“Tuti in the City” merupakan salah satu karya yang dipentaskan dalam rangkaian pertunjukan Helatari 2023 di Teater Salihara pada 24–25 Juni 2023. Yola Yulfianti sebagai koreografer tamu bersama dengan Dan(s)ity dan Lasteam689 menampilkan “Tuti in the City” dengan durasi 60 menit.
Pertunjukan tari ini bersoal mengenai hubungan sebab akibat antara tari, tubuh, dan gerak dalam peristiwa sehari-hari dalam ruang kota. Seperti kita ketahui dan hadapi pada kegiatan sehari-hari dalam ruang kota, kerap dipenuhi dengan dinamika, keriuhan, ketidakpastian dalam perubahan, hingga keributan-keributan atas objek yang kalau dipikir-pikir mengapa perlu diperebutkan dan diributkan.
Pada sinopsis Helatari, disebutkan bahwa realitas ruang-ruang kota Jakarta yang kompleks dan bersifat transformatif, sehingga realitas keseharian selalu mengalami disjungsi peristiwa dari gerak keseharian masyarakatnya.
Elemen dan Alur “Tuti in the City” dalam Deskripsi
Dan(s)ity menghadirkan Josh Marcy (Josh), Siko Setyanto (Siko), dan Nudiandra Sarasvati (Nudi). Tiga penari yang sudah tak asing di jagat pertunjukan tersebut masing-masing membawa ember, tetapi mereka masih saling memperebutkan sebuah ember berwarna merah.
Ember merah yang dianggap sebagai hal sederhana mampu memunculkan tegangan. Objek menjadi tegangan tubuh dan antartubuh. Perebutan ember menjadi perebutan kursi. Tegangan ini diiringi dengan suara empat mainan elektronik anak-anak yang bising bunyinya, seperti di pasar malam.
Empat penari remaja dengan karung sepatu bekas, ring light dan seorang streamer yang sibuk berceloteh berinteraksi dengan penontonnya: Weyyy… Penari anak-anak bermain-main seolah-olah seperti sedang berada di ruang publik. Berapa lama sudah berlalu tidak kita saksikan anak-anak yang bermain-main bersama, tanpa hape, tanpa virus dan pandemi?
Pemanasan latihan tari, lompat-lompat, anak-anak bermain gerak breakdance. Balon-balon beterbangan lalu anak-anak bubar menyisakan seorang anak yang bermain balon biru. Balon biru yang kemudian diperebutkannya dengan seorang anak yang lain. Lagi-lagi berebut sebuah objek berwarna.
Penari remaja dengan level energi yang berbeda muncul pada babak baru. Dinamis, dengan iringan lagu Blood on the Dance Floor (1997), lalu digantikan dengan penari dewasa yang melakukan freestyle dengan gaya ketubuhan masing-masing. Apakah mereka sedang berkompetisi? Mungkin. Sebab, kemudian tegangan tampak semakin menajam dengan adu gerak yang saling menabrakkan bahu, adu kekuatan, adu jegal, adu dorong. Tegangan itu disela dengan penari anak-anak yang kembali ke panggung, penari remaja yang berjalan dengan kaki telanjang dan sepatu di tangan. Beberapa penari remaja saling melompat untuk membenturkan diri. Diperlihatkan juga bagaimana penari remaja putri membenturkan tubuhnya ke tembok kanan dan kiri ruang pertunjukan, dan penari remaja laki-laki berada di tengah-tengah untuk memberikan gangguan. Bagian ini ditutup dengan seorang penari remaja yang melompatkan diri ke dalam kerumunan penari remaja lainnya
Kompetisi adalah keseruan bagi yang muda. Streamer yang berada di posisi tengah belakang sebagai latar sekaligus point of interest, sebagai utama yang mengganggu sekaligus menjadi yang mengganggu dari yang utama. Streamer menjadi sosok yang fokus pada kegiatannya, tak acuh dengan perubahan kompetisi di panggung.
