Perjalanan mengamati kerja kreatif Ishvara Devati telah saya lakukan sejak pertengahan 2024, ketika ia menjadi seniman Kampana dalam program Indonesian Dance Festival. Dari karya The Synthetic of Hybrid Beings hingga Cyclofemmes di ArtJog 2025. Ishvara konsisten menelusuri tubuh sebagai medan tafsir atas gender, kekuasaan, dan teknologi. Dalam dua karya tersebut, tubuh transnya menjadi pusat gravitasi wacana—antara spiritual dan biologis, antara yang alami dan buatan.
Ketika ia memulai projek Ecological Aphrodisiac dalam residensi mini Komite Tari-DKJ pada 12–18 Oktober 2025, saya melihat pergeseran arah dalam pencariannya. Tubuh kini diposisikan semata sebagai ruang perenungan pribadi, sekaligus medan sosial tempat berkelindannya hasrat, tenaga, dan kapital. Melalui projek ini, Ishvara membawa tubuh ke dalam percakapan yang lebih luas tentang relasi sosial, kerja, dan ekonomi afektif—membuka kemungkinan baru untuk membaca koreografi sebagai praktik sosial yang hidup.
Untuk membaca perjalanan Ecological Aphrodisiac, saya menggunakan tiga lapisan pengamatan yang saling menyambung. Pertama, pengamatan dari dekat—melihat tubuh sebagai medan pengalaman yang paling intim, tempat hasrat, tenaga, dan kapital bekerja secara halus di dalam kehidupan Ishvara (#1). Kedua, pengamatan terbuka—mengikuti bagaimana tubuh tersebut bernegosiasi dengan ruang urban, menjelma menjadi pembacaan atas kota, maskulinitas, dan ekologi sosial yang lebih luas (#2). Ketiga, pengamatan meluas—menautkan temuan-temuan itu dengan cara Katalis merancang dramaturgi dan keproduksian sebagai ekologi kerja, sehingga arah artistik dan strategi produksi bergerak seiring (#3). Ketiga lapisan ini kemudian bermuara pada refleksi akhir tentang relevansi projek, hubungan kerja yang dirawat, serta arah yang mungkin ditapaki Ecological Aphrodisiac ke depan (#4). Melalui struktur inilah proyek ini terbaca sebagai koreografi sosial yang tumbuh dari tubuh, menembus ruang, dan beresonansi ke dalam jaringan relasi yang lebih luas.
#1
Tubuh, Hasrat, dan Kapital: Membaca Koreografi Ishvara dari Segelas Jamu Kuat
Di tengah hiruk pikuk kota, Ishvara terpanggil oleh pemandangan lapak-lapak jamu kuat yang tersebar di sudut-sudut ibu kota—etalase dari imaji kejantanan sekaligus representasi hasrat yang dijual. Dari titik inilah projek Ecological Aphrodisiac berangkat, menelusuri tubuh sebagai biologis dan lokus sosial tempat tenaga, hasrat, dan kapital saling berkelindan. Dalam residensi yang difasilitasi Komite Tari-DKJ, Ishvara menelusuri ruang-ruang perjumpaan itu secara langsung: berbincang dengan pedagang dan konsumen jamu kuat, menyimak kisah tubuh yang terhubung dengan tubuh lain, lalu membawa temuan-temuan tersebut kembali ke dalam studio. Melalui proses ini, tubuh menjadi ruang riset sekaligus arsip yang hidup—tempat Ishvara menafsir ulang relasi antara kekuasaan dan kenikmatan, menguji ulang kemungkinan koreografi sebagai bahasa sosial yang lentur.
