“Bangsa-bangsa di seluruh dunia akan segera menghasilkan generasi-generasi mesin yang berguna, tetapi bukan warga negara yang utuh yang bisa berpikir sendiri, mengkritik tradisi, dan memahami pentingnya penderitaan dan pencapaian orang lain.”
-Martha Nussbaum dalam Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities
“Creature: Dancing Bodies”: Tubuh yang Menari, Tubuh yang Manusiawi
Jemari kaki muncul di dua layar, bergerak lamat-lamat bak kecambah yang menguar dari biji, bertumbuh perlahan menjadi batang tinggi dengan daun-daun bermekaran. Pertunjukan dalam program kolaborasi Seni Tari IKJ (melalui Dancevelope: CTRL + MOVE) dan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (melalui Telisik Tari dan JICON) malam itu (15/10/2025) dibuka dengan “Creature: Dancing Bodies” karya Rizqi Amalia Kamila.
Sebagai penikmat awam pentas seni tari, karya ini memberikan kesan kepada saya bahwa tarian tak melulu berbicara tentang keindahan. Gerak tubuh yang ditampilkan justru mengingatkan kepada khalayak bahwa tubuh yang bergerak, tubuh yang menari adalah bagian dari keniscayaan dari seorang manusia. Gerakan tubuh yang ritmis dan tak jarang indah telah dilakukan oleh setiap individu sejak ia dilahirkan; menyentak-nyentakkan telapak kaki, menggoyang-goyangkan jemari tangan, menarik garis bibir di wajah sehingga membentuk ragam hal yang kita sebut sebagai ekspresi—senang, sedih, kesal, marah.
“Creature: Dancing Bodies” juga mengingatkan saya pada gagasan Martha Nussbaum, filsuf perempuan asal Amerika Serikat, dalam Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities. Nussbaum menekankan bahwa seni dan humaniora merupakan fondasi penting bagi pendidikan yang memanusiakan. Ia secara tegas menolak pandangan tentang pendidikan yang saat ini—hampir di seluruh dunia—kerap dikaitkan dengan nilai ekonomi semata. Bahwasanya, pendidikan adalah upaya untuk membangun bangsa menuju kemajuan yang disandarkan pada angka-angka pertumbuhan ekonomi. Padahal, seharusnya pendidikan juga membangun manusia seutuhnya yang memiliki sejumlah dimensi—emosi, estetika, rasa—selain pikiran dan kognitifnya. Sehingga, bagi Nussbaum pendidikan seharusnya menumbuhkan human capability—kemampuan untuk berpikir kritis, berempati, dan memahami pengalaman manusia secara mendalam.
Melalui seni, seseorang diajak mengasah imajinasi moral: kemampuan untuk membayangkan kehidupan orang lain, memahami penderitaan, kegembiraan, dan pergulatan batin yang bukan miliknya sendiri. Dalam konteks ini, “Creature: Dancing Bodies” karya Rizqi Amalia Kamila menjadi ruang pembelajaran yang selaras dengan gagasan Nussbaum tersebut. Tubuh yang menari tidak sekadar instrumen estetika, tetapi medium reflektif yang mengingatkan penonton akan keberadaan tubuh manusia—yang sejak dulu kala—rentan, berdaya, sekaligus senantiasa mencari makna. Melalui gerak, “Creature: Dancing Bodies” menghadirkan bentuk pendidikan emosional yang menstimulasi kecakapan merasa dan juga mengundang renungan tentang being human: menjadi manusia. Sebagaimana diyakini Nussbaum, menjadikan seni sebagai salah satu jalan untuk menumbuhkan kemanusiaan itu sendiri.
“Unbodying Fragments”: Tubuh dan Identitas yang Membebaskan
Pertunjukan malam itu dilanjutkan dengan karya kedua Siti Alisa dalam wujud lecturer performance bertajuk “Unbodying Fragments”. Siti Alisa, pegiat sekaligus pengajar tari balet selama 15 tahun, menggugat “pakem” keindahan balet dalam penampilan dan orasinya. Ia secara lantang menyebutkan bahwa sering kali aturan-aturan dalam balet mengungkung kebebasan berkreasi para penarinya. Hal ini menyebabkan keindahan tarian hanya dapat ditentukan oleh tubuh yang ideal. Pandangan ini mendorong stereotype toxic tentang tubuh dan seni itu sendiri. Bahwasanya seorang penari haruslah mereka yang berbadan tertentu seperti mungil, kaki ramping, dan sejumlah kriteria ideal lainnya yang membelenggu.
Kritik yang dilontarkan Siti Alisa melalui orasi dan penampilannya terhadap pakem keindahan dalam balet sejalan dengan pandangan Martha Nussbaum tentang bahaya ketika aesthetic beauty dipersempit hanya pada bentuk yang ideal dan harmonis secara visual. Hal ini karena, sejumlah argumen Nussbaum, khususnya dalam Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities, menegaskan bahwa seni dan humaniora mendorong seseorang belajar memahami pluralisme yang menumbuhkan rasa hormat antarsesama. Termasuk pada mereka yang berbeda; yang liyan. Sehingga, jika praktik seni justru membelenggu kebebasan berekspresi, ia telah keluar dari esensinya. Seni, sejatinya berfungsi tidak hanya untuk menghibur mata, tetapi untuk menggugah kesadaran kolektif, bahwa tubuh, dengan segala ketidaksempurnaannya, tetap memiliki martabat dan nilai ekspresi yang sah.
