Ingatan yang Tertanam di Kayu Topeng: Seni Pertunjukan Tembut-Tembut Seberaya sebagai Situs Memori Kolektif Masyarakat Karo

Tubuh saya bertumbuh seiring dengan suara denting gamelan, pukulan kendang, dan nyanyian melengking para sinden. Gerak tangan mengukel maupun ngithing menjadi sangat sehari-hari pada masa saya SD hingga SMP. Lutut rasanya telah akrab dengan rasa nyeri usai mendhak berjam-jam. Hari-hari saya lewati dalam sebuah sanggar tari kecil di sebuah kota kecil Wonosobo, Jawa Tengah, pintu masuk…

Thumbnail esai karya Nella Giriani Putri

Tarian Bapuppur sebagai Arsip Ekologis dan Kebahagiaan Kolektif Perempuan Berau

Musim kemarau tak kunjung usai di wilayah Berau, Kalimantan Timur. Saat musim kemarau, angin menerpa kaleng-kaleng bekas susu kental manis yang dipasang menjulang di atas pematang sawah. Kaleng-kaleng itu menyuarakan kesedihan kepada Tuhan atas tanah yang kering; kaleng-kaleng seakan-akan berbicara lantang dengan bahasa manusia. Di tengah burung-burung pemakan padi dan bunyi kaleng yang menakutkan, Inda…

Menyingkap Ilusi Kebahagiaan Kolektif dalam Pariwisata

Waturaka adalah sebuah desa di Kabupaten Ende, hanya berjarak kurang lebih 4 kilometer dari Kelimutu, danau tiga warna yang menarik minat banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Desa Waturaka berada di Kecamatan Moni, suatu kawasan wisata yang memiliki banyak hotel, restoran, villa, dan homestay. Waturaka membentang di lembah Moni yang elok, dikelilingi bukit-bukit hijau, di antara…

Makassar sebagai Arsip Koreografi Sosial

Wacana tari modern kerap menempatkan panggung atau studio sebagai ruang ulung dalam memproduksi gerak. Pendekatan tersebut turut membentuk tradisi akut yang menumpukkan perhatian pada koreografi yang dirancang, estetika formal, dan struktur pertunjukan. Dalam keseharian Makassar, laku gerak yang berlangsung tanpa direka menandai hubungan tubuh dengan lingkungan yang kompleks. Aktivitas berjalan, menepi dari kendaraan, menyesuaikan langkah…

Tubuh, (Cultural) Performance, Kebahagiaan Kolektif, dan Hal-hal Lain

Program Open Call Telisik Tari 2025 menghasilkan lima tulisan di bawah tema besar “koreografi sosial”, sebuah konsep yang menautkan performance dengan gerak sehari-hari. Lima tulisan yang ringkas ini mengajak kita berdiskusi dan mendalami lebih jauh tentang tema-tema yang muncul di bawah konsep koreografi sosial dari berbagai tempat, di dalam maupun di luar negeri. Ibe S.…

Meninjau Pseudo-Entertainment: Agar Koreografi Tak Sekadar Pseudo

  Tulisan ini dibuat berdasarkan pengamatan pada Pseudo-Entertainment, sebuah proyek penelitian artistik, digagas oleh Bandung Performing Arts Forum (BPAF)* yang dilaksanakan pada Januari-Maret 2025. Proyek yang melibatkan seniman, pegiat lintas bidang, pengamat, dan publik ini mencakup serangkaian lokakarya, residensi, dan juga presentasi karya. Mengangkat tajuk “Apa yang Tersisa dari Masa Depan”, secara mendasar Pseudo-Entertainment menyoal…

Menakar Masa Depan Proyek Sambang Setangga

Sambang Setangga merupakan perjalanan artistik yang menggali makna di balik fisikalitas. Ia memanfaatkan ruang sebagai medium untuk menjembatani dua realitas yang mungkin terasa berjauhan, yang terancam dan yang sedang hidup (merayakan): Kampung Kota Dago Elos dan Kalipasir. Lebih dari sekadar titik-titik di peta, Sambang Setangga menjadi penanda, pertemuan antara dua komunitas, sebuah metafora perjalanan yang…

KOREOGRAFI SOSIAL: MENARI DAN KETERHUBUNGAN DALAM SOSIAL

Pada tahun ini, Komite Tari-DKJ mеngangkat tеma “Korеografi Sosial: Mеnari Mеmpеrkuat Jalinan Kеtеrhubungan Dalam Sosial.” Berdasarkan tema ini, akan dikеmbangkan bagaimana tari dan khususnya korеografi dapat bеrpеran dalam mеncеrmati isu-isu sosial–sеpеrti kеtimpangan, kеtidakbahagiaan sosial, dan kеsеhatan mеntal, sеkaligus mеmpеrkuat hubungan antar masyarakat. Termasuk akan didorong kolaborasi antara pеnari dan pеnеliti dari bеrbagai disiplin ilmu; sosiologi,…

MERAWAT RUANG, MERAWAT KOREOGRAFI, MERAWAT KONTEKS

Judul tulisan ini dibuat dengan mengacu pada tema Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023—yaitu “Merawat Bumi, Merawat Kebudayaan”. Bahwa penulisan ini dibuat berdasarkan catatan dari PKN 2023, khususnya dari program Mitra Ruang Ekspresi Warga (selanjutnya ditulis: program Ruang Warga), turunan dari kuratorial Laku Hidup -dengan beberapa anggota Komite Tari-DKJ terlibat dalam program-.  Mengacu pada tema di…