Penggunaan sepatu dan penari yang melompat ke dalam kerumunan, serta penari yang berusaha menyentuh semua orang, adegan menabrak tembok kosong serta situasi streamer yang berceloteh mengomentari penontonnya agar penonton streaming-nya memberikan like atau gift lebih. Semua itu memberikan nuansa pertanyaan besar tentang ruang digital, seperti kompetisi satu orang melawan semuanya dan masing-masing dengan kesibukannya sendiri-sendiri.
“Huwaaa… huuuwaaa…”
“Tatatatatata…”
“Weyyy…”
“Weeey juga!!!”
Semua sosok tampak sibuk, terasa gemuruh, sekaligus bising.
Siko, Nudi, dan Josh kembali ke tengah arena. Masing-masing, mereka meniup sebuah balon. Suara ketukan pada pantat ember oleh para penari kecil dari dua arah pintu masuk mengiringi penari remaja yang bergulir keluar dari samping arena. Kembali semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Sebuah balon meletus.
Balon penari lain diperebutkan.
Nudi memosisikan diri di tengah depan arena untuk bersiap-siap mengikat rambutnya, mengenakan wig. Celoteh streamer kembali terdengar mengomeli penonton streaming-nya agar memberikan dukungan lebih atas tayangannya. Nudi telah mengenakan wig putih dan bersiap dengan ember merah. Streamer lalu berpindah posisi ke bangku penonton, beserta peralatan streamingnya.
Nudi dengan busana rancangan @iyonono berdiri di tengah arena, memegang ember merah dengan gestur yang anggun, beberapa kali menghentikan gerakannya seperti seorang model foto fesyen yang menantikan bunyi klik pada kamera. Perlahan Nudi mengubah beberapa pose gestur yang tetap anggun dengan ember merahnya, lalu dia mulai mengeksplorasi keseimbangan tubuhnya di atas ember merah yang diletakkan di lantai.
Nudi mencopot wig putihnya. Ember merah digunakan sebagai tutup kepala dan wajahnya. Semua penari kembali hadir ke dalam arena dengan masing-masing membawa ember. Bersama-sama mereka bergerak maju sedikit demi sedikit ke arah tempat duduk penonton. Dengan tabuhan pantat ember, para penari berkeliling arena pertunjukan, dengan Nudi kembali mengolah gerak dengan anggun dengan ember merah di kepalanya.
Siko dan Josh bergabung dengan Nudi di tengah arena, mengolah gerak tubuh dengan perlahan dan anggun, dengan ember masing-masing di kepala. Beberapa saat, streamer beranjak keluar dari arena. Lampu pertunjukan berubah menjadi merah redup. Siko mengolah gerak tubuh menjadi gerakan anggun seperti gestur seekor burung yang hendak terbang tinggi. Gerakan yang terdukung oleh bentuk rancangan busana rancangan @iyonono, yang dikenakannya. Josh mengolah gerak tubuh menjadi gerakan yang mengecilkan tubuh, dan melengkungkan tubuhnya seperti menerima terjangan sesuatu dari luar. Bukan gestur tubuhnya yang melawan terjangan, tetapi justru gestur tubuh Josh seperti menerima terjangan demi terjangan dengan penerimaan yang anggun dan perlahan. Bisa dibilang Josh menerima terjangan demi terjangan, justru dengan kelembutan dan penuh rasa penerimaan. Gerak mereka bertiga terus berulang dan makin intensif, makin perlahan dan diiringi oleh makin redupnya pencahayaan.
Arena pertunjukkan yang gelap menyisakan seorang penari anak kecil di ujung belakang arena yang sedang memainkan gim di telepon genggamnya dan atmosfer bunyi dan visual dominan pada kegiatan anak yang bermain gim tersebut.