Melalui “Unbodying Fragments”, Siti Alisa menghadirkan alternatif makna yang dapat direnungkan bersama terhadap keindahan itu sendiri. Ia seakan mengajak penonton mempertanyakan: keindahan bagi siapa, dan atas dasar apa? Ketika tubuh-tubuh curvy—yang sering dianggap tidak ideal—menari, mereka justru membebaskan seni dari jebakan estetika yang membatasi manusia dalam kerangka visual tertentu. Di titik ini, karya Siti Alisa menjadi manifestasi dari apa yang disebut Nussbaum sebagai aesthetic of humanity: keindahan yang lahir dari kejujuran pengalaman manusia, bukan dari konstruksi visual yang dipaksakan. Dengan demikian, “Unbodying Fragments” tidak hanya mengkritik “pakem” balet yang kerap mensyaratkan tubuh-tubuh ideal, tetapi juga menegaskan kembali bahwa keindahan sejati terletak pada keberanian untuk menampilkan diri apa adanya: tubuh yang hidup, berpikir, dan merdeka.
“Page 404”: Kritik Sosial dan Tubuh yang Bersuara
“Page 404” karya Rifa Arrahmi Annida menjadi penampilan pamungkas malam itu. Dalam sesi artist talk, Rifa menguraikan proses kreatif di balik karyanya. Ia menyebutkan ide “Page 404” lahir dari sebuah objek yang mudah ditemui dalam keseharian, yakni meja. Menurut Rifa, meja menjadi simbol yang dapat dimaknai dengan ragam tafsir, mulai dari diskusi, kesepakatan, lobi-lobi, bahkan perebutan kuasa. “Page 404” dapat dibaca sebagai bentuk kritik terhadap realitas sosial Indonesia hari-hari ini. Sebuah meja disimbolkan sebagai kekuasaan sering kali rapuh.
Dalam hal ini, “Page 404” dapat menjadi kanal protes atau ekspresi kritik terhadap konteks sosial yang terjadi di sekeliling kita. Ini yang di-highlight Nussbaum: mengapa pendidikan perlu melibatkan seni dan bidang humaniora dalam kontennya. Tidak sekadar pelengkap dalam kurikulum, tetapi juga mewarnai esensi. Hal ini karena, seni berfungsi menumbuhkan critical imagination dan mendorong kepekaan seseorang pada sejumlah persoalan nyata yang hadir dalam kehidupan manusia. Meja, sebagai simbol yang digunakan Rifa, menjadi titik temu antara ruang privat dan publik: tempat ide dinegosiasikan, keputusan diambil, dan kekuasaan dipertarungkan.
Melalui simbol yang sederhana itu, “Page 404” membuka ruang bagi penonton untuk merenungkan bagaimana relasi kuasa bekerja dalam keseharian, yang kerap tersembunyi di balik rutinitas yang tampak netral. Selain itu, “Page 404” juga menjadi bukti bahwa protes dan kritik terhadap sejumlah masalah sosial sangat mungkin disampaikan lewat tubuh yang bergerak, tubuh yang menari.
Koreografi Sosial sebagai Pendidikan Kewargaan
Ketiga penampilan dari para seniman tari berbakat malam itu sesungguhnya dijahit dengan tema besar Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, yakni Koreografi Sosial yang menempatkan seni tari sebagai refleksi dari realitas kehidupan sosial, dengan tema yang membahas sejumlah persoalan dalam kehidupan sehari-hari; tentang naluri tubuh yang bergerak, identitas dan stereotipe yang membelenggu, serta persoalan-persoalan sosial yang sarat ketimpangan. Pertunjukan Dancevelope: CTRL + MOVE pun saya maknai sebagai pertunjukan tentang manusia yang manusiawi. Lebih dari itu, ketiga karya yang ditampilkan merepresentasikan bentuk pendidikan kewargaan yang menstimulus kepekaan, empati, dan refleksi setiap penonton untuk merasakan setiap ketidakadilan, ketimpangan, keterhubungan dengan isu-isu yang hendak disuarakan dalam masing-masing karya.
Pertunjukan Dancevelope: CTRL + MOVE membawa saya pada perenungan tentang dua kata kunci yang digunakan, yaitu control dan movement, yang menggambarkan keseharian di sekitar kita yang paradoksal hari ini. Dalam dunia yang penuh sistem kendali (baik digital, sosial, maupun institusional), gerak justru menjadi simbol perlawanan terhadap stagnasi pikiran. Nussbaum memperingatkan bahwa pendidikan yang berorientasi pada utilitas yang serba terukur—seperti keuntungan, efisiensi, dan lain-lain—cenderung melumpuhkan kapasitas kemanusiaan: seni, empati, dan refleksi diri.
Ketiga karya yang ditampilkan—dengan cara yang berbeda—menawarkan sebentuk perlawanan lembut terhadap sistem kendali tersebut. Tubuh menjadi medium pembebasan dari CTRL menuju MOVE, dari kepatuhan menuju penemuan diri. Ia menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukanlah proses menekan, melainkan menggerakkan; bukan menghapus perbedaan, tetapi merayakannya.
Nyimas Gandasari
Peneliti dan praktisi pendidikan (khususnya pendidikan bagi kelompok underprivileged dan marginal). Buku pertamanya adalah Cukup Cintamu Saja yang Palsu, Ijazah Mah Jangan (Buku Mojok, 2019).