Ide tentang jamu kuat muncul ketika Ishvara berjalan menyusuri beberapa ruas jalan di ibu kota. Ia melihat lapak-lapak jamu herbal yang menjajakan jamu kuat penunjang stamina. Ishvara bercerita, sebagian teman transpuannya juga mengonsumsi obat kuat untuk mendukung performa mereka sebagai pekerja seks. Dari proses dialog dengan pedagang dan konsumen, ia memahami bahwa fenomena jamu kuat tidak hanya sebatas produk dagangan, tetapi memiliki jaringan kompleks antara manusia, alam, dan sistem ekonomi kapital modern. Tubuh yang bekerja, menjual tenaga, dan menanggung beban sosial di kota adalah tubuh yang terus bernegosiasi antara hasrat dan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Ketika residensinya ditutup dengan open studio, ruang studio berubah menjadi semacam ritual pembacaan tubuh. Lampu diredupkan, Ishvara mulai menekan tombol kontrol untuk menurunkan layar LCD berwarna putih. Ia bergerak perlahan, tubuhnya menegangkan otot lengan, punggung, dan dada—pose binaragawan yang menegaskan kekuatan. Tak tampak wajahnya, hanya kilau kulit yang berpeluh di bawah cahaya putih. Bagian selanjutnya, Ishvara melangkah ke arah depan layar, sehingga seluruh tubuh dan wajahnya terlihat jelas. Ishvara mempercepat gerakannya, mengulang pose yang sama hingga tubuhnya tampak nyaris bergetar. Suara iklan obat kuat diputar bersahutan: “Pria sejati, kuat dan tahan lama!” Suara itu seperti mengintimidasi tubuh di depan kami, seolah mengatur bagaimana tubuh harus hadir: keras, gagah, dan tahan banting. Di momen ini, ia seperti sedang meniru dan sekaligus menggugat citra yang direproduksi iklan—sebuah koreografi untuk menelisik konstruksi maskulinitas. Gerak tubuhnya menampilkan ketegangan antara kehendak pribadi dan imaji publik, antara representasi dan perlawanan. Tak ada narasi verbal, tetapi tubuhnya berbicara tentang kerja, daya, dan performa.
Performa maskulin yang dijanjikan oleh obat kuat melibatkan kerja ekstraktif dan eksploitasi alam serta manusia dalam mendukung sifat dasar manusia seperti gairah, hasrat, dan birahi. Perspektif queer ecology yang diusung Ishvara melihat jamu kuat sebagai produk sekaligus jaringan ilusi yang menautkan tubuh dengan kapital. Tubuh yang dikonstruksi dengan nalar maskulin merupakan tubuh yang produktif, aktif, dan dituntut untuk terus kuat. Namun, pada saat yang sama, ia juga tubuh yang lelah—tubuh yang terus berupaya menegosiasikan kelemahan dan kebutuhan pemulihan di tengah ritme kota yang keras dan kompetitif.
Ketegangan itu kemudian dilunakkan oleh sebuah adegan sederhana: seorang lelaki datang membawa teko merah. Ia meminumkan air kepada Ishvara, lalu Ishvara berganti meminumkan air itu kepada beberapa orang di sekitar. Gerakan ini lembut dan pelan, seolah menghapus jarak antara tubuh-tubuh di ruangan, menghadirkan sensasi saling percaya dan kerentanan. Di momen ini, saya menangkap lapisan baru dari gagasan redistribusi energi—sebuah koreografi sosial yang bukan lagi tentang kekuatan, melainkan pemulihan.
Air dalam Ecological Aphrodisiac diibaratkan sebagai energi yang mengalir di antara tubuh-tubuh, simbol hubungan yang tidak hierarkis—saling memberi dan menerima tanpa kepemilikan. Teko merah menjadi penanda sirkulasi energi itu: air berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, menghadirkan keintiman yang tenang dan setara. Tindakan meminumkan air tidak hanya menghapus jarak, tetapi juga mengembalikan tubuh pada fungsi dasarnya: mengalirkan kehidupan dan rasa.
Aksi sederhana itu menggeser atmosfer ruang dari demonstratif ke kontemplatif. Penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi turut menjadi bagian dari sirkulasi: tubuh-tubuh yang sebelumnya pasif kini ikut merasakan getar yang sama. Meski sulit untuk dilabeli, tetapi saya akan menyebutnya sesuatu yang melampaui maskulinitas dan feminitas itu sendiri. Satu energi yang lahir dari dalam. Apa yang disampaikan melalui ketubuhannya, sesuatu yang mungkin tidak perlu dilabeli, atau karena artikulasi yang belum ditemukan, atau bahkan lebih berharga untuk ditangkap kualitas dan nilainya ketimbang motivasinya. Saya melihat bahwa dalam tindakan kecil ini, Ishvara berhasil menubuhkan gagasan besar, bahwa keintiman dapat menjadi politik—sebuah cara yang lembut untuk memahami tubuh di tengah sistem yang menuntut efisiensi dan kekuatan.
