Medan yang Sedang Dibentuk
Saya datang ke Gudskul pada 21 Desember 2025 untuk menjadi bagian “Medan terLiar”, salah satu karya yang terlibat program Telisik Tari Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta. Namun, hubungan saya dengan karya ini telah berlangsung sebelum hari itu. “Medan terLiar” adalah karya Siko Setyanto bersama DRKR Kolektif yang sudah beberapa kali dijalankan sejak Jakarta Dance Meet Up Komite Tari DKJ 2025. Di dalam perjalanan karyanya, kemudian saya dipercaya menjadi rekan diskusi untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan dramaturgisnya sekaligus mencatat pengetahuan yang tumbuh dan berbuah dari praktik tersebut. Dari percakapan-percakapan itu lahir sejumlah tulisan awal yang berusaha memahami “Medan terLiar” melalui arsip, catatan, dokumentasi, dan refleksi para pelakunya.
Karena itu, tulisan-tulisan awal saya tentang “Medan terLiar” ditulis dari jarak: Jarak dari tubuh, dari ruang, dan dari afek kolektif yang hanya dapat muncul ketika orang-orang benar-benar berkumpul. Baru setelah berada di Gudskul, mengikuti proses persiapan, dan menyaksikan karya ini berlangsung secara langsung, saya menyadari bahwa jarak tersebut tidak sepenuhnya dapat dijembatani oleh konsep. Ada pengetahuan tertentu yang hanya muncul ketika tubuh hadir di dalam situasi yang sedang dibentuk.
Saya datang ke Gudskul sehari setelah berbincang panjang dengan Siko Setyanto dan tim DRKR Kolektif. Saya datang jauh lebih awal, bahkan sebelum sebagian besar tim DRKR hadir. Selama beberapa saat saya duduk di warung-warungan Gudskul sambil menyelesaikan pekerjaan dan menikmati ritme Minggu siang yang berjalan lambat. Satu per satu anggota DRKR mulai berdatangan. Siko tiba lebih dahulu, lalu yang lain David, Rifo dan Denny menyusul secara bertahap sambil membawa perlengkapan masing-masing: speaker, alat musik, kabel, proyektor, lampu, dan berbagai benda yang beberapa jam kemudian akan menjadi bagian dari pengalaman “Medan terLiar”. Menariknya, hampir tidak ada yang langsung menuju aula. Sebagian besar singgah terlebih dahulu di warung-warungan Gudskul. Mereka memesan makanan ringan, berbincang, bertukar kabar, atau sekadar beristirahat setelah perjalanan. Pertemuan pertama hari itu berlangsung tidak dalam suasana produksi yang tegang. Kami ada dalam ritme nongkrong yang santai dan akrab. Baru setelah semua berkumpul, percakapan perlahan bergeser menjadi kerja.
Kami kemudian berpindah ke aula Gudskul dan secara perlahan mengubah ruang tersebut menjadi tempat berlangsungnya “Medan terLiar”. Saya sendiri ikut membantu menyusun bantal-bantal duduk. Di sudut lain, beberapa orang menata lampu LED di lantai. Yang lain memasang speaker, menghubungkan kabel, menguji proyektor, atau menyetel alat musik. Ruangan yang semula kosong mulai dipenuhi oleh aktivitas berbeda-beda, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama. Ketika sebagian besar kebutuhan teknis mulai terdistribusi, pekerjaan tidak berhenti begitu saja. Orang-orang bergantian makan siang, melanjutkan percakapan, lalu kembali bekerja. Pada saat yang sama, para peserta mulai berdatangan sesuai anjuran untuk hadir sekitar dua jam sebelum sesi dimulai. Mereka bertemu kami dalam keadaan masih bekerja, sebagian sedang makan, sebagian lain masih mengatur ruang. Tidak ada pemisahan yang ketat antara persiapan dan penyambutan. Peserta yang datang disapa di kantin, di halaman, maupun di aula oleh orang-orang yang beberapa menit sebelumnya masih sibuk memasang peralatan. Para peserta memasuki ruang yang sedang dibentuk.