Dokumentasi: Komunitas Salihara, LasTeam689
Kelindan Subjek dan Objek dalam Spektrum Tata Tari “Tuti in the City”
Berkaca pada amatan atas karya Yola maupun para penari dari Dan(s)ity—dalam kerja kolaboratif Yola, Dan(s)ity & Lasteam689—tampak bahwa masing-masing pihak membawa ruh dan elemen kekuatannya masing-masing, lalu menumpuk ke dalam satu karya “Tuti in the City”. Tumpukan ruh dan elemen ini bukan seperti tumpukan elemen dalam jukstaposisi, melainkan lebih pada bagaimana kesan dan rasa yang muncul ketika menonton bagian-bagian dalam “Tuti in the City” seperti mengingatkan pada karya-karya Yola maupun Dan(s)ity sebelumnya.
Sulit untuk dikategorikan, mana yang Yola dan mana yang bukan, karena kesatuan karya ini ada pada berkelindannya keseluruhan elemen pertunjukan. Jujur saja, saya kurang mampu mengamati perubahan pencahayaan lebih rinci selain penggunaan lampu sorot pada awal, pencahayaan yang merata pada keseluruhan arena, atau gelap total yang dihadirkan agar cahaya dari handphone anak kecil atau ring light streamer menjadi dominan serta penggunaan warna merah pada akhir pertunjukan. Saya pun kurang mampu mengingat penataan atau perubahan atmosfer bunyi yang dihadirkan dalam pertunjukkan.
Kata “mengingat” bukan berarti sekadar memindahkan hal yang sama persis, melainkan menampakkan sifat-sifat transformatif maupun pergeseran-pergeseran dalam bagian-bagian dalam karya tari. Contohnya, permasalahan air oleh warga kota menjadi topik yang pernah diangkat oleh Yola dalam “Payau” pada 2004. Di dalam “Tuti in the City” persoalan air tidak lagi dihadirkan dalam bentuk air, tetapi air diolah menjadi ember, yang kerap diperebutkan. Ember sebagai objek yang menjadi isu pembuka sekaligus penutup dalam “Tuti in the City”.
Nudi ditampilkan dalam imaji foto yang merepresentasikan “Tuti in the City” pada media sosial maupun booklet pengantar yang dibagikan kepada penonton, tampak menggunakan adibusana dan wig yang kontras dengan situasi ruang kota yang padat di sekelilingnya. Pembentukan subjek karakter ini dapat dipandang sebagai transformasi pada karakter dalam karya tari yang diciptakan oleh Yola sebelumnya, “Miss Wati” pada 2018. “Miss Wati” dimainkan oleh Yola yang menggunakan daster, sendal jepit, wig ungu, kacamata hitam, dan balon, yang berkeliaran di ruang-ruang publik untuk berinteraksi melalui respons warga sekitar. Demikian halnya dengan yang tampak pada akun Instagram Dan(s)ity yang memperlihatkan proses latihan Nudi di ruang publik yang memperlihatkan jejak keserupaan dengan “Miss Wati”
Dalam salah satu karya pada program Dan(s)ity, “My Beautiful City: Jakarta Side B” tampak sebuah gagasan untuk melibatkan, kalau boleh dibilang meleburkan kelompok penari inti dan partisipasi masyarakat tari, terutama dari golongan kaum muda tari. Di “Tuti in the City” keterlibatan Lasteam689, yang diinisiasi oleh Yulfan “Reboo” Annur Guluda, sebagai komunitas tari Hip Hop memiliki anggota yang berumur tiga hingga 20 tahun, menampakkan hal yang serupa dengan bentuk yang berbeda dengan karya Siko Setyanto “Ora Obah Ora Mamah”.
Secara pengembangan dan regenerasi seni tari, jelas hal ini dapat dipandang sebagai suatu hal yang strategis. Ada empat hal yang dapat digaris bawahi tentang hal strategis ini:
Pertama, melibatkan kaum muda, dalam latihan dan pentas, berarti mentransfer pengetahuan tari, serta membiarkan mereka mengobservasi bagaimana tata kelola dan ekosistem tari yang ditawarkan oleh kerja kolaborasi ini. Di sisi lain, panggung pertunjukan sekelas Teater Salihara telah dijadikan lahan untuk ekspansi kaum muda, berikut rombongan keluarga mereka sebagai massa penonton dan pendukung, untuk merangkul sekaligus mengedukasi publik tentang ekosistem tari, terutama dari segi kepenontonan.
