APA YANG KAU CARI, FARIDA?: Menelisik Citra Indonesia dalam Balet (Bagian II)

Mempertanyakan Identitas Ballet Indonesia (bagian II) Proses untuk terus mempertanyakan dan menemukan balet bercitra Indonesia terus berlanjut dari Pekan Balet I/1982 ke Pekan Balet II/1983. Pada periode ini Farida yang masih menjabat Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dalam sambutannya mengatakan pola Pekan Balet ini masih sama dengan yang sebelumnya, dengan membagi jenis penampilan…

APA YANG KAU CARI, FARIDA?: Menelisik Citra Indonesia dalam Balet (Bagian I)

(Penulis: Esha Tegar Putra) “Memang sulit sekali. Tak semudah yang dibayangkan, bagaimana menggabungkan sesuatu berbau Indonesia dalam balet.” (Farida Feisol, Masalah-Masalah yang Dihadapi dalam Menata Tari, November 1983) “Kalau dulu bisa muncul semacam Sangkuriang dan Farida Gunung Agung Meletus, itu kan hanya kegilaan kita saja.” (Yulianti Parani, wawancara 30 Desember 2020) “Sesudah menguasai teknik balet,…

CATATAN PERJALANAN SEORANG FOTOGRAFER PANGGUNG

Seorang bocah berusia belasan tahun tengah menonton acara musik di televisi. Yang tengah tayang adalah seorang penyanyi dikelilingi beberapa orang yang menari dengan lincah. Dalam pikiran si bocah, dia hanya ingin melihat penampilan penyanyi favoritnya. Si bocah merasa terganggu dengan kehadiran penari-penari tersebut; sebuah pemikiran yang kelak, bertahun-tahun kemudian, berhadapan dengan kenyataan yang ada di…

Tubuh, Ingatan, dan Ruang: Bagaimana Tubuh Memiliki Otonomi Atas Diri dan Relasinya dengan Ruang

Jika kita bicara soal tubuh manusia, kita akan mengasosiasikannya dengan bagian dari diri kita yang dikendalikan oleh otak atau pikiran kita. Dalam sains modern, dikatakan bahwa seluruh bagian dari anggota tubuh manusia dapat dikendalikan oleh otak atau pikiran; oleh karenanya, tubuh dianggap sebagai benda yang pasif dan tidak otonom. Seperti yang dikatakan oleh Rene Descartes…

MEMAKNAI ELEMEN DAN SEKELILING REPERTOAR TARI SEBAGAI ARSIP TARI

Bila kembali sejenak ke TELISIK TARI pada 2022, artikel-artikel yang dimuat dalam website telisiktari-id.preview-domain.com ditulis berdasarkan arsip tentang tari koleksi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang berbentuk berita dari media cetak. Sementara pada tahun yang sama, Komite Tari-DKJ menumbuhkan pembahasan perihal Expanded Choreography yang menjadi muatan dalam praktik Artistic Development dan buku Seri Wacana Tari berjudul…

Hasrat untuk berekspresi: mencari pembebasan diri dalam breakdance di Jakarta, tahun 1985.

Dalam media saat itu, Tempo, 5 Januari 1985, terlihat tajamnya perbedaan perspektif selera antara pelaku ekspresi tubuh kaum muda melalui breakdance dan pemerhati perilaku kaum muda tersebut, yang mewujud dalam penghakiman maupun dukungan di media cetak. Perbedaan perspektif tersebut, yang terlihat lebih terkesan negatif daripada positif, justru semakin mengangkat breakdance menjadi perbincangan masyarakat luas. Ruang…

Perbincangan Pertunjukan Lintas-Disiplin pada “Meta ekologi” (1979) Sardono; Pengantar arsip berita “Meta Ekologi” dari Timur, “Total Theatre” dari Barat

Pertunjukan “Meta Ekologi” Sardono W. Kusumo pada Oktober 1979  merupakan sebuah pertunjukan yang disambut sangat baik dalam liputan di banyak media saat itu. Dari beberapa arsip koran harian pada masa itu, baik yang menginformasikan pertunjukan maupun mengenai pembacaan yang membangun diskursus seni tari dan teater dari beberapa komentator dan pengamat pertunjukan “Meta Ekologi” di masa…

Breakdance: kebebasan tubuh sebatas pada ruang yang diinstitusikan

Perbantahan seru mengenai tren breakdance terjadi di media surat kabar di Indonesia pada masanya. Kegiatan breakdance yang dilakukan oleh kaum muda di tempat umum dianggap mengganggu ketertiban umum, tidak mencerminkan nilai-nilai moral dan kebudayaan Indonesia, termasuk perihal nilai-nilai agama, serta dikhawatirkan terpengaruh miras, narkoba, seks bebas, maupun prostitusi. Mereka yang mendukung, menganggap breakdance sebagai kegiatan…