Sepanjang 2024 dan 2025, Komite Tari-DKJ menyelenggarakan berbagai program dengan berlandaskan pada perspektif Koreografi Sosial sampai Kebahagiaan Kolektif. Kedua perspektif tersebut bertransformasi sekaligus bertransmisi melalui program pengembangan kapasitas artistik, kemudian penerbitan artikel, penyelenggaraan festival dengan berbagai subprogram, sampai kemitraan yang dilengkapi dengan pengamatan.
Adapun kerja-kerja Komite Tari dirancang untuk bertaut antarperspektif dari tahun ke tahun. Dalam bentangan tersebut, terdapat program Telisik Tari yang menyimpan catatan tentang pertautan yang dimaksud; tidak hanya antara Koreografi Sosial dan Kebahagiaan Kolektif, tetapi termasuk upaya yang dilakukan oleh Komite Tari periode sebelumnya dan bagaimana Komite Tari periode ini mengekstensikannya. Untuk memberi konteks, Telisik Tari adalah program yang berfokus pada produksi pengetahuan tari dengan melakukan pembacaan ulang—awalnya pada kumpulan arsip tari koleksi DKJ berupa pemberitaan di media massa.
Tahun 2022 dipilih sebagai titik awal untuk membahas catatan tentang pertautan, yaitu terkait penelusuran arsip tari—yang berfokus pada artikel surat kabar dan majalah era ‘80-an tentang breakdance. Melalui Telisik Tari, breakdance diposisikan sebagai pemantik bersoal yang dituangkan dalam rangkaian artikel yang dimuat dalam telisiktari.id, kemudian dibahas dalam Seri Diskusi Publik DKJ. Dua hal yang mengemuka tentang breakdance, yaitu modernitas dan keurbanan, kemudian diolah kembali yang akhirnya membuahkan perspektif Expanded Choreography. Masih pada 2022, terkait program, perspektif tersebut berkelindan dengan festival film tari Imajitari, Artistic Development, dan Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON).
Lebih lanjut, pada 2023 Komite Tari bermitra dengan Direktorat Riset dan Pengembangan Universitas Indonesia untuk meneliti ritual Seblang di Desa Bakungan, Banyuwangi, Jawa Timur. Penelitian tersebut membuahkan perspektif Spiritualisme Urban—yang dapat dikatakan bertransmisi dengan Expanded Choreography; bahwa perihal koreografi bukan lagi sebatas apa yang ditampilkan di panggung, melainkan apa yang sejatinya terkandung dalam realitas secara sosial dan budaya. Inklusivitas tari pun mulai ditekankan dalam kerja-kerja Komite Tari. Telisik Tari pada tahun itu kemudian menyesuaikan dengan membangun perluasan cara pandang terhadap arsip; bahwa selain arsip koleksi DKJ, arsip dimaknai hadir pada tubuh, materi visual (video dan foto), dan ruang—baik spasial, temporal, sampai eksistensial.
Sekelumit catatan pertautan antarperspektif dan antarprogram di atas memosisikan penyelenggaraan program Komite Tari sebagai medan pembelajaran—terkait semangat memproduksi pengetahuan. Bila catatan pertautan kemudian mencantumkan perspektif Koreografi Sosial (2024) dan Kebahagiaan Kolektif (2025), kedua perspektif tersebut bukan “muncul untuk sekadar ada”, melainkan tumbuh secara organik, berdasarkan berlatih mencermati dinamika—awalnya terkait tari—untuk melihat kemungkinan bagi tari itu sendiri, termasuk bereksperimentasi dalam program. Semisal kembali pada 2023, terkait pandangan bahwa arsip hadir pada materi visual, Komite Tari mencoba membuat siniar atau podcast Telisik Tari sebanyak tiga episode, yang melibatkan narasumber pelaku tari dalam ranah pertunjukan, koreografi, dan pendidikan tari.