Kedua, kehadiran penari anak-anak dan remaja ini menjadi salah satu elemen penting dalam pertunjukan “Tuti in the City” yang menghadirkan konsep atau konteks ruang urban kota. Kita tahu persis bahwa dinamika ruang kota tidak mungkin lepas dari kegiatan anak-anak dan para kaum muda. Sejak pagi hari, hingga siang dan menjelang sore maupun malam, dinamika kota tak pernah lepas dari, oleh, dan untuk kegiatan kaum muda. Kemacetan saat masuk dan pulang sekolah, pengembangan diri, belajar di rumah, eksplorasi dan main di sekitaran rumah, mal, tempat ibadah, penjual jajanan, semua unsur dalam ruang kota dapat disibukkan oleh mereka.
Ketiga, dalam alur deskripsi, terlihat bagaimana isu perebutan objek antarindividu dan tegangan yang muncul, tampak kemudian diikuti oleh kaum remaja, tetapi pada suasana kompetitif yang lebih sehat. Suasana kompetitif itu pun berulang kali terhenti dan tersela oleh kehadiran anak-anak. Gambaran situasi ini merupakan hal yang seolah-olah lumrah kita temui di keseharian. Subjek yang lebih tua sibuk berebut, padahal sudah memiliki objek masing-masing. Subjek kaum muda lebih suka berkompetisi dengan suasana yang lebih sehat, walaupun muncul juga gontok-gontokan. Semuanya tersela dengan kehadiran subjek anak-anak, seolah-olah semua masih punya malu jika tampak berebut dan gontok-gontokan di depan anak-anak. Jika alur ini dipandang terbalik, karya ini menampakkan pandangan Yola tentang dunia anak-anak itu ceria, penuh rasa ingin tahu dan penuh eksplorasi sehingga perlu dilindungi dari situasi kota yang kompetitif. Di sisi lain pandangan Yola atas kaum muda adalah pentingnya untuk berkompetisi dalam suasana yang sehat dan gontok-gontokan itu merupakan dinamika yang umum terjadi.
Keempat, keberadaan Josh, Siko, dan Nudi dalam karya Yola ini pun dapat dibaca mengenai kelekatan hubungan Dan(s)ity dengan “Tuti in the City” beserta segenap hubungan-hubungan timbal balik yang muncul dalam proses pengkaryaan. Dan(s)ity sebagai kelompok tari berbasis eksplorasi dan eksperimentasi tubuh dan budaya urban, diinisiasi oleh tiga koreografer, yaitu Josh Marcy, Siko Setyanto dan Yola Yulfianti, pada 2021 di Jakarta. Dan(s)ity memilih untuk memosisikan diri sebagai bagian dari ekosistem seni dengan konteks urban dan keberagaman kompleksitasnya sebagai latar belakang. Akibatnya, latihan yang dibangun berdasarkan komitmen terhadap profesionalisme khususnya pada bidang tari, untuk mengeksplorasi kemungkinan penjelajahan baru dalam proses kreatif untuk menghasilkan karya-karya yang berbasis seni pertunjukan khususnya di skena tari kontemporer, eksplorasi teknik tari, dan tubuh.
