Membaca praktik Byakta Babam melalui lensa “perkembangan karier” sering kali terasa tidak memadai—bukan karena Babam menolak kerangka tersebut, melainkan karena dalam konteks seni pertunjukan di Indonesia, logika karier itu sendiri jarang memiliki pijakan yang mapan. Tidak seperti sirkuit seni kontemporer yang mengenal kategori seperti emerging, mid-career, atau established artist, trajektori seniman seni pertunjukan di Indonesia kerap bergerak tanpa cetak biru yang dapat dijadikan rujukan bersama.
Pada fase sepuluh tahun awal berkarya, banyak seniman berada dalam periode eksplorasi yang padat dan tidak rapi. Fase ini bukanlah tahap untuk “menempati posisi”, melainkan ruang pengumpulan material, lintasan karya, percobaan bentuk, serta perumusan visi artistik. Ragam praktik yang muncul sering berjalan paralel, saling tumpang tindih, dan tampak sengkarut, tetapi justru di situlah pondasi praktik dibangun.
Dalam konteks ini, praktik Babam tidak bertumpu pada satu semesta tunggal. Ia tumbuh melalui beberapa semesta kecil yang bergerak berdampingan: Luna Kamarie di panggung kabaret, The Freak Show sebagai praktik performatif jamak yang cair, dan Proto Animalia Project sebagai kerja lintas musik dan performans bersama Mahamboro. Ketiganya tidak disatukan dalam satu garis linier, tetapi hidup melalui logika, sirkulasi, dan kebutuhannya masing-masing.
Tulisan ini mengusulkan pembacaan terhadap praktik Babam bukan sebagai rangkaian capaian individual, melainkan sebagai kerja mengatur berbagai semesta kecil agar dapat hidup secara bersamaan. Dalam pengertian ini, koreografi berkaitan dengan tubuh di atas panggung, dan juga bagaimana waktu, energi, relasi, sumber daya diatur agar berbagai praktik tersebut dapat terus bergerak.
Sengkarut Praktik, Cara-Cara Agar Tetap Bergerak
Jika praktik Babam dilihat sepintas, yang tampak pertama kali adalah ketidakteraturan. Berbagai proyek berjalan bersamaan, saling bersinggungan, dan kerap berpindah sebelum sempat dianggap selesai. Namun, sengkarut ini tidak hadir sebagai sesuatu yang perlu dirapikan atau disederhanakan. Sengkarut tersebut justru bekerja sebagai kumpulan cara agar praktik tetap bergerak di tengah medan seni pertunjukan yang cair, tidak stabil, dan jarang menyediakan jalur tunggal untuk dilalui.
Gerak praktik Babam berlangsung secara silang. Satu semesta tidak menunggu semesta lain selesai untuk muncul. Ketika Luna Kamarie menjalani ritme tampil yang berulang di panggung kabaret, The Freak Show terus berpindah bentuk—kadang hadir sebagai pertunjukan yang diinisiasi sendiri, kadang menempati ruang seni atau kafe, kadang menjadi bagian dari festival, dan pada kesempatan lain memilih menempel pada karya seniman lain. Sementara itu, Proto Animalia Project bergerak melintasi ruang musik, klub, dan festival populer. Ketiganya tumbuh dalam waktu yang bersamaan, saling menopang tanpa harus disatukan ke dalam satu proyek besar.

Foto 1. Yang Kita Kunyah di Meja Makan Keluarga (2025), karya komisi Telisik Tari–Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta yang diproduksi oleh Katalis Kolektif Koreografi. Dipentaskan di Gelora Baik, Yogyakarta.
Cara kerja semacam ini terlihat jelas dalam The Freak Show. Pada satu kesempatan, The Freak Show hadir sebagai semesta yang berdiri sendiri melalui karya-karya seperti Perjamuan Ayam Ayam dalam Pekan Budaya Nasional (2023) atau Yang Kita Kunyah di Meja Makan Keluarga (2025), karya komisi Telisik Tari–Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta yang diproduksi oleh Katalis Kolektif Koreografi. Dalam konteks ini, The Freak Show bergerak melalui logika dramaturginya sendiri, membangun semesta yang utuh bersama tubuh dan relasinya.

