Dalam perayaan Dies Natalis ke-28 Institut Media Digital Emtek (IMDE) yang mengusung tema Creativity, Unlimited hadir sebuah ruang diskusi yang terasa segar bagi para pegiat seni pertunjukan: diskusi dan lokakarya bertajuk “Dari Panggung ke Layar: Menelisik Tubuh Sinematik” pada 16 April 2026.
Forum yang digagas oleh Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta dan Institut Media Digital Emtek (dalam program Telisik Tari) ini mempertemukan puluhan peserta dengan ketertarikan pada praktik tari, tubuh, dan koreografi untuk mendapatkan perspektif lain dari praktik gerakan tubuh dan penciptaan sebuah makna baru.
Sejak awal, saya merasa acara ini tidak sekadar menjadi ruang berbagi pengalaman antarseniman, tetapi juga ruang refleksi untuk membaca ulang bagaimana tubuh bekerja ketika memasuki wilayah sinema. Sebagai seseorang yang bergelut di bidang film, saya hadir mengamati jalannya diskusi sekaligus mencoba memosisikan diri sebagai penonton yang penasaran pada relasi antara tari dan kamera. Dari situlah muncul pertanyaan yang terus mengendap di kepala saya: ketika sebuah koreografi tari yang dirancang utuh dalam real time lalu dipindahkan ke dalam medium film cerita yang bekerja dengan film time, apakah ia masih menyimpan makna yang sama atau justru melahirkan tafsir baru?
Diskusi dan lokakarya ini menghadirkan para praktisi lintas disiplin seperti Ressa Rizky Mutiara Hadi, Niken Anjani, dan Siko Setyanto, dengan moderator Kennya Rinonce. Percakapan berkembang secara cair melalui pengalaman personal masing-masing pembicara, mulai dari proses latihan koreografi, penciptaan karakter melalui tubuh, hingga bagaimana gerak akhirnya “diterjemahkan” oleh kamera.
Dalam sesi diskusi, Ressa dan Niken berbagi pengalaman kolaboratif mereka saat memainkan koreografi tari Japati Kembang Kota dalam film Shutter karya Herwin Novianto. Sementara itu, Siko menyoroti pendekatan tubuh dalam film Para Perasuk karya terbaru Wregas Bhanuteja. Dari berbagai pengalaman tersebut, menurut saya muncul satu persoalan yang menarik: bagaimana koreografi yang lahir dalam durasi real time harus menyesuaikan diri ketika memasuki struktur waktu filmic. Gerak yang semula dirancang untuk berlangsung utuh dalam satu kesinambungan, pada akhirnya harus tunduk pada kebutuhan narasi, ritme editing, dan logika visual sinema.
Persoalan tersebut membawa saya pada pembacaan yang lebih luas mengenai relasi tubuh dan waktu dalam film. Menurut David Bordwell dan Kristin Thompson dalam buku Film Art: An Introduction, waktu dalam film (film time) merupakan konstruksi temporal yang dapat dimanipulasi melalui durasi, urutan, dan frekuensi adegan. Waktu dalam sinema tidak hadir sebagai representasi langsung dari kenyataan, tetapi sebagai hasil rekayasa artistik. Pembuat film memiliki kendali untuk menghadirkan waktu sebagaimana adanya atau justru merombaknya demi kebutuhan dramatik.
Dalam konteks tari, pemahaman ini membuka pertanyaan yang lebih jauh, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika ia berpindah dari ruang pertunjukan menuju ruang sinematik?
Selama ini, wacana tari dalam film kerap menempatkan kamera hanya sebagai medium perekam gerak atau dokumentasi. Pendekatan semacam ini secara tidak langsung masih melanjutkan tradisi panggung yang memandang koreografi sebagai struktur utuh yang hadir dalam satu aliran waktu yang berkesinambungan. Padahal, dalam praktik sinema, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku.
Gerak yang sama dapat mengalami perubahan bentuk, ritme, bahkan makna ketika berpindah dari ruang latihan menuju ruang pengambilan gambar, lalu akhirnya hadir sebagai tontonan di layar. Perpindahan ini memperlihatkan adanya transformasi dari real time menuju film time, sebuah pergeseran yang menurut saya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga konseptual.
Jika saya membuat film dengan adegan tari di dalamnya, tentu saya akan meminta koreografer menciptakan tafsir gerak tubuh yang selaras dengan kebutuhan naskah. Setelah itu, tarian tersebut saya alihwahanakan ke dalam medium film melalui berbagai pilihan visual: long shot, medium shot, close up, hingga extreme close up. Dalam medium film, lirikan mata, gerakan kecil pada jari, bahkan ritme napas penari dapat menjadi koreografi tersendiri yang mungkin tidak sepenuhnya tertangkap ketika pertunjukan disaksikan secara langsung (real time).