Bahwa rumusan dari Koreografi Sosial sampai Kebahagiaan Kolektif mengandung nilai keragaman, kemudian terbuka kemungkinan untuk membahas tari yang dihubungkan dengan berbagai aspek realitas—sebagai pijakan seni—termasuk terbuka untuk diartikulasikan melalui bidang keilmuan selain seni. Bila dibentangkan sedari 2022 sampai 2025, adapun nilai keragaman telah menjadi bagian dari kerja-kerja Komite Tari, yang mengemukakan upaya untuk terstruktur (abstrak) dan berpola (konkret). Bentangan tersebut pada akhirnya mengerucut pada tiga perihal yang kerap dibahas, yaitu tubuh, koreografi, dan kolektivitas.
Terkait tubuh, semisal kembali pada 2022 tentang pembahasan breakdance dengan manifestasi b-boy atau b-girl, tubuh-tubuh tersebut tidak hadir tanpa konteks, tetapi dipengaruhi oleh transmisi aspek temporal dan spasial—sehingga membangun pengertian tubuh yang melampaui batasan fisik. Bahwa terbuka kemungkinan untuk memandang tubuh secara “ketubuhan”—terkait berbagai muatannya: seperti terpapar dengan dinamika realitas yang membangun daya bertahan hidup, dan menyimpan sejarah dalam ingatan individu dan kolektif—dari semangat zaman sampai berbagai peristiwa. Pengertian tersebut pun dipandang membuka kelanjutan kemungkinan terhadap perihal koreografi. Bila koreografi lazim terkait tari dan tubuh penari, maka kali ini pembahasan tubuh makin luas mengemuka bahwa tubuh sebagai elemen sosial yang geraknya dapat diamati, semisal pada warga dalam ruang tertentu, yakni urban dan kampung kota, suburban, pedesaan, kepulauan dan kelautan, dan lainnya.
Lebih lanjut, dengan tetap berpegang pada nilai keragaman, perihal kolektivitas pun berpantulan dengan pengertian interaksi, sebagaimana kerja-kerja Komite Tari sebagai bagian dari DKJ berkenaan dengan publik. Sampai di sini, penjabaran catatan pertautan dilanjutkan—dengan studi kasus penyelenggaraan Performing Arts Incubation Trajectory (PAIr) oleh ketiga komite seni pertunjukan DKJ (Tari, Teater, dan Musik) pada 2024. Dalam program gabungan tersebut, Koreografi Sosial diposisikan sebagai “lensa” untuk mengamati berbagai fenomena yang kemudian diolah menjadi karya bertumbuh oleh para seniman peserta program—yang berlatar belakang tari, teater, dan musik (sesuai bidang komite penyelenggara PAIr). Bahwa melalui PAIr, berlatih terkait pengertian interaksi dan publik diawali dari ranah kerja seni—yang telah diwaspadai akan berpantulan dengan publik yang berkelindan dengan dinamika sosial terkini. Sebagai ekstensi dari catatan pertautan, kembali pada 2022, Komite Tari telah bersoal tentang bagaimana membaca skena tari (termasuk terkait pascapandemi) melalui Seri Diskusi Publik DKJ; bahwa sebelum berpantulannya seni dan publik, dipandang perlu untuk mengamati dinamika dalam ranah seni dan tari itu sendiri.