Nudi menjadi salah satu penari Dan(s)ity yang muncul secara berurutan dalam karya-karya Dansity sebelumnya, sehingga kehadirannya dalam karya ini memperlihatkan bagaimana signifikansi kedekatan dan proses berkarya yang berkelanjutan. Nudi dan warna merah sepertinya sulit dipisahkan pada karya-karya yang terkait dengan Dan(s)ity. Dari pencahayaan merah dalam “Inter-FACE” karya Yola Yulfianti pada 2022; atasan merah dalam “Ora Obah Ora Mamah” karya Siko Setyanto pada 2022; kostum rancangan busana @iyonono berwarna merah di “Hidden Figures” karya Josh Marcy di tahun 2022; dan kini ember merah di “Tuti in The City”. Bedanya, dalam “Tuti in The City” Nudi tampil dalam ekspresi wajah, gestur dan gerak tubuh yang rapuh, serapuh manusia yang biasa dijumpai di ruang-ruang kota. Nudi tidak menampilkan performa yang seintimidatif seperti dalam karya Dan(s)ity sebelumnya. Hal ini diakui Nudi dalam pembicaraan sekilas sesudah pentas hari pertama. Sepertinya treatment yang dilakukan Yola adalah mengolah tampilan intimidatif Nudi menjadi tampilan yang tidak acuh dan berjarak. Yola menampilkan Nudi sebagai satu sosok menarik yang dijumpai di dalam aktivitas keseharian di ruang kota, yang meraup segenap perhatian pandangan, yang seketika itu berjumpa lalu terpisah tanpa pernah bertemu lagi.
Siko, yang dalam karya-karya sebelumnya berkisah tentang situasi urban oleh orang-orang yang bergerak untuk meraih puncaknya masing-masing. Dalam “Tuti in The City” Siko mengenakan kostum rancangan @iyonono yang tampak bersayap, lalu ia berkali-kali memperlihatkan gestur-gestur gerak seolah-olah terbang, melayang makin tinggi dan tampak terbebaskan dari belenggu-belenggu imajinatif.
Bentuk tubuh Josh Marcy dalam kostum dari perancang yang sama, tampak masif dan kokoh, tampak berkali-kali menampakkan gerak dan gestur yang membuka diri untuk menerima hantaman atau terjangan imajinatif dari luar. Josh sebagai penari, tampak lembut dan luwes dalam gerak dan gestur alih-alih menjadi tampak masif dan mengisi panggung seperti kehadirannya dalam karya-karya sebelumnya.
Sepertinya, Yola memang memberikan ruang bagi dua kolaboratornya di Dansity, Siko dan Josh, dalam “Tuti in the City” untuk menunjukkan proses sesudah program Dan(s)ity, “My Beautiful City: Jakarta Side B”. Yang mana memang tampak seolah-olah dalam karya Yola ini, Siko dan Josh sebagai penari seperti sedang menceritakan proses perubahan yang dialami secara personal tersebut.
Di sisi lain, proses latihan eksploratif untuk mensintesakan apa yang hendak diungkapkan Yola, seperti yang terlihat dalam media sosial Dan(s)ity. Yola mendorong para penari untuk merasakan interaksi eksistensinya masing-masing di dalam situasi ruang urban yang kompleks. Treatment latihannya yang memboyong para penari untuk bereksperimen dengan tubuhnya, dengan atau tanpa kostum untuk merasa, bergerak, dan berinteraksi untuk menjadi bagian dari ruang publik itu sendiri. Selain itu, di media sosial tersebut ditampakkan pula proses-proses berkarya di tempat latihan formal yang memperlihatkan bagaimana eksplorasi pada interaksi antar penari terhubung dengan karya-karya sebelumnya di mana masing-masing penari pernah berkolaborasi satu sama lainnya. Rekaman yang dikirimkan dalam sosial media mengenai proses berkarya di sini, posisinya menjadi esensial untuk dapat memahami suatu karya pertunjukan tari.
Dari temuan-temuan dalam amatan tentang personel kelompok Dan(s)ity tersebut, baik dari karya-karya terdahulu maupun dari media sosial, dapat menjelaskan bahwa situasi-situasi yang muncul dalam bagian “Tuti in the City” tampak begitu berakar dan bertumbuh dari karya-karya masing-masing sebelumnya. Saya mengasumsikan bahwa karya-karya sebelumnya yang final dan mengganggu batin penonton, dalam “Tuti in the City” karya-karya tersebut justru tampak terjukstaposisi dan berkelindan seperti pijakan dan proses kecil yang berlalu begitu saja dalam benak. Dalam perbincangan dengan Yola, tak hanya sekali saya mendengar pernyataan bahwa setiap karya merupakan proses berkelanjutan untuk menghasilkan karya berikutnya.
