Tubuh yang Datang ke Meja Makan
Pada 30 November 2025, Byakta Babam mempresentasikan Yang Kita Kunyah di Meja Makan Keluarga, karya komisi dari Telisik Tari – Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta. Di dalam karya ini, meja makan berubah menjadi ruang yang ganjil sekaligus akrab. Tubuh-tubuh berkostum ayam duduk, bergerak, mengunyah, saling memandang, dan sesekali menghadirkan humor yang terasa ganjil tetapi hangat. Suasana yang muncul tidak sepenuhnya menyerupai pertunjukan teater, tidak pula sepenuhnya menyerupai pesta keluarga. Itu bergerak di antara keduanya: ruang tempat manusia, binatang, kostum, makanan, dan suara, hidup berdampingan dalam satu perjamuan yang sulit diberi nama.
Pemandangan semacam ini berulang kali muncul dalam praktik Byakta Babam. Di tempat lain, tubuh dapat menjelma diva, bunga matahari, ayam, monster, tanaman, atau makhluk yang tidak sepenuhnya manusia, tumbuhan, maupun hewan. Tubuh-tubuh tersebut tidak hadir sebagai representasi yang utuh. Selalu ada sesuatu yang sengaja dibiarkan terlihat: jenggot yang tetap menempel pada tubuh feminin Luna Kamarie, spons yang membentuk lekuk tubuh, kostum yang tampak seperti rakitan, atau gerak yang membiarkan batas antara manusia dan makhluk lain tetap terbuka.
Jika tulisan sebelumnya menelusuri bagaimana semesta-semesta yang dibangun Babam bergerak, berpindah, dan bertahan hidup melalui berbagai ruang presentasi, tulisan ini berangkat dari pertanyaan yang berbeda: Apa yang terjadi pada tubuh ketika memasuki semesta-semesta tersebut?; Mengapa tubuh dalam praktik Babam terus berupaya menjadi sesuatu yang lain?; Dan, bagaimana proses transformasi tersebut diciptakan, dirawat, dan dibagikan kepada orang-orang di sekitarnya?
Untuk mendekati pertanyaan tersebut, tulisan ini membaca sejumlah praktik Babam—mulai dari Siasat Tubuh Sensual, Melekat (Attached), Luna Kamarie, hingga The Freak Show—sebagai rangkaian percobaan tubuh yang terus bergerak di antara berbagai kemungkinan. Di dalam percobaan-percobaan tersebut, muncul satu istilah yang kerap digunakan Babam sendiri: “kethok magic”.
Menubuhkan Kethok Magic
Dalam percakapan sehari-hari, Babam kerap menggunakan istilah “kethok magic” untuk menjelaskan bagaimana seseorang dapat bertransformasi menjadi sosok lain melalui berbagai siasat tubuh yang sebenarnya dapat dipelajari dan dicoba bersama. Istilah ini sering muncul ketika ia berbicara tentang proses menjadi Luna Kamarie atau berbagai makhluk yang hidup dalam semesta The Freak Show. Yang menarik, “kethok magic” tidak merujuk pada kemampuan yang bersifat mistis ataupun bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, tetapi menunjuk pada rangkaian teknik, percobaan, dan kerja tubuh yang memungkinkan seseorang tampak berbeda dari bentuk yang semula dikenali.
Pemahaman tersebut menjadi penting dalam membaca Siasat Tubuh Sensual, sebuah proyek penciptaan lintas medium yang dikembangkan Babam sejak 2023 dan saat ini tengah digarap bersama Katalis Kolektif Koreografi. Berbeda dengan Luna Kamarie atau The Freak Show yang memperlihatkan “hasil transformasi tubuh” di hadapan publik, proyek ini justru membuka ruang untuk melihat bagaimana transformasi tersebut bekerja. Proyek ini menengok kembali berbagai siasat yang selama ini digunakan Babam dalam merakit tubuh: spons, stoking berlapis, bra artifisial, kostum, rias, hingga berbagai perangkat DIY yang memungkinkan tubuh bergeser dari satu kemungkinan ke kemungkinan lainnya.
