Saya lupa kapan tepatnya, mungkin saat saya TK, kali pertama saya mendengar nama “Mak Erot” dari bapak-bapak di sekitar rumah saya, dan tentunya, infotainment yang sering terpaksa saya tonton ketika mama saya menyuapi saya makan siang. Pada waktu itu saya tidak tahu menahu siapa Mak Erot dan apa yang ia lakukan. Belakangan, ketika umur saya mulai beranjak remaja, barulah saya tahu siapa Mak Erot saat Mak Erot telah tiada.
Sebagai ahli pengobatan alternatif, khususnya untuk urusan vitalitas pria, ketenaran Mak Erot hampir setara selebriti papan atas. Namanya disebut di mana-mana, bahkan salah satu karakter Mak Siat—yang diperankan oleh Sarah Sechan—dalam film XL (Extra Large): Antara Aku, Kau, dan Mak Erot (2008) terinspirasi dari sosok Mak Erot. Menariknya, walaupun sudah tiada, nama Mak Erot tetap abadi dan kehebatannya sebagai ahli pengobatan alternatif perkara vitalitas pria terus diceritakan dari generasi ke generasi. Praktik yang Mak Erot lakukan kurang lebih berupa pijat di bagian alat vital pria dan sekitarnya. Ia juga kerap kali menggunakan ramuan herbal yang dianggap dapat meningkatkan stamina serta performa pria di ranjang.
Sosok Mak Erot, sebenarnya sudah cukup lama tidak hadir di dalam kepala saya. Lalu tiba-tiba, seorang Ishvara Devati muncul mengingatkan saya kembali dengan sosok legenda itu melalui karya tari terbarunya, “Ecological Aphrodisiac” atau ‘obat kuat herbal’. Karya tersebut dimulai dengan Ishvara yang berdiri di balik layar proyektor menutupi area wajah sampai dadanya. Pertunjukan berjalan dengan Ishvara yang memamerkan otot bisepsnya dengan sangat maskulin. Ia terus berlagak seolah dirinya adalah binaragawan. Di sela-sela itu, muncul potongan-potongan iklan obat kuat melalui audio, dan di layar proyektor muncul iklan dan bungkus obat-obat kuat yang sering beredar di pasaran. Pada saat itulah, Ishvara mulai menunjukkan wajahnya yang feminin.
Lalu gerakannya mulai dinamis, ada banyak gerakan-gerakan yang terbaca jelas sebagai simbol maskulinitas pria loyo dan berusaha untuk terlihat kuat. Gerakan-gerakan tersebut terus berlangsung hingga musik mulai berubah menjadi lebih ethereal dan terasa sakral. Ishvara tidak ingin sendiri, ia juga melibatkan beberapa penonton untuk mengambil peran dalam pertunjukan. Ishvara mendekat ke penonton—yang juga kerabat senimannya—agar ia diberi minum melalui teko air berwarna merah. Usai diberi minum, ia kemudian bangkit dan membagikan air teko tersebut ke sejumlah penonton.
***
Selama menonton, saya menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Ishvara, yakni komodifikasi gairah. Dalam heteronormativitas, laki-laki sering kali dibentuk sebagai pendominasi dalam urusan domestik, terkhusus di ranjang. Laki-laki dituntut untuk selalu prima dan perkasa saat sedang melakukan hubungan seksual, seolah-olah laki-lakilah yang mengatur semua ritme seks. Sedang perempuan, ia hanya objek yang harus selalu siap sedia untuk “dipuaskan” dan “ditaklukkan”. Maka, ranjang adalah arena pertaruhan bagi harga diri laki-laki. Apakah ia sanggup berlama-lama melakukan seks? Apakah ia sanggup membuat pasangannya puas? Apakah ia sanggup membuat pasangannya lemah tak berdaya karena digempur habis-habisan? Karena jika tidak, maka maskulinitas dan keperkasaannya otomatis dipertaruhkan. Tampaknya, hal ini turut merangsang kapitalisme untuk tidak diam saja. MARI KITA PERDAGANGKAN GAIRAH ITU!!!
Kembali ke Mak Erot. Sosok Mak Erot sendiri sebenarnya cukup memantik banyak pertanyaan, seperti apakah Mak Erot merupakan representasi perempuan yang berhasil merebut kuasa akan tubuhnya? Apakah Mak Erot memiliki agensi penuh akan apa yang dilakukannya? Apa yang Mak Erot rasakan ketika sedang melakukan praktik alternatifnya kepada para pasien lelakinya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu tidak bisa dijawab langsung oleh Mak Erot karena sudah meninggal dunia. Namun, mari kita coba untuk sedikit mengira-ngira.
Mungkin, sekilas, Mak Erot tampak jadi sosok perempuan tangguh dan perkasa karena bisa jadi dianggap “menaklukkan” kejantanan yang selama ini dikonstruksi untuk selalu jadi dominan. Namun, apa yang dilakukan Mak Erot sebenarnya adalah praktik-praktik yang masih berpusat pada phallus (Phallocentrism). Sekilas cukup menggelitik karena secara harfiah, apa yang dilakukan oleh Mak Erot memang berpusat pada phallus.
Mak Erot sebenarnya juga terjebak pada konstruksi yang dibuat oleh sistem heteropatriarki tentang bagaimana kekuasaan dan keberdayaan selalu milik laki-laki. Mak Erot pada akhirnya turut melakukan komodifikasi gairah. Namun tentu, saya sedang tidak menghakimi Mak Erot dalam tulisan ini. Ingat, saya masih bertanya, apakah Mak Erot mempunyai agensi penuh akan apa yang ia lakukan? Pertanyaan tersebut yang menentukan posisinya dalam percakapan mengenai komodifikasi gairah.
Ishvara, dengan apa yang sudah ia (re)presentasikan, sebenarnya bisa saja menggali banyak hal tentang Mak Erot sebagai salah satu sosok yang sangat erat jika kita berbicara tentang aphrodisiac dan komodifikasi gairah, mengingat, Ishvara pernah menafsirkan ulang tokoh Mak Lampir, sosok perempuan yang kerap kali didemonisasi. Ishvara bisa berbicara tentang aphrodisiac dan komodifikasi gairah, berangkat dari apa yang misalnya ia ketahui tentang Mak Erot.
Di segmen tertentu, Ishvara juga menampilkan visual berupa iklan-iklan obat kuat yang beredar di publik. Visual-visual tersebut mengiringi pertunjukannya, seolah-olah menebalkan bagaimana gairah serta maskulinitas dikomodifikasi. Lewat apa yang Ishvara tampilkan, sebenarnya juga menarik ketika kita bayangkan bahwa pertunjukan ini juga menggunakan pendekatan “semidokumenter” dengan menampilkan data-data yang Ishvara dapat dari risetnya. Pendekatan ini bisa jadi sangat menarik karena gerakan-gerakan Ishvara bisa saja merespons data-data yang ditampilkan.
Pertunjukan “Ecological Aphrodisiac” yang saya lihat adalah karya bertumbuh yang masih sangat mungkin berkembang pada kemudian hari. Usaha Ishvara adalah langkah yang menarik karena tubuhnya berusaha merespons arsip-arsip di luar tubuh dan diresonansikan dengan arsip yang dimiliki oleh tubuhnya sendiri. Selain itu, Ishvara juga menelusuri apa-apa saja yang queer di alam sembari mengkritik komodifikasi yang dilakukan kapitalisme terhadap gairah manusia. Hal itu tampak cukup terbaca.
Aldiansyah Azura
Penulis dan aktor. Buku pertamanya, Akika Ya Eyke! (Anagram, 2024)