Perluasan Spektrum Kepenontonan Tari “Tuti in the City”
Dari aspek kepenontonan, saya menelisik spektrum tata tari Yola dalam “Tuti in the City” dengan jarak, tanpa wawancara yang spesifik terhadap koreografer, maupun hal-hal lain yang umum dilakukan ketika seseorang hendak meneliti sebuah karya. Saya memilih untuk menelisik ingatan saya sebagai penonton karya-karya sebelumnya, menelisik media sosial kelompok dan personal hingga mencatat dan mengamati perubahan alur dan elemen dalam karya.
Dapat dikatakan bahwa dari menelisik media sosial, saya dapat mengenali jejak-jejak proses berkarya sebelumnya yang kemudian secara asosiatif terhubung dengan apa yang saya tonton sebelumnya, maupun yang saya tonton dalam spektrum tata tari Yola dalam “Tuti in the City”. Dapat dikatakan pikiran secara konseptual, tentang bagaimana Yola sampaikan lewat pernyataan karyanya, bahwa realitas ruang-ruang kota Jakarta yang kompleks dan bersifat transformatif sehingga realitas keseharian selalu mengalami disjungsi peristiwa dari gerak keseharian masyarakatnya. Dalam karya ini, justru komparasi dua objek bukan bersifat berlawanan maupun memiliki logika rasional yang matematis seperti definisi kata disjungsi, melainkan komparasi antara dua objek justru muncul sebagai nalar tentang alur. Demikian halnya dengan kata kunci kompleksitas dan transformatif. Nalar tentang alur, menjadi kekuatan konseptual yang bersifat naratif pada “Tuti in the City”.
Bagi penonton yang awam dengan karya-karya, maupun subjek-subjek pelaku, nalar tentang alur naratif menjadi hal yang bisa dinikmati untuk mendapatkan impresi dari pesan yang hendak Yola sampaikan. Keriaan, keruwetan, persaingan, kehangatan dan sebagainya, muncul silih berganti menggambarkan kompleksitas ruang publik. “Tuti in the City” sangat mudah untuk dicerna untuk penonton awam.
Bagi penonton yang mungkin mengikuti karya-karya maupun subjek-subjek pelaku, “Tuti in the City” seakan memiliki impresi bahwa Yola punya niatan untuk menumpuk dan memuntahkan segalanya dalam satu karya, termasuk mewadahi pikiran-pikiran dari para partisipator. Seolah-olah semua unit memiliki kebebasan dalam menginterpretasikan konsepsi yang berasal dari isi kepala Yola. Kemerdekaan memaknai dan menjalani itu menjadi hal yang semakin bernilai dan langka di masa kini. Hal ini dapat dijustifikasi sebagai pemikiran kesenimanan yang logis dari Yola. Namun di sisi lain, tampak bagaimana spektrum karya tari dan spektrum tata tari “Tuti in the City” justru memperlihatkan kekuatan masing-masing yang diletakkan dalam situasi menyatu dan harmonis tanpa ada satu atau beberapa yang mendominasi. Pada titik inilah dapat ditegaskan kematangan Yola sebagai penata tari justru diperlihatkan dengan yakin untuk menunjukkan suasana penalaran Yola dalam mengajak dan membaurkan berbagai kekuatan dari masing-masing subjek, dengan observasinya atas ruang kota dan segala kegiatan masyarakat di dalamnya. Dengan perspektif tersebut, kita menyaksikan ruang kota menjadi tempat nyaman untuk dieksplorasi dengan tubuh tari.
Ruang kota sebagai tempat nyaman untuk dieksplorasi dengan tubuh tari tampak dari paparan mengenai perubahan subjek-subjek yang terlibat jika dibandingkan dengan situasi dalam karya-karya masing-masing sebelumnya. Mungkin tanpa disadari, “Tuti in the City” menjadi ruang eksplorasi tidak hanya soal tubuh tari, tetapi juga batin tari dari masing-masing penari, untuk menampilkan progres dari proses meluaskan pengkaryaan masing-masing. Secara spesifik, usaha untuk melibatkan penari anak-anak dan remaja pun menampakkan situasi perluasan spektrum urban, bahwa ekosistem yang baik diperlukan untuk menghubungkan masa lalu dari subjek-subjek terlibat dengan masa depan ekosistem tari. Tampak pula dari media sosial bahwa foto anak-anak dan remaja yang di-tag memperlihatkan rasa syukur dan bangga bahwa mereka berkesempatan untuk mempraktikkan apa yang dipelajari dalam situasi profesional.
Meskipun begitu, bagi saya, “Tuti in the City” tidak menjadi karya yang menohok batin, tetapi pertunjukan tari ini memberi saya pengetahuan baru untuk menalarkan perluasan spektrum tata tari, spektrum tari, spektrum tubuh tari, dan spektrum urban, yaitu spektrum kepenontonan. Akibatnya, pertanyaan renungan tentang “Perlukah perluasan tari (expanded choreography)? Atau, jangan-jangan memang tari sendiri sejatinya terbebaskan seiring perjalanan progres dan proses dan tak perlu di-expanded-kan?” tidak lagi mengganggu di benak saya. Kemerdekaan memaknai dan menjalankan status kepenontonan pun tanpa kita sadari, telah ikut membentuk dan mengembangkan spektrum tari.
Sesudah “Tuti in the City”, bagi saya, tari tak lagi pernah sama. Tari tidak sekadar tubuh yang bergerak, tidak hanya soal tata tari, teknik tari, tata kostum, tata cahaya, panggung, dramaturgi, atau elemen teknis lainnya. Namun, tari adalah perjalanan batin pemilik tubuh itu sendiri dalam menalarkan kehidupan yang penuh perubahan akibat hubungan antara subjek-subjek, subjek-objek, subjek-objek-subjek, dan subjek yang menonton hubungan-hubungan itu di dalam ruang kota.
“Tuti in the City” mendorong saya untuk terus ikut terlibat dalam spektrum kepenontonan dalam menyemangati semua yang terlibat dalam ekosistem tari untuk aktif mempertontonkan progres dari proses pengkaryaan mereka melalui medium media sosial hingga ke pertunjukan dan ke pertunjukan karya berikutnya. Seandainya, mereka yang terlibat dalam karya ini tidak pernah mengunggah proses pengkaryaan, mungkin tulisan ini pun tak akan pernah ada.
Referensi:
Yulfianti, Yola. et al. 2022. “Expanded Choreography”. Ed: Sonya Indriyati Sondakh. Dewan Kesenian Jakarta. Jakarta.
Yulfianti, Yola. 2004. “Payau”
Yulfianti, Yola. 2018. “Miss Wati”
Yulfianti, Yola. 2022. “Inter_FACE” dalam Program Dansity My Beautiful City: Jakarta Side B.
Setyanto, Siko. 2022. “Ora Obah Ora Mamah” dalam Program Dansity My Beautiful City: Jakarta Side B.
Pattiwael, Josh Marcy. “Hidden Figures”dalam Program Dansity My Beautiful City: Jakarta Side B.
https://www.instagram.com/dansity.id
https://www.instagram.com/sukuyola
https://www.instagram.com/josmarcy
https://www.instagram.com/sikosetyanto
https://www.instagram.com/nudiandrasaravati
https://www.instagram.com/lasteam_689
https://www.instagram.com/iyonono
Moelyono Rahardjo
Dosen seni