Foto 2. Kami Tidak Diundang Sejarah, Maka Kami Berakar di Tanah (2025), karya komisi Padepokan Seni Bagong Kussudiardja sebagai respons terhadap proyek Arif Furqan, Yang Timbul dan Tenggelam serta Ingatan yang Terukir pada Air. Dipentaskan pada 11 Juli 2025, di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.
Namun, pada kesempatan lain, The Freak Show memilih menempel dan menyusup. Pada 11 Juli 2025, atas komisi dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Babam menciptakan Kami Tidak Diundang Sejarah, Maka Kami Berakar di Tanah sebagai respons terhadap proyek Arif Furqan Yang Timbul dan Tenggelam serta Ingatan yang Terukir pada Air. Proyek Furqan berangkat dari pembacaan atas menyusutnya air Bendungan Gajah Mungkur, ketika jejak-jejak peradaban yang pernah ditenggelamkan kembali muncul ke permukaan. Tubuh-tubuh yang tidak mendapat tempat dalam narasi besar memilih jalur bawah tanah—menjalar, bertahan, dan tumbuh di ruang yang dianggap mati. Dalam konteks ini, The Freak Show tidak hadir untuk mengambil alih, tetapi bergerak sebagai lapisan: gestur, tubuh, dan kehadiran yang mempertebal narasi tentang ingatan, pinggiran, dan kehidupan yang enggan diam.
- Foto 3. Luna Kamarie dalam pementasan reguler di Raminten Cabaret, Yogyakarta, 2025
Berbeda dengan The Freak Show yang bergerak berbasis konteks ruang dan sporadis, Luna Kamarie hidup melalui keberulangan. Persona drag queen ini dirawat melalui ritme tampil yang konsisten, kedisiplinan, dan relasi yang terus dibangun dengan audiens. Kehadiran reguler di panggung kabaret Raminten—setiap Jumat dan Sabtu—menjadikan Luna salah satu semesta yang paling stabil dalam praktik Babam. Dari keberulangan inilah berbagai percobaan artistik, perjumpaan dengan penonton, dan kemungkinan-kemungkinan baru terus bertumbuh. Pada saat yang sama, ritme tersebut juga menjadi salah satu cara Babam menjaga keberlanjutan praktiknya secara ekonomi sekaligus menopang semesta-semesta lain yang bergerak lebih cair.
Di luar semesta-semesta tersebut, Babam juga bergerak melalui proyek-proyek atas namanya sendiri. Keterlibatannya sebagai perancang kostum Lampiran Cyclofemmes karya Ishvara Devati dalam Festival Belum Sudah (2025), misalnya, menunjukkan bagaimana praktiknya menjangkau wilayah desain dan kolaborasi lintas disiplin. Demikian pula Melekat: ATTACHED – The Spectrum of Drag Queen Self (2025), sebuah film yang berangkat dari pengalaman Luna Kamarie dan Byakta Babam di semesta Raminten Cabaret, yang dipresentasikan dalam Southeast Asia Queer Cultural Festival oleh ASEAN SOGIE Caucus. Praktik-praktik ini memperlihatkan bahwa gerak tidak selalu berarti tampil di panggung, tetapi juga hadir sebagai riset, dokumentasi, refleksi, dan kerja lintas medium.
- Foto 4. Proto Animalia Project dalam KRAPELA 365 2nd Anniversary, Jakarta, 6 Desember 2025.
Pola yang berbeda kembali tampak dalam Proto Animalia Project yang dijalankan bersama Mahamboro. Sejak awal, Proto Animalia Project beroperasi lintas medan dan konteks presentasi, muncul di ruang-ruang yang menuntut cara hadir yang berbeda dari seni pertunjukan konvensional. Proto Animalia Project muncul di berbagai festival dan ruang dengan karakter beragam: Jagat Lengger Festival (2024), ArtJog Performance Stage (2024), hingga Protopesta Rave and Jawir EP Launch Party di Singapura (2024). Pada 2025, geraknya meluas ke ekosistem musik populer melalui Introvert Club #17 by Post Party Syndroma, Pesta Pora x Yes No Club, dan Synchronize Fest. Setiap ruang membawa tuntutan ritme, durasi, dan relasi penonton yang berbeda. Proto Animalia Project menyesuaikan diri dengan merakit bentuk dan menjaga energi agar tetap mengalir.