Seluruh adegan diakhiri dengan Ishvara berjalan pelan ke arah layar putih, membawa teko merah di tangannya. Di layar, muncul gambar-gambar iklan jamu kuat dari berbagai era: lelaki macho berdampingan dengan perempuan berpakaian seksi, slogan yang menggoda, warna merah dan emas yang menyala. Tubuh Ishvara berdiri membelakangi penonton, membiarkan siluetnya menyatu dengan visual di layar—antara tubuh nyata dan tubuh imaji, antara konsumsi dan negosiasi. Ketika lampu dimatikan, yang tersisa hanyalah gema dari napas dan suara desiran air di dalam teko.
Bagi saya, momen itu menegaskan dua hal penting: pertama, bahwa Ishvara membaca tubuh bukan sebagai alat, melainkan sebagai arsip hidup—penyimpan ingatan atas kerja, gairah, dan ketegangan sosial. Kedua, bahwa melalui koreografi ini, ia memperlihatkan bagaimana tubuh mampu memediasi politik hasrat dan kekuasaan dengan cara yang intim dan puitik. Ecological Aphrodisiac pada akhirnya menjadi semacam latihan empati: bagaimana tubuh dapat belajar mendistribusikan energi tanpa dominasi, dan bagaimana kita, para penonton, menjadi saksi sekaligus bagian dari ritus sirkulasi energi.
#2
Tubuh-Tubuh yang Hidup di Dalam Ritme Kota: Ekologi Hasrat dan Ketahanan Sosial
Jika di bagian sebelumnya tubuh hadir sebagai ruang perjumpaan dan pertukaran energi antarindividu, maka dalam pengamatan yang lebih luas, Ecological Aphrodisiac dapat dibaca sebagai upaya membaca tubuh-tubuh urban yang hidup di tengah tuntutan produktivitas dan performativitas modern. Dalam konteks masyarakat kota, tubuh merupakan entitas biologis dan juga alat produksi ekonomi, wahana sosial yang mengandung nilai tukar, atau bahkan media simbolik misalnya iklan jamu kuat yang memajang foto pria berotot sebagai simbol kejantanan. Jamu kuat, sebagai medium riset Ishvara, menjadi metafora yang tepat untuk memahami bagaimana tenaga, gairah, dan hasrat manusia diatur oleh logika kapitalisme—bahwa vitalitas pun dapat dijual, dan kelelahan pun dapat dikomodifikasi menjadi citra kekuatan.
Menurut Anthony Synnott (1993), tubuh tidak hanya “ada,” tetapi “dibuat” (made) dan “dihidupi” (lived) dengan berbagai makna sosial yang diproduksi oleh individu dan komunitasnya. Pandangan ini menegaskan bahwa tubuh tidak pernah netral: ia adalah medan tempat berbagai wacana—politik, ekonomi, dan kultural—bernegosiasi. Bagi masyarakat kelas pekerja di perkotaan, sistem yang ada sedikit banyak mengondisikan tubuh mereka. Dari apa yang dikatakan Synnott dan kenyataan yang ada, makna tubuh direduksi agar makna yang dibangun oleh lingkungannya tercapai, yaitu tubuh yang metropolit. Hal tersebut memperlihatkan seakan pemilik tubuh tidak memiliki kendali. Tubuh yang lelah, tetapi ada dorongan naluriah dari dalam untuk dipenuhi. Kenyataan tersebut saya rasa teridentifikasi oleh para pemilik modal yang turut menjadikan citra maskulin tetap langgeng dalam produk atau sistem industri dagangan mereka, salah satunya jamu kuat. Seperti yang dikatakan Drianