini saya berpikir bahwa musik adalah pusat yang mengorganisasi gerak. Namun, dalam lokakarya ini, saya melihat sesuatu yang lebih radikal: musik tidak sepenuhnya menentukan tubuh karena musik sendiri membutuhkan tubuh agar dapat hadir sebagai pengalaman yang utuh. Saya mulai paham bahwa yang terjadi bukan hubungan sebab-akibat antara musik dan gerak. Yang terjadi adalah sesuatu yang lebih subtil: tubuh dan bunyi saling mengandaikan. Musik memberi struktur kemungkinan, tetapi tubuhlah yang mengaktualkan kemungkinan itu menjadi pengalaman.
Dalam filsafat musik, bunyi sering dipahami sebagai sesuatu yang temporal. Hadir, bergerak, lalu lenyap. Namun, tubuh memberi sesuatu yang tidak dimiliki bunyi: tubuh memberi keberadaan yang dapat dirasakan secara konkret. Karena itu, ketika musik masuk ke ruang lokakarya, yang berubah tidak hanya ritme gerak, tetapi yang berubah adalah kualitas keberadaan tubuh itu sendiri.
Tubuh-tubuh yang sebelumnya bergerak sebagai individu mulai memasuki suatu energi yang lebih besar dari dirinya. Bukan karena mereka menjadi sama, melainkan mereka mulai berbagi waktu yang sama. Musik, dalam konteks ini, tidak menciptakan kolektivitas secara otomatis. Ia hanya membuka kemungkinan temporal. Tubuhlah yang memutuskan apakah kemungkinan itu akan menjadi pengalaman bersama atau tidak. Mungkin karena itu, menjaga frekuensi dalam tari bukan semata soal menjaga hitungan.
Menjaga frekuensi berarti menjaga kesadaran kolektif agar tidak pecah. Menjaga agar tubuh tidak kembali menjadi individu yang terputus, tetapi tetap berada dalam pengalaman waktu yang dibagi bersama. Sebagai musisi, inilah pengetahuan baru yang saya dapatkan. Musik dalam tari tidak sekadar sesuatu yang didengar, dan tari tidak sekadar sesuatu yang dilihat. Keduanya adalah pengalaman yang saling menggenapi. Musik memberi waktu, tubuh memberi keberadaan, musik membentuk kemungkinan.
Tubuh mengubah kemungkinan itu menjadi pengalaman, bukan pada bagaimana tubuh bergerak mengikuti musik, melainkan pada kesadaran bahwa tubuh dan bunyi tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Mereka hanya menjadi utuh ketika saling menghidupi.
Ichicho Sembiring, M.Sn., Dosen Institut Media Digital Emtek
Chelsea Lusiana, Mahasiswa Institut Media Digital Emtek