Sebagai drag queen, Babam menaruh rasa hormat dan kekaguman besar kepada mereka yang memilih mentransformasikan tubuh melalui prosedur medis. Baginya, keputusan semacam itu tidak pernah sederhana. Pilihan prosedur medis melibatkan perjalanan panjang, kesiapan lahir dan batin, keberanian menghadapi berbagai risiko, serta kemampuan mengelola sumber daya yang tidak sedikit. Pengalaman-pengalaman tersebut menghadirkan bentuk komitmen yang layak dihargai dan tidak dapat disederhanakan hanya sebagai persoalan penampilan fisik.
Jalur yang ditempuh Babam bergerak ke arah berbeda. Ia memilih meracik tubuh melalui kerja kerajinan tangan, kostum, rias, dan berbagai perangkat yang dapat dibongkar-pasang sesuai kebutuhan. Lekuk tubuh dibentuk melalui spons, stoking, kain, dan material lain yang perlahan mengubah kontur dan bentuk tubuh. Dengan cara ini, tubuh tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang tetap, tetapi sebagai material yang dapat dirakit, diperpanjang, dipelintir, atau dipinjamkan kepada bentuk-bentuk lain yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Menariknya, proses tersebut tidak diarahkan untuk menghasilkan ilusi yang sempurna. Penonton sering kali tetap dapat melihat jejak-jejak konstruksinya. Tubuh feminin yang dihadirkan Luna Kamarie, misalnya, tidak berusaha menghapus seluruh penanda tubuh Babam. Jenggot tetap dibiarkan tumbuh. Struktur tubuh Byakta Babam tetap hadir. Yang terjadi bukan penyamaran total, melainkan perjumpaan antara berbagai kemungkinan tubuh yang hidup secara bersamaan.
Dari titik ini, transformasi dalam praktik Babam mulai bergerak melampaui persoalan gender. Tubuh tidak hanya dapat menjadi perempuan atau laki-laki. Ia dapat menjadi bunga matahari, ayam, tanaman, monster, alien, atau makhluk yang sulit diberi nama. Jika ada sesuatu yang ingin dibuka oleh Siasat Tubuh Sensual, barangkali bukan rahasia tentang bagaimana menjadi Luna atau bagaimana menciptakan tubuh-tubuh The Freak Show. Yang dibuka adalah kesadaran bahwa transformasi selalu lahir dari proses. Di balik setiap perubahan rupa terdapat rangkaian keputusan, percobaan, kegagalan, dan pengetahuan yang terus ditransformasikan dari satu tubuh ke tubuh lainnya.
Melekat: Persona dan Spektrum Diri
Jika Siasat Tubuh Sensual membuka dapur transformasi tubuh, maka Melekat (Attached) bergerak ke wilayah yang lebih reflektif. Karya ini tidak lagi bertanya bagaimana tubuh dibentuk, tetapi bagaimana berbagai bentuk yang menempel pada tubuh perlahan-lahan membentuk pengertian seseorang tentang dirinya sendiri.
Berangkat dari pengalaman drag, Babam mempertanyakan gagasan tentang tubuh autentik. Di atas panggung, seorang drag queen dapat mengimitasi penyanyi, selebritas, atau figur tertentu. Namun apakah proses peniruan hanya terjadi di atas panggung? Ataukah dalam kehidupan sehari-hari manusia juga terus-menerus mengimitasi berbagai citra yang telah disahkan oleh lingkungan sosialnya?


Foto 1. Melekat (Attached) (2023) karya Byakta Babam yang dipresentasikan dalam pameran CHORA: Tubuh-Tubuh yang Tak Berhingga – Lingkar Pertama, proyek kolaborasi antara Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat (Indonesia) dan FURIACA (Amerika Tengah), 1–28 September 2023.
Melalui pertanyaan tersebut, Melekat menggeser perhatian dari persoalan identitas menuju spektrum diri yang terus berubah. Persona panggung dan tubuh sehari-hari tidak ditempatkan sebagai dua wilayah yang terpisah secara tegas. Keduanya saling memengaruhi, saling meminjam bentuk, dan terus bernegosiasi satu sama lain. Diri tidak hadir sebagai sesuatu yang tunggal, tetapi sebagai kumpulan lapisan yang bergerak, bertumpuk, dan berubah seiring waktu.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Melekat memperluas pembacaan terhadap praktik Babam secara keseluruhan. Jika tubuh dapat dirakit melalui spons, stoking, kostum, dan rias, maka persona pun dapat dipahami sebagai sesuatu yang terus dibentuk melalui pengalaman hidup, relasi sosial, fantasi, hasrat dan berbagai citra yang diwariskan oleh lingkungan sekitar. Diri bukanlah inti yang tetap dan menunggu ditemukan. Ia terus dibentuk, dipengaruhi, dan dinegosiasikan melalui berbagai perjumpaan yang terjadi sepanjang hidup.