Di sinilah saya merasa medium film menawarkan kemungkinan baru bagi tubuh. Film memungkinkan saya memainkan dimensi waktu melalui editing, seperti slow motion atau fast motion, untuk membangun rasa tertentu. Saya juga tertarik memainkan dramatik melalui metode parallel cutting. Misalnya, menghadirkan tarian yang dipotong bergantian dengan ombak yang menghantam karang. Dua peristiwa yang berbeda itu kemudian dapat melahirkan tafsir emosional baru bagi penonton.
Pertanyaan berikutnya menjadi semakin menarik, sampai sejauh mana pembuat film dapat dianggap sebagai bagian dari koreografer?
Mendengar pengalaman produksi film Shutter menjadi contoh yang menarik untuk dibaca. Dalam film tersebut, Ressa membawa karya tari Japati Kembang Kota yang diperankan oleh Niken. Tarian ini tidak hadir begitu saja di depan kamera. Ia dibangun melalui delapan kali pertemuan latihan yang intens. Dalam proses tersebut, tubuh tidak hanya dilatih untuk menghafal rangkaian gerak, tetapi juga diajak membangun sensitivitas rasa. Komunikasi menjadi fondasi utama kerja artistik mereka. Sebelum masuk pada aspek teknis koreografi, pendekatan personal terlebih dahulu dibangun untuk menciptakan relasi yang memungkinkan tubuh bergerak secara organik. Di sinilah olah tubuh dan olah rasa bertemu. Tubuh menjadi medium yang menyimpan memori gerak, sementara rasa mengarahkan intensitas ekspresi.
Bagi saya, latihan dalam konteks ini tidak hanya menjadi ruang teknis, melainkan juga ruang afektif. Tari Japati Kembang Kota berkembang sebagai pengalaman yang hidup dan terus dibaca ulang dan disesuaikan. Mungkin hal ini yang tidak dimiliki oleh praktisi film dan bisa dinegosiasikan dengan koreografer tubuh.
Tarian yang sebelumnya dirancang dalam alur real time harus beradaptasi dengan kebutuhan sinematik. Di sinilah lahirnya kolaborasi dan penciptaan medium ekspresi baru. Gerak tidak lagi dijalankan dalam satu tarikan waktu yang utuh, tetapi dipecah menjadi fragmen-fragmen visual. Satu rangkaian gerak dapat diulang berkali-kali demi kebutuhan sudut pandang kamera. Dalam situasi ini, tubuh tidak lagi hanya bernegosiasi dengan ruang pertunjukan, tetapi juga dengan kamera.
Penari dituntut menjaga kontinuitas emosi meski proses pengambilan gambar berlangsung terputus-putus. Bagi saya, fragmentasi ini menunjukkan bahwa real time tidak sepenuhnya hilang. Ia tetap hadir sebagai dasar pengalaman tubuh, tetapi kemudian diolah ulang melalui mekanisme produksi film. Koreografi yang dibangun secara real time tidak lagi berdiri sendiri sebagai pertunjukan, tetapi menjadi bagian dari narasi yang bekerja membangun atmosfer, memperkuat karakter, dan menandai momentum dramatik. Latar ruang dan waktu dalam cerita film turut menentukan bagaimana tarian dimaknai. Gerak yang sama dapat menghadirkan nuansa berbeda tergantung konteks sinematik yang melingkupinya. Dengan demikian, film tidak sekadar alat dokumentasi. Ia adalah ruang performatif dengan logikanya sendiri.
Pada akhirnya, memahami tari dalam film berarti menyadari adanya dua dimensi waktu yang bekerja secara bersamaan. Real time menghadirkan pengalaman langsung yang berakar pada tubuh, sementara film time membentuk pengalaman yang telah dikonstruksi melalui bahasa sinema. Di antara keduanya, terbentang ruang kreatif yang memungkinkan tari terus bergerak melampaui batas medium, menemukan bentuk baru, dan terus menegosiasikan cara tubuh hadir di layar. Karena mungkin, di titik itulah tubuh sinematik benar-benar lahir: bukan ketika ia direkam, melainkan ketika ia berhasil hidup dalam dua waktu sekaligus.
Adlino Dananjaya, M.Sn., Dosen Institut Media Digital Emtek
Afrah Nabila Auralia, Mahasiswa Institut Media Digital Emtek