Pantulan dari PAIr kemudian tumbuh dalam penyelenggaraan JICON, juga pada 2024, yaitu melalui subprogram FGD (focus group discussion) yang menghadirkan perwakilan warga dari lima titik di Jakarta dan sekitarnya, kuliah umum tentang Koreografi Sosial, dan kemitraan yang melibatkan komunitas tari dan lembaga pendidikan tari. Sampai pada 2025, untuk merayakan Hari Tari Sedunia, melalui program Jakarta Dance Meet Up (JDMU) diadakan survei untuk pegiat seni tari—yang kemudian membuahkan rekomendasi kebijakan terkait akses dan fasilitas bagi pegiat seni tari. Sementara interaksi langsung dengan publik dibangun melalui kelas tari gratis yang melibatkan berbagai komunitas tari sebagai pengampu. Pertautan antarperspektif dan antarprogram pun berlanjut, misalnya, melalui JICON, Komite Tari berkolaborasi dengan Komunitas Kahe dari Maumere, Nusa Tenggara Timur, untuk menyelenggarakan Benang Merah Festival. Pada titik ini, perspektif Kebahagiaan Kolektif diposisikan sebagai pijakan kuratorial yang membuahkan metode pelaksanaan festival. Kelanjutan produksi pengetahuan pun mengemuka dari pemosisian tersebut bahwa perspektif yang sebelumnya mendasari program terbuka untuk diberdayakan sebagai metode, pemantik untuk mempertanyakan apa yang sudah ada, dan kritik. Demikian perihal tubuh, koreografi, dan kolektivitas terus diolah yang membuahkan kebaruan pendekatan, termasuk untuk terus menekankan inklusivitas tari.
Kebaruan yang dimaksud terlihat menjelang penghujung 2025, saat Komite Tari memadukan Telisik Tari dan JICON terkait kemitraan dengan berbagai pihak. Pada titik ini, peluang untuk memproduksi pengetahuan mengemuka dari memaknai ulang penyelenggaraan program, dengan mempertanyakan: bagaimana semangat festival dan laku riset dapat diselaraskan? Telisik Tari yang awalnya berhadapan dengan tumpukan arsip kemudian berhadapan dengan pementasan, presentasi karya bertumbuh, lomba, dan kelas tari; kali ini dengan menyertakan para pengamat lintas keilmuan untuk penguatan dan keragaman produksi pengetahuan. Pengamatan yang dilakukan pun membuahkan artikel tentang tari dengan berbagai perspektif (semisal pendidikan, sastra, dan psikologi) yang diterbitkan di telisiktari.id pada 2026.
Tentunya masih banyak detail yang bisa disampaikan dari catatan pertautan. Semisal kembali pada 2023 tentang penelitian ritual Seblang di Banyuwangi. Menjelang penghujung tahun itu, hasil tangkapan kamera saat meneliti ditunjukkan kepada publik untuk berbagi perihal kelanjutan dan relevansi tradisi di tengah dinamika pembangunan dan regulasi—terkait perspektif Spiritualisme Urban. Penggabungan program juga telah dilakukan pada tahun yang sama secara berjenjang, yaitu JICON memuat Telisik Tari, yang saat dibaca ulang mengemukakan kemungkinan amplifikasi; kembali terkait kerja-kerja DKJ berkenaan dengan publik. Kemudian kembali pada PAIr (2024), puncak program lintas komite tersebut mempertemukan seniman dan produser untuk membangun lintasan karya melalui berbagai platform; juga terkait amplifikasi yang dipandang penting bertransmisi dengan proses berkarya seni untuk suatu kontekstualisasi.
Pada 2026, dalam masa kerja Komite Tari periode ini yang akan selesai dalam hitungan bulan, memproduksi pengetahuan tetap menjadi penting untuk berada dalam bentangan. Adapun perihal tubuh, koreografi, dan kolektivitas dalam catatan pertautan dibaca ulang—yang kemudian mengarah pada perspektif “Tubuh, Ekologi, Warga”. Pada titik ini, koreografi diproyeksikan untuk dimaknai secara filosofis terkait pengertian tubuh (individu dan kolektif) yang berakal budi. Bahwa ekologi sebagai istilah alam dipandang mengandung daya koreografis dalam menata dirinya. Sementara itu, ekologi juga menjadi ruang kehidupan dan perlindungan bagi tubuh-tubuh di dalamnya. Sebagaimana tubuh-tubuh tersebut menumbuhkan pikiran dan tindakan berdasarkan interaksi dengan alam, demikian mengemuka “koreografi kesadaran dan kewaspadaan”.
Terima kasih.