Di titik inilah praktik Babam memperlihatkan bahwa proses menjadi tidak selalu diarahkan untuk menemukan siapa diri seseorang yang sesungguhnya. Yang lebih penting adalah membuka kemungkinan bagi tubuh untuk mencoba berbagai bentuk keberadaan yang berbeda. Alih-alih mencari identitas yang final, tubuh diberi ruang untuk bergerak di antara berbagai kemungkinan tersebut, membawa sebagian, meninggalkan sebagian, dan terus menyusun ulang dirinya sendiri.
Luna Kamarie: Dunia yang Dihuni
- Foto 2. Luna Kamarie dalam berbagai transformasi kostum dan karakter di Raminten Cabaret, Yogyakarta, 2025.
Luna tidak hadir sebagai karakter yang sesekali dimainkan lalu ditinggalkan setelah pertunjukan selesai. Ia hidup, tumbuh, dan bergerak melintasi berbagai ruang sosial yang berbeda. Seiring waktu, Luna berkembang menjadi lebih dari sekadar persona panggung; ia menjelma semesta yang dihuni dan dihuni kembali melalui perjumpaan dengan orang-orang di sekitarnya.
Rumah utama Luna adalah panggung Raminten Cabaret di Yogyakarta. Setiap akhir pekan, Jumat dan Sabtu, ruang ini mempertemukan penonton dari beragam latar belakang di dalam satu suasana yang tidak lazim ditemukan di banyak pertunjukan drag lainnya. Di satu meja dapat duduk keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak, hingga kakek dan nenek yang datang menikmati makan malam bersama. Di meja lain, wisatawan lokal dan mancanegara menyaksikan pertunjukan sambil bercakap-cakap. Di tengah suasana tersebut, Luna hadir bersama para drag queen lain sebagai bagian dari ritme sosial yang berlangsung setiap akhir pekan.

Foto 3. Usai pertunjukan Raminten Cabaret di Yogyakarta, penonton naik ke panggung untuk berswafoto bersama para drag queen idolanya, 20 Juni 2025.
Situasi ini penting karena Luna tumbuh di ruang yang sangat terbuka. Glamor, lipsync, humor, kostum, dan transformasi tubuh hadir berdampingan dengan aktivitas yang sangat sehari-hari: makan, bercakap, merayakan ulang tahun, atau sekadar menghabiskan malam bersama keluarga dan teman. Panggung dan kehidupan sosial tidak dipisahkan secara tegas. Keduanya saling merembes dan membentuk suasana yang hidup melalui kebersamaan.
Dalam berbagai penampilannya, Luna terus berganti rupa. Kadang ia hadir sebagai penyanyi populer yang diimpersonasi di atas panggung. Di kesempatan lain, ia menjelma bunga matahari, tokoh fantasia, atau figur yang sulit dikenali secara pasti. Namun, perubahan-perubahan tersebut tidak pernah diarahkan untuk menciptakan ilusi yang sempurna. Sebagaimana tubuh dalam Siasat Tubuh Sensual, Luna selalu menyisakan jejak-jejak konstruksinya sendiri.
Di titik inilah gagasan “world-making” yang dikembangkan José Esteban Muñoz menjadi relevan. Dalam Cruising Utopia, Muñoz (2009) menjelaskan bahwa semesta-semesta alternatif tidak selalu hadir sebagai proyek besar yang utuh. Ia dapat muncul sementara melalui afek, relasi sosial, dan pengalaman bersama yang memungkinkan orang membayangkan cara hidup yang lain. Dunia semacam itu tidak selalu dibangun melalui manifesto atau pernyataan politik yang eksplisit. Ia sering tumbuh melalui perjumpaan, suasana, dan pengalaman kolektif yang membuat kemungkinan lain terasa hadir untuk sesaat.
Luna dapat dibaca melalui kerangka tersebut. Yang dibangun Luna tidak hanya karakter atau pertunjukan. Ia membangun suasana tempat berbagai kemungkinan tubuh dapat hidup berdampingan tanpa harus segera diselesaikan menjadi identitas yang tetap. Di dalam ruang itu, tubuh dapat bermain, mencoba bentuk lain, tertawa pada dirinya sendiri, dan menjalin relasi dengan orang-orang yang mungkin tidak pernah membayangkan akan bertemu dalam ruang yang sama.