Keseluruhan lintasan tersebut memperlihatkan bahwa praktik Babam tidak tumbuh melalui satu jalur yang tunggal. Sebagian praktik hadir sebagai keberulangan, sebagian lain muncul sebagai respons terhadap konteks tertentu, sementara yang lain bergerak bebas melintasi berbagai platform dan audiens. Tidak ada satu semesta yang menjadi pusat dari yang lain.
Dalam pengertian ini, sengkarut bukanlah tanda bahwa praktik Babam belum menemukan bentuknya. Sebaliknya, sengkarut menjadi cara berbagai semesta kecil tersebut hidup secara bersamaan. Hal itu memungkinkan praktik untuk berpindah, menempel, menyusup, berulang, dan bertransformasi tanpa harus disatukan ke dalam satu model kerja yang seragam. Yang dipertahankan bukanlah keteraturan, melainkan kemampuan untuk terus bergerak.
Semesta, Pilihan, dan Cara Praktik Beredar
Keragaman lintasan dalam praktik Byakta Babam memperlihatkan bahwa tidak ada satu jalur yang harus ditempuh sebuah karya untuk dapat hidup. Dalam medan seni pertunjukan, sering kali terdapat anggapan bahwa karya ideal akan bergerak secara bertahap menuju platform-platform yang dianggap lebih utama, lebih mapan, atau lebih bergengsi. Namun, pengalaman yang muncul dari praktik Babam menunjukkan kemungkinan berbeda. Sebuah karya tidak selalu menemukan daya hidupnya ketika memasuki ruang-ruang kanonik seni pertunjukan kontemporer. Dalam banyak kasus, sebuah karya justru berdentum lebih kuat ketika bertemu dengan konteks yang tepat: Penonton yang sesuai, ruang yang mendukung, dan situasi yang memungkinkan logika kerjanya berkembang secara optimal.
Dengan demikian, perpindahan sebuah karya dari satu ruang ke ruang lain tidak selalu dapat dibaca sebagai kenaikan atau penurunan posisi. Setiap ruang menghadirkan kemungkinan yang berbeda. Yang menjadi penting bukanlah seberapa tinggi posisi sebuah platform dalam hierarki seni, melainkan sejauh mana sebuah karya menemukan kondisi yang membuatnya hidup.
Cara pandang semacam ini membantu membaca The Freak Show secara lebih hati-hati. Selama ini, semesta tersebut tumbuh melalui relasi pertemanan, kedekatan, dan kegembiraan bermain bersama. Orang datang dan terlibat bukan semata-mata karena pembagian kerja yang ketat atau struktur produksi yang formal, melainkan karena adanya ketertarikan untuk berbagi ruang, waktu, dan pengalaman bersama. Fleksibilitas semacam ini memungkinkan The Freak Show menerima perubahan, menghadirkan orang-orang baru, dan terus bergeser mengikuti kebutuhan konteks yang dihadapinya.
Namun, justru karena itu, pertanyaan menarik muncul ketika membayangkan The Freak Show bergerak lebih jauh ke dalam sirkuit seni pertunjukan kontemporer. Apa yang mungkin berubah ketika sebuah semesta yang tumbuh dari kedekatan sosial memasuki medan yang menuntut jadwal kerja yang lebih terstruktur, target artistik yang lebih spesifik, serta ritme produksi yang berbeda? Apakah karakter lenturnya dapat tetap dipertahankan? Ataukah sebagian dari kelenturan tersebut perlu dinegosiasikan agar semesta tersebut dapat beredar lebih jauh?
Tulisan ini tidak berusaha menjawab pertanyaan tersebut secara pasti. Yang menarik justru kenyataan bahwa setiap perluasan sirkulasi selalu membawa konsekuensinya sendiri. Ketika sebuah praktik memasuki ruang baru, yang berpindah tidak hanya karya, tetapi juga cara kerja, relasi sosial, ekspektasi penonton, bahkan pengertian tentang apa yang dianggap sebagai keberhasilan. Sirkulasi dapat dipahami semata sebagai persoalan distribusi karya sekaligus negosiasi terhadap kondisi-kondisi yang memungkinkan sebuah praktik tetap hidup.