Pengalaman pagi itu perlahan menggeser perhatian saya pada pertanyaan yang berbeda: Bagaimana sebenarnya “Medan terLiar” mengorganisasi hubungan? Seiring karya ini berlangsung, perhatian saya bergerak dari tubuh-tubuh yang hadir di ruang menuju relasi yang terbentuk di antara tubuh, benda, suara, instruksi, dan berbagai situasi yang muncul sepanjang peristiwa berlangsung. Untuk menjelaskan cara kerja tersebut, saya mengusulkan sebuah istilah yang akan menjadi benang merah esai ini: gravitasi instruksional. Melalui konsep inilah saya membaca “Medan terLiar” sebagai praktik yang mengorganisasi orientasi bersama dan memungkinkan bentuk-bentuk kolektivitas sementara muncul serta terus dinegosiasikan.
Gravitasi Instruksional
Makin lama saya berada di dalam “Medan terLiar”, makin saya merasa bahwa karya ini dibangun oleh proses penerjemahan yang terus-menerus berlangsung di antara instruksi dan tubuh. Pada banyak praktik partisipatoris, instruksi sering dipahami sebagai perangkat pengendali yang mengarahkan peserta menuju hasil tertentu. Namun, yang saya amati di Gudskul menunjukkan sesuatu yang berbeda. Instruksi memang hadir sebagai titik awal, tetapi respons yang muncul tidak pernah identik dengan apa yang diperintahkan. Di antara keduanya selalu terdapat ruang tafsir yang memungkinkan peserta menawar, mengubah, memperluas, atau bahkan sedikit menyimpang dari apa yang diminta.
Hal ini tampak sejak segmen-segmen awal. Dalam Nama Pada Tangan, misalnya, peserta diminta menuliskan nama mereka melalui gerak tangan. Jika dibaca sekilas, instruksi tersebut terdengar sederhana. Namun, ketika puluhan orang mulai melakukannya secara bersamaan, terlihat bahwa nama yang sama-sama berfungsi sebagai penanda identitas menghasilkan kualitas gerak yang sangat beragam. Ada yang menulis dengan cepat dan tegas, ada yang bergerak perlahan seolah sedang mengingat sesuatu, ada pula yang memperlakukan nama sebagai gambar yang harus dilukiskan kembali di udara. Instruksi yang sama menghasilkan bentuk-bentuk kehadiran yang berbeda. Yang muncul bukan keseragaman, melainkan variasi.
Pengalaman serupa juga terjadi dalam Tak Untuk Dipuji. Segmen ini mengundang peserta untuk bergerak “seburuk mungkin”, sebuah tugas yang secara implisit menangguhkan berbagai standar penilaian yang biasanya melekat pada tubuh. Akan tetapi, bahkan ketika diberi izin untuk gagal, setiap orang tetap merespons secara berbeda. Sebagian menjadikan instruksi tersebut sebagai kesempatan untuk bermain-main dan melebih-lebihkan gerak. Sebagian lain tetap bergerak dengan hati-hati, seolah rasa canggung dan kesadaran untuk tampil tidak dapat sepenuhnya ditanggalkan. Sekali lagi, yang menarik bukanlah hasil geraknya, melainkan jarak yang muncul antara instruksi dan pelaksanaannya.
Dari berbagai momen tersebut saya mulai melihat bahwa material utama “Medan terLiar” adalah relasi tubuh yang terbentuk ketika tubuh setiap orang berhadapan dengan instruksi. Instruksi tidak berfungsi sebagai cetak biru yang harus diwujudkan secara presisi. Ia lebih menyerupai orientasi sementara yang mengarahkan perhatian peserta menuju persoalan tertentu. Dalam satu segmen perhatian diarahkan kepada identitas, pada segmen lain kepada rasa malu, empati, kritik, ketenangan, atau energi kolektif. Yang dikoreografikan kemudian adalah cara peserta mengarahkan perhatian mereka terhadap pengalaman tertentu.
Di titik inilah posisi Siko menjadi penting. Sepanjang pertunjukan, ia hadir secara terus-menerus melalui suara, humor, cerita, dan instruksi yang ia berikan. Namun, kehadiran tersebut tidak bekerja seperti figur otoritatif dalam studio tari konvensional. Ia jarang memperbaiki bentuk gerak peserta dan hampir tidak pernah menuntut reproduksi gerakan secara presisi. Sebaliknya, yang ia lakukan adalah menjaga orientasi ruang. Ia menggeser fokus, mengubah tempo, menyesuaikan energi, dan memastikan setiap segmen tetap bergerak menuju tujuan yang diinginkan tanpa menentukan secara ketat bagaimana peserta harus mencapainya.
Karena itu, saya menggunakan istilah gravitasi instruksional untuk menjelaskan mekanisme kerja tersebut. Seperti gravitasi, instruksi menciptakan pusat orientasi yang menarik berbagai tubuh ke arah yang sama tanpa menghapus perbedaan lintasan masing-masing. Peserta tidak tunduk pada instruksi dalam pengertian disipliner, tetapi juga tidak bergerak secara sepenuhnya bebas dalam satu kualitas medan tarik. Mereka berada di dalam medan orientasi yang sama sambil terus mempertahankan cara-cara individual untuk meresponsnya. Di sinilah agensi performatif “Medan terLiar” perlu dibaca sebagai kemampuan tubuh untuk merespons struktur yang secara afektif mengundang partisipasi. Agensi yang hadir kualitas respons—seberapa lambat, seberapa minimal, seberapa ironis, seberapa personal.
Pemahaman ini sekaligus membantu menjelaskan mengapa “Medan terLiar” terasa berbeda dari banyak praktik partisipatoris yang dibangun di atas gagasan horizontalitas. Relasi kuasa tidak dihapus dari ruang. Instruksi tetap datang dari satu sumber. Urutan segmen telah ditentukan sebelumnya. Ritme ruang terus diarahkan. Namun, otoritas tidak digunakan untuk mengontrol bentuk, tetapi untuk menjaga kemungkinan. Siko tidak menghilangkan kuasa; ia mengoperasikannya sebagai koordinasi. Ia memastikan ruang tidak kehilangan orientasi, tetapi tetap memberi cukup ruang bagi peserta untuk menerjemahkan pengalaman tersebut dengan cara mereka sendiri.
Melalui gravitasi instruksional inilah “Medan terLiar” mengorganisasi sebuah kondisi yang menarik: puluhan orang dapat bergerak menuju arah yang sama tanpa harus menjadi sama. Instruksi tidak menghapus perbedaan, tetapi menyediakan kerangka yang memungkinkan perbedaan-perbedaan itu hadir dalam satu medan bersama. Dari sinilah bentuk kolektivitas yang ditawarkan karya ini mulai muncul.
Kolektivitas sebagai Koordinasi
Salah satu kata yang terus muncul dalam pikiran saya setelah menyaksikan “Medan terLiar” adalah kolektivitas. Namun, makin lama saya memikirkan pengalaman di Gudskul, makin saya merasa bahwa istilah tersebut perlu digunakan secara hati-hati. Yang berlangsung selama tiga jam itu bukanlah pembentukan komunitas dalam pengertian yang lazim. Tidak ada identitas bersama yang diproduksi. Tidak ada deklarasi nilai bersama. Tidak ada tujuan politik yang secara eksplisit menyatukan para peserta. Bahkan, sebagian besar orang yang hadir tidak saling mengenal sebelum memasuki ruangan. Mereka datang dari latar belakang profesi, pengalaman, dan hubungan yang berbeda dengan tari maupun seni pertunjukan.
Keberagaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan identitas atau profesi, tetapi juga dengan akses terhadap praktik tari itu sendiri. Berbeda dari banyak kelas tari yang mensyaratkan biaya, durasi latihan tertentu, atau kedekatan dengan lingkungan seni, “Medan terLiar” membuka kemungkinan partisipasi bagi orang-orang yang datang tanpa latar tari profesional maupun pengalaman artistik sebelumnya. Keterbukaan ini tentu tidak menghapus seluruh hambatan sosial yang menentukan siapa yang dapat hadir di Gudskul pada hari itu. Namun, ia memperluas ambang masuk partisipasi dan memungkinkan perjumpaan yang lebih beragam dibanding banyak ruang pembelajaran tari yang lebih terstruktur.
Justru karena itu, yang menarik untuk diamati adalah bagaimana “Medan terLiar” mengorganisasi relasi di antara orang-orang yang pada awalnya hadir sebagai orang asing satu sama lain. Sepanjang pertunjukan, peserta tidak diperkenalkan melalui profesi, institusi, atau posisi sosial tertentu. Mereka dipertemukan melalui serangkaian tindakan yang harus dijalani bersama: menulis nama, bertukar cerita, menerima tudingan, mengelola energi, mencari keteduhan, atau mengikuti ritme kelompok. Untuk sementara waktu, kategori-kategori yang biasanya mengatur perjumpaan sosial di kota kehilangan sebagian kekakuannya dan digantikan oleh situasi yang sedang dibangun bersama.
Kesan ini muncul kembali dalam beberapa percakapan setelah pertunjukan. Seorang peserta yang bekerja di sektor swasta mengatakan bahwa pengalaman tersebut membuat profesi terasa lebih cair (fluid). Saya tertarik pada pilihan kata itu. Cair tidak berarti hilang atau ditolak. Identitas profesional tetap ada, tetapi untuk beberapa jam ia berhenti menjadi kategori utama yang mengorganisasi hubungan dengan orang lain. Yang mengambil alih justru situasi yang sedang dijalani bersama. Orang tidak lagi terutama hadir sebagai pekerja kantor, penari, atau seniman, tetapi sebagai seseorang yang sedang berupaya merespons instruksi yang sama bersama orang-orang yang sebagian besar sebelumnya tidak mereka kenal. Dalam pengertian ini, “Medan terLiar” tidak menghapus keasingan antarpeserta. Yang terjadi justru pembentukan kapasitas untuk tetap berada dalam relasi meskipun keasingan tersebut tidak pernah sepenuhnya hilang.
Dalam konteks ini, segmen Teduh menjadi salah satu momen yang paling menarik. Secara visual, tidak banyak yang terjadi. Para peserta membentuk lingkaran, sebagian menutup mata, sebagian saling berpegangan tangan. Jika dilihat secara terpisah, adegan tersebut bahkan dapat dianggap banal karena bentuk serupa banyak ditemukan dalam lokakarya, pelatihan kelompok, atau kegiatan reflektif lainnya. Namun, kekuatan segmen ini tidak terletak pada bentuknya, tetapi pada posisinya di dalam keseluruhan rangkaian pengalaman. Setelah melewati berbagai instruksi yang mengharuskan peserta bergerak, berbagi, dan bernegosiasi dengan rasa canggung mereka sendiri, lingkaran tersebut menjadi semacam ruang tempat berbagi pengalaman dapat berada berdampingan tanpa harus diseragamkan.
Beberapa peserta tampak nyaman, sementara yang lain masih menunjukkan kecanggungan. Sebagian menggenggam tangan dengan erat, sebagian lain lebih longgar. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak dihapus. Namun, untuk sesaat mereka memperoleh bentuk bersama yang memungkinkan keberagaman pengalaman itu hadir dalam ruang yang sama. Di sinilah saya mulai melihat bahwa kolektivitas yang dibangun “Medan terLiar” lahir dari koordinasi.
Koordinasi yang saya maksud tidak hanya koordinasi gerak. Ia mencakup koordinasi perhatian, ritme, keberanian, kerentanan, bahkan rasa canggung. Sepanjang pertunjukan, peserta terus-menerus diajak untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang belum sepenuhnya dapat mereka baca. Mereka tidak diminta menjadi sama, tetapi diminta untuk tetap berada dalam hubungan dengan orang lain yang juga sedang menjalani ketidakpastian yang sama. Dengan demikian, kolektivitas muncul sebagai praktik yang terus-menerus dikerjakan.
Pemahaman ini menjadi penting ketika “Medan terLiar” dibaca dalam kaitannya dengan kehidupan urban. Kota modern cenderung mengorganisasi perjumpaan melalui kategori-kategori yang relatif stabil: pekerjaan, institusi, pendidikan, kelas sosial, atau jaringan profesional. Kita terbiasa mengenali dan dikenali melalui label-label tersebut. Akibatnya, banyak hubungan sosial berlangsung dalam kerangka yang telah ditentukan sebelumnya. “Medan terLiar”, meskipun tidak secara eksplisit berbicara tentang kota, justru bekerja pada material yang menyusun kehidupan urban sehari-hari: perhatian, jarak, rasa malu, keberanian, kepercayaan, dan kemampuan untuk berbagi ruang dengan orang lain yang berbeda.
Namun, “Medan terLiar” tidak menghadirkan Jakarta sebagai tema, narasi, atau objek kritik. Yang dilakukannya adalah mengaktivasi beberapa kondisi sosial yang juga bekerja di dalam kehidupan urban, lalu menyusunnya kembali dalam bentuk yang lebih sadar dan lebih terfokus. Dalam proses tersebut, peserta berlatih sesuatu yang makin langka dalam kehidupan perkotaan: Kemampuan untuk berbagi ruang, perhatian, dan pengalaman dengan orang-orang yang tetap berbeda dan sebagian tetap asing satu sama lain.
Pedagogi dan Latihan Kolektivitas
Salah satu hal yang makin terasa setelah pertunjukan berakhir adalah bahwa “Medan terLiar” tidak dapat dipahami sepenuhnya sebagai sebuah peristiwa artistik yang berdiri sendiri. Karya ini tumbuh dari praktik yang telah lama dikembangkan Siko melalui berbagai kelas dan ruang belajar terbuka bagi beragam latar belakang tubuh. Karena itu, meskipun “Medan terLiar” hadir dalam format pertunjukan, logika yang bekerja di dalamnya lebih dekat dengan latihan yang dipertaruhkan adalah proses membangun hubungan yang berbeda dengan tubuh, ruang, dan orang lain.
Pemahaman ini membantu menjelaskan mengapa sebagian besar segmen dalam “Medan terLiar” tersusun dari tugas-tugas yang tampak sederhana. Menulis nama, bergerak buruk, bertukar cerita, berdiam, mengikuti ritme, atau menerima tudingan bukanlah tindakan yang luar biasa. Tidak ada keterampilan teknis khusus yang harus dikuasai untuk melakukannya. Namun, justru melalui kesederhanaan tersebut peserta diajak memasuki situasi yang mengharuskan mereka menegosiasikan kembali hubungan dengan diri sendiri dan dengan orang lain. Yang dilatih adalah kemampuan untuk tinggal di dalam relasi.
Dalam konteks ini, konsep repertoar yang diajukan oleh Diana Taylor menjadi relevan. Taylor membedakan arsip sebagai pengetahuan yang disimpan dan direproduksi melalui dokumen, dengan repertoar sebagai pengetahuan yang hidup melalui tindakan tubuh. Repertoar tidak menunggu untuk dibaca; ia berlangsung ketika dilakukan. Perspektif ini membantu melihat bahwa “Medan terLiar” tidak bekerja terutama melalui penyampaian gagasan atau pesan tertentu. Yang diproduksi bukan pengetahuan dalam bentuk proposisi, melainkan pengalaman yang hanya dapat dipahami melalui keterlibatan langsung.
Ketika seorang peserta menarikan cerita peserta lain, misalnya, yang berpindah tidak sekadar isi cerita. Yang dipertaruhkan adalah upaya tubuh memahami pengalaman yang bukan miliknya sendiri. Ketika seseorang diminta bergerak “seburuk mungkin”, yang diuji bukan kemampuan menari, melainkan hubungan tubuh dengan rasa malu, penilaian, dan ekspektasi sosial yang selama ini melekat padanya. Dalam kedua contoh tersebut, yang diaktifkan adalah repertoar sosial yang sebenarnya telah dimiliki setiap peserta, tetapi jarang dihadapi secara sadar dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sudut pandang ini, sepuluh segmen “Medan terLiar” tampak kurang sebagai tema dan lebih sebagai perangkat latihan. Masing-masing segmen mengaktifkan repertoar yang berbeda: Orientasi terhadap ruang, identifikasi diri, hubungan dengan penilaian, empati, kritik, ketenangan, hingga energi kolektif. Tidak satu pun dari repertoar tersebut benar-benar baru. Semuanya telah hidup di luar ruang pertunjukan. Yang dilakukan “Medan terLiar” adalah memperlambat, mempertemukan, dan menyusun ulang repertoar-repertoar tersebut sehingga dapat dialami kembali secara sadar.
Nilai “Medan terLiar” tidak terletak pada apa yang berhasil dicapai dalam satu sore, tetapi pada latihan-latihan kecil yang memungkinkan hubungan sosial tertentu untuk terus dicoba dan diulang. Dalam pengertian ini, karya tersebut lebih dekat dengan pedagogi. Namun, pedagogi yang dimaksud bukanlah model pendidikan yang bergerak melalui transfer pengetahuan dari mereka yang tahu kepada mereka yang belum tahu. Yang muncul justru sebuah pedagogi partisipatif yang bekerja melalui pengalaman bersama, percobaan, dan negosiasi.
Melalui cara kerja semacam ini, “Medan terLiar” menawarkan kemungkinan yang menarik bagi seni pertunjukan kontemporer. Selama ini pendidikan tari sering dibayangkan sebagai proses menuju penguasaan keterampilan tertentu. Tubuh dilatih untuk mencapai standar yang dianggap baik, tepat, atau benar. “Medan terLiar” tidak menolak pentingnya keterampilan, tetapi ia membuka kemungkinan lain bahwa nilai artistik juga dapat muncul dari kemampuan mengorganisasi perjumpaan, membangun perhatian bersama, dan menciptakan kondisi bagi berbagai pengalaman untuk saling bersentuhan. Yang dipelajari menjadi apa yang dipertunjukkan, dan apa yang dipertunjukkan sekaligus menjadi cara belajar.
Dalam pengertian ini, “Medan terLiar” dapat dipahami sebagai latihan sosial yang bekerja melalui koreografi. Yang diorganisasi tidak hanya gerak tubuh, tetapi cara tubuh-tubuh yang berbeda belajar berbagi ruang, waktu, perhatian, dan ketidakpastian. Jika kolektivitas yang muncul sepanjang pertunjukan bersifat sementara dan rapuh, justru karena ia tidak dibangun sebagai identitas yang harus dimiliki, tetapi sebagai keterampilan yang terus dilatih.
Kolektivitas Material
Makin jauh saya memikirkan “Medan terLiar”, makin sulit melihat karya ini sebagai peristiwa yang berpusat pada tubuh peserta semata. Mungkin karena tiga puluh tubuh yang bergerak di ruang merupakan elemen yang paling mudah terlihat, perhatian sering kali langsung tertuju pada partisipasi manusia. Namun, jika menengok kembali apa yang berlangsung di Gudskul sejak sebelum pertunjukan dimulai, menjadi jelas bahwa pengalaman tersebut ditopang oleh jaringan kerja yang jauh lebih luas.
Sebelum ada tubuh yang bergerak, sudah ada orang-orang yang menggeser speaker, memasang lampu, menguji proyektor, mengatur posisi alat musik, dan menyiapkan ruang. Kesadaran inilah yang membuat saya akhirnya memahami mengapa Siko berkali-kali menekankan pentingnya DRKR Kolektif dalam percakapan kami sebelum pertunjukan. Awalnya, saya menganggapnya sebagai bentuk pengakuan terhadap para kolaborator. Namun, setelah menyaksikan langsung bagaimana karya ini bekerja, saya melihat bahwa “Medan terLiar” memang tidak lahir dari satu pusat kreatif yang kemudian didukung oleh elemen-elemen lain. Ia tumbuh dari kerja bersama berbagai praktik yang saling membentuk sejak awal.
Musik yang disusun Rifo dan Denny, misalnya, tidak berfungsi sebagai pengiring gerak. Ia tidak hadir untuk memperkuat emosi tertentu atau sekadar memberi ritme bagi tubuh peserta. Sepanjang pertunjukan, musik bekerja sebagai perangkat orientasi yang mengubah kualitas perhatian ruang. Pada beberapa segmen, bunyi membuka kemungkinan eksplorasi yang lebih luas; pada segmen lain, ia justru mempersempit fokus dan mengintensifkan pengalaman tertentu. Musik membantu membentuk kondisi yang memungkinkan berbagai pengalaman muncul.
Hal serupa juga terjadi pada teks-teks yang ditulis David Tandayu. Teks tersebut hadir sebagai fragmen-fragmen bahasa yang sesaat muncul, lalu menghilang kembali di setiap pergantian segmen. Fungsinya lebih dekat pada atmosfer daripada penjelasan. Ia menawarkan orientasi afektif tanpa pernah mengunci pengalaman peserta ke dalam satu penafsiran tertentu. Dalam konteks ini, teks turut ikut memproduksi ruang.
Peran material lain juga tidak kalah penting. Karpet yang pada awal acara tampak sebagai benda biasa perlahan memperoleh fungsi dramaturgis yang berbeda. Setelah Eskalasi Energi berakhir, karpet menjadi tempat orang duduk, bercakap-cakap, dan memperpanjang relasi yang baru terbentuk. Dengan cara yang sama, lampu mengubah kualitas suasana tanpa harus menjadi spektakel visual, sementara tata ruang memungkinkan jarak antartubuh terus dinegosiasikan dari satu segmen ke segmen berikutnya. Tidak satu pun dari elemen-elemen tersebut dapat dipahami sebagai pelengkap belaka. Semuanya berpartisipasi dalam membentuk apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan di dalam ruang.
Karena itu saya makin sulit melihat “Medan terLiar” sebagai karya yang memiliki satu pusat penggerak. Ia lebih menyerupai sebuah rakitan praktik yang untuk sementara waktu bekerja bersama. Tubuh peserta, instruksi Siko, komposisi musik DRKR, teks David, tata cahaya, karpet, speaker, dan ruang Gudskul membentuk suatu jaringan relasi yang saling memengaruhi. Pengalaman kolektif yang muncul tidak dapat direduksi pada salah satu elemen tersebut, karena ia lahir justru dari pertemuan di antara semuanya.
Dari perspektif ini, pertanyaan tentang kolektivitas tidak lagi dapat diarahkan hanya kepada manusia. Kolektivitas yang saya saksikan di Gudskul juga dibentuk oleh benda, suara, bahasa, dan ruang. Ia merupakan kolektivitas material yang memungkinkan berbagai tubuh mengalami situasi bersama. Orang-orang tidak berkumpul karena mereka terlebih dahulu menyepakati satu identitas atau keyakinan. Mereka dapat berada bersama karena untuk beberapa jam mereka bersedia diorganisasi oleh rangkaian material yang sama.
Kesadaran ini membawa kita kembali pada titik awal pembahasan mengenai gravitasi instruksional. Jika instruksi menciptakan orientasi bersama bagi tubuh-tubuh yang berbeda, maka material-material yang menyusun.
Penutup: Kolektivitas sebagai Keterampilan
Saya datang ke Gudskul dengan seperangkat pertanyaan mengenai partisipasi, representasi, agensi, dan berbagai perdebatan yang selama ini mengelilingi praktik seni partisipatoris. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hilang setelah pertunjukan berakhir, tetapi posisinya berubah. Yang paling menarik dari “Medan terLiar” bagi saya adalah bagaimana ia memproduksi kondisi-kondisi kecil tempat kehidupan sosial dapat berlangsung.
Melalui apa yang saya sebut sebagai gravitasi instruksional, “Medan terLiar” mengorganisasi perhatian tanpa menghapus perbedaan. Instruksi tidak digunakan untuk menghasilkan keseragaman, tetapi untuk menciptakan orientasi bersama yang memungkinkan berbagai cara berada hadir dalam satu ruang yang sama. Dari orientasi inilah muncul bentuk kolektivitas yang tidak bertumpu pada identitas, tetapi pada koordinasi; pada kemampuan untuk terus bernegosiasi dengan perbedaan.
Dalam proses tersebut, karya ini menawarkan sesuatu yang makin penting dalam kehidupan urban kontemporer. Di tengah ritme kota yang mendorong individu untuk terus bergerak, bekerja, dan memenuhi berbagai tuntutan performa, “Medan terLiar” tidak menjanjikan transformasi besar. Ia tidak menawarkan penyembuhan, komunitas ideal, ataupun solusi terhadap persoalan sosial yang kompleks. Yang ditawarkannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendasar: sebuah latihan.
Latihan untuk memperhatikan. Latihan untuk menunggu. Latihan untuk menerjemahkan. Latihan untuk berbagi ruang dengan orang lain yang tidak sepenuhnya kita kenal. Latihan untuk tetap berada dalam relasi tanpa harus segera menyelesaikan perbedaan yang ada.
Mungkin karena itu, ketika saya meninggalkan Gudskul sore itu, yang tertinggal adalah kesadaran bahwa kolektivitas merupakan keterampilan yang harus terus dilatih. Dan, dalam pengertian itulah “Medan terLiar” menawarkan kontribusi yang penting: sebagai praktik yang memungkinkan kehidupan bersama terus dicoba, diulang, dan dinegosiasikan kembali.
Taufik Darwis
Dramaturg