Foto 4. Transformasi berlapis Byakta Babam menjadi Luna Kamarie dan Luna Kamarie sebagai Marni dalam Sebab Cinta Susah Didekap (2023) karya Byakta Babam dan Kolektif Sudah Pekak Sakit Lagi, karya komisi Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, dipentaskan pada 14 Januari 2023.
Hal ini terlihat ketika Luna berpindah ke medium lain. Dalam Sebab Cinta Susah Didekap (2023), Luna memerankan Marni dalam karya teater yang dikomisi Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. Dalam Melekat (Attached), Luna hadir sebagai bagian dari refleksi tentang hubungan antara persona dan kehidupan sehari-hari. Namun, yang menarik bukanlah perpindahan medium tersebut. Yang menarik adalah bagaimana semesta Luna tetap dapat dikenali meskipun konteksnya berubah. Ia membawa serta humor, kerentanan, permainan, dan kemungkinan-kemungkinan tubuh yang telah lama dirawatnya. Dengan cara itu, Luna Kamarie tidak hanya menunjukkan bahwa tubuh dapat menjadi sesuatu yang lain. Ia memperlihatkan bagaimana kemungkinan tersebut dapat dihuni secara sosial, dirawat melalui relasi, dan perlahan-lahan tumbuh menjadi semesta yang benar-benar hidup.
The Freak Show: Menubuhkan Retakan
Dalam profilnya, The Freak Show mendeskripsikan dirinya sebagai pertunjukan yang “hadir bukan untuk menjadi utuh, melainkan untuk memecah.” Pernyataan tersebut terasa penting karena menawarkan cara lain untuk membaca transformasi tubuh dalam praktik Babam. Di dalam semesta ini, manusia dapat bertukar sifat dengan hewan, tumbuhan dapat mengambil alih tubuh manusia, sementara monster, alien, dan makhluk-makhluk hibrida hidup berdampingan tanpa perlu menjelaskan asal-usulnya. Yang muncul bukan upaya menciptakan identitas baru yang stabil, melainkan kesediaan untuk tinggal di dalam ketidakpastian bentuk.
- Foto 5. Karakter-karakter makhluk dalam semesta The Freak Show.
Pemahaman semacam ini membantu membedakan The Freak Show dari tradisi historis freak show yang berkembang di Eropa dan Amerika pada abad ke-19. Dalam sejarah tersebut, tubuh-tubuh yang dianggap berbeda dipertontonkan sebagai objek tontonan publik: tubuh yang dinilai ganjil, tidak normal, atau menyimpang dijadikan sumber rasa ingin tahu sekaligus penegasan terhadap batas-batas normalitas. Sebagaimana dicatat oleh Backe (2018), tubuh “freak” dalam konteks historis sering berfungsi sebagai cermin bagi masyarakat untuk menentukan siapa yang dianggap normal dan siapa yang ditempatkan di luar batas tersebut.

Foto 6. Keluarga ayam dalam Yang Kita Kunyah di Meja Makan Keluarga (2025), karya komisi Telisik Tari – Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta yang diproduksi oleh Katalis Kolektif Koreografi. Dipentaskan di Gelora Baik, Yogyakarta.
The Freak Show versi Babam bergerak ke arah berbeda. Ia tidak menghadirkan keganjilan sebagai objek tontonan yang harus diamati dari kejauhan. Sebaliknya, keganjilan justru menjadi kondisi yang dibagikan bersama. Penonton tidak ditempatkan sebagai pengamat atas tubuh yang berbeda, tetapi diajak memasuki semesta tempat batas antara manusia dan nonmanusia, normal dan tidak normal, serius dan jenaka, menjadi jauh lebih cair.
Hal ini tampak dalam berbagai karya yang lahir dari semesta The Freak Show. Dalam Perjamuan Ayam-ayam maupun Yang Kita Kunyah di Meja Makan Keluarga, tubuh ayam tidak hadir sebagai simbol yang harus ditafsirkan secara tunggal. Itu menjadi cara untuk menggeser posisi tubuh manusia dari pusat semesta yang selama ini dianggap wajar. Dalam karya lain seperti Kami Tidak Diundang Sejarah, Maka Kami Berakar di Tanah, tubuh dalam bentuk yang ganjil bersinggungan dengan tumbuhan dan lanskap yang lebih luas.