Jika The Freak Show mengajukan pertanyaan tentang kecocokan konteks dan ekologi sebuah praktik, Proto Animalia Project memperlihatkan kemungkinan yang berbeda. Sejak awal, Proto tidak dibangun untuk menetap pada satu medan tertentu. Energi utamanya justru muncul dari perpindahan. Kehadirannya di Jagat Lengger Festival, ArtJog Performance Stage, ruang-ruang musik independen, pesta rave, hingga festival musik populer seperti Synchronize Fest menunjukkan kemampuan untuk bergerak melintasi audiens dan konteks yang sangat beragam. Dalam kasus Proto, mobilitas menjadi strategi distribusi dan bagian dari karakter praktik itu sendiri. Setiap perpindahan menghadirkan situasi baru yang kemudian membentuk cara kerja dan bentuk presentasinya.
Kemampuan bergerak lintas medan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keberlangsungan sebuah praktik tidak selalu ditentukan oleh kedekatannya dengan satu jenis institusi atau satu kategori audiens tertentu. Sebaliknya, keberlangsungan sering lahir dari kemampuan membaca peluang, mengenali konteks yang tepat, dan membangun relasi dengan berbagai ekosistem yang berbeda. Dalam pengertian ini, mobilitas tidak hanya strategi artistik, tetapi juga strategi bertahan hidup.
Luna Kamarie menawarkan model yang berbeda lagi. Berbeda dengan Proto yang tumbuh melalui perpindahan atau The Freak Show yang bertumpu pada relasi sosial yang cair, Luna hidup melalui keberulangan. Semesta ini dibangun dari kedisiplinan hadir, relasi yang terus dirawat dengan penonton, dan ritme pertunjukan yang berlangsung secara konsisten dari waktu ke waktu. Dalam konteks ini, keberhasilan tidak diukur dari sejauh mana sebuah praktik berpindah, tetapi dari kemampuannya untuk terus hidup di tempat yang sama tanpa kehilangan energinya.
Keberulangan tersebut juga menghadirkan dimensi lain yang jarang dibicarakan dalam wacana seni pertunjukan, yakni infrastruktur. Kehadiran Luna secara reguler di panggung kabaret menghasilkan pengalaman artistik, dan juga menciptakan ritme kerja yang relatif stabil. Ritme tersebut memungkinkan terbentuknya sumber daya—baik berupa penghasilan, jejaring sosial, pengalaman performatif, maupun kesempatan bereksperimen—yang pada gilirannya menopang semesta-semuasa lain yang bergerak dengan cara berbeda. Dalam pengertian ini, Luna menjadi persona artistik dan salah satu infrastruktur yang memungkinkan praktik Babam terus berlangsung.
Ketiga semesta tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada satu model ideal tentang bagaimana praktik artistik berkembang. Sebagian memperoleh tenaga dari keberulangan, sebagian dari kedekatan sosial, dan sebagian lagi dari perpindahan yang terus-menerus. Dengan demikian, cara sebuah praktik beredar tidak dapat dipisahkan dari cara praktik tersebut bertahan. Pilihan mengenai ruang presentasi, audiens, relasi kerja, ritme produksi, hingga sumber daya ekonomi menjadi wilayah yang tak terpisah dari praktik artistik dan bagian dari keputusan-keputusan yang terus dikoreografi dari waktu ke waktu.
Dalam pengertian ini, praktik Babam dapat dibaca sebagai kerja mengoreografi semesta-semesta kecil agar tetap bergerak secara bersamaan dan saling menopang. Melalui tulisan ini kita bisa membaca peta semesta-semesta kecil tersebut beserta cara mereka hidup dan beredar. Namun, peta tersebut belum menjelaskan bagaimana tubuh-tubuh yang menghuni semesta itu dibentuk, dirakit, dan ditransformasikan dari waktu ke waktu. Pertanyaan itulah yang menjadi titik berangkat tulisan berikutnya.
Linda Mayasari, dramaturg