Keganjilan dalam The Freak Show bukanlah tujuan akhir, melainkan lebih menyerupai metode untuk membuka ruang bagi kemungkinan-kemungkinan lain yang belum memperoleh tempat dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh menjadi medan percobaan yang memungkinkan manusia membayangkan relasi yang berbeda dengan dirinya sendiri, dengan makhluk lain, maupun dengan semesta yang lebih luas. Tubuh-tubuh tersebut tidak pernah benar-benar menetap pada satu bentuk. Mereka terus bergerak, berubah, dan menyusun ulang dirinya sendiri—seolah identitas bukan sesuatu yang harus ditemukan, melainkan sesuatu yang selalu dapat dibayangkan kembali.
Kebahagiaan yang Berpendar
Di balik berbagai transformasi tubuh, kostum yang rumit, persona yang bergeser, dan makhluk-makhluk ganjil yang memenuhi semesta The Freak Show, ada satu hal yang terus muncul dalam praktik Byakta Babam: Kegembiraan untuk bermain bersama orang lain. Hal ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru sering terlewat ketika praktik-praktik semacam ini dibaca melalui bahasa identitas, representasi, atau politik tubuh. Dalam banyak kesempatan, yang paling terasa dari perjumpaan dengan karya-karya Babam adalah transformasi yang terjadi pada tubuh dan suasana yang memungkinkan orang merasa nyaman untuk ikut bermain di dalamnya.
Kecenderungan tersebut terlihat dalam berbagai lapisan praktiknya. Hal itu hadir dalam ruang latihan yang sering berlangsung seperti pertemuan teman-teman yang sedang mencoba sesuatu bersama; muncul dalam proses penciptaan karakter, kostum, dan semesta pertunjukan yang tumbuh melalui percakapan, improvisasi, percobaan, serta kegagalan-kegagalan kecil yang diterima sebagai bagian dari proses. Yang dibangun di sana adalah karya dan juga lingkungan sosial tempat orang merasa nyaman dan aman untuk mencoba kemungkinan-kemungkinan menjadi diri yang lain.
Dalam banyak presentasi The Freak Show, kemungkinan tersebut bahkan meluas hingga menghampiri penonton. Tidak jarang penonton diajak masuk ke dalam semesta pertunjukan, mengenakan kostum, dan hadir bersama para aktor di atas panggung atau di dalam ruang aksi. Mereka tidak dibebani dialog yang rumit atau tugas-tugas akting yang sulit, cukup masuk, hadir, dan bermain. Dengan cara yang sederhana itu, batas antara aktor dan penonton perlahan menjadi lebih lentur.
Situasi semacam ini memperlihatkan bahwa transformasi dalam praktik Babam tidak diperlakukan sebagai kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh seniman atau performer tertentu. Seseorang tidak perlu menjadi aktor profesional untuk mengenakan kostum ayam. Tidak perlu memiliki kemampuan panggung tertentu untuk menjadi bagian dari semesta yang sedang dibangun. Yang dibutuhkan sering kali hanyalah kesediaan untuk masuk dan mengalami kemungkinan tersebut bersama orang lain.

Foto 7. Penonton yang terlibat dalam Yang Kita Kunyah di Meja Makan Keluarga (2025), Gelora Baik, Yogyakarta.
Dalam beberapa kesempatan, keterlibatan semacam itu membuka kemungkinan pengalaman yang lebih jauh. Ketika mengenakan kostum dan memasuki semesta The Freak Show, seseorang mungkin tidak sekadar menjadi bagian dari pertunjukan. Untuk sesaat, ia juga memperoleh kesempatan untuk hadir dalam bentuk yang berbeda dari dirinya sehari-hari. Topeng, kostum, dan karakter-karakter yang ditawarkan The Freak Show memungkinkan seseorang mengambil jarak dari berbagai citra yang biasanya melekat pada dirinya—sebagai pekerja, mahasiswa, orang tua, pasangan, atau peran-peran sosial lain yang dijalani setiap hari. Menariknya, pengalaman tersebut tidak selalu berarti menghilang dari kehidupan sosial. Justru sebaliknya. Di balik topeng atau kostum, seseorang tetap hadir di tengah orang lain, tetap berbagi ruang, tawa, dan pengalaman bersama. Dalam pengertian ini, kostum The Freak Show menjadi alat transformasi dan juga ruang perlindungan sementara: Tempat seseorang dapat beristirahat sejenak dari kewajiban untuk tampil sebagai dirinya yang sehari-hari, tanpa harus sepenuhnya menarik diri dari ruang sosial di sekitarnya.

Foto 8. Penonton menari bersama dipandu oleh Ibu Ayam dalam Yang Kita Kunyah di Meja Makan Keluarga (2025), Gelora Baik, Yogyakarta.
Di dalam semesta yang dibangun Babam, menjadi ayam, bunga matahari, monster, atau alien bukan tentang menjadi sosok yang berbeda. Transformasi tubuh menjadi pintu masuk menuju bentuk-bentuk relasi yang baru: antara performer dan penonton, antara teman dan kolaborator, antara seseorang dengan tubuh yang selama ini ia kenali. Barangkali karena itulah tubuh-tubuh dalam praktik Babam tidak pernah tampak terisolasi. Mereka selalu hadir dalam hubungan dengan tubuh lain, dengan percakapan, dengan tawa, dengan makan bersama, menari dan bernyanyi bersama, dengan pertemanan, atau dengan bentuk-bentuk kebersamaan yang tumbuh perlahan dari waktu ke waktu.
Kebahagiaan yang muncul dari proses tersebut juga tidak hadir sebagai perayaan besar atau kemenangan yang spektakuler, rasanya lebih menyerupai sesuatu yang berpendar: berawal dari pengalaman sangat personal, lalu perlahan menyebar ke orang-orang di sekitarnya. Dari seseorang yang mencoba kostum baru. Dari seorang teman yang membantu merias. Dari sekelompok orang yang duduk bersama merancang karakter. Dari penonton yang bersedia mengenakan kostum dan masuk ke dalam semesta pertunjukan untuk sesaat. Dari tubuh-tubuh yang merasa memiliki ruang untuk mencoba kemungkinan lain tanpa takut dihakimi.
Dunia yang Tidak Ingin Selesai
Kembali ke meja makan dalam Yang Kita Kunyah di Meja Makan Keluarga, tubuh-tubuh ayam yang duduk, mengunyah, dan berbagi ruang bersama sesungguhnya menawarkan cara sederhana untuk membaca keseluruhan praktik Byakta Babam. Yang dihadirkan bukan tubuh yang telah menemukan bentuk akhirnya, melainkan tubuh yang terus bergerak di antara berbagai kemungkinan.
Melalui Siasat Tubuh Sensual, Babam membuka dapur transformasi tubuh dan memperlihatkan bahwa perubahan tidak pernah lahir begitu saja, tetapi dari rangkaian siasat yang dipelajari, dicoba, dan diwariskan. Melalui Melekat, ia mempertanyakan batas antara persona dan kehidupan sehari-hari. Melalui Luna Kamarie, kemungkinan-kemungkinan tersebut tumbuh menjadi semesta yang dihuni bersama. Sementara melalui The Freak Show, tubuh terus didorong untuk melampaui bentuk-bentuk yang sudah dikenalnya, memasuki wilayah-wilayah yang lebih ganjil, cair, dan belum selesai.
Di dalam seluruh praktik tersebut, transformasi tidak pernah diarahkan untuk menemukan identitas yang paling benar. Menjadi Luna, ayam, bunga matahari, monster, atau makhluk lain bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah membuka ruang bagi tubuh untuk terus mencoba, bergeser, dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah dijalani sebelumnya. Barangkali di situlah makna terdalam dari apa yang disebut Babam sebagai “kethok magic”: Keberanian untuk membayangkan bahwa tubuh selalu dapat menjadi lebih dari apa yang selama ini kita kenal dan semesta yang terus terbuka untuk kemungkinan-kemungkinan baru.
Daftar Pustaka
Backe, E. L. (2012). Reconstructing the “Freak”: A Deconstruction of the Grotesque and the Body in Freak Show Performance. Master’s Thesis. University of Gothenburg.
Muñoz, J. E. (2009). Cruising Utopia: The Then and There of Queer Futurity. New York: New York University Press.
Linda Mayasari, dramaturg


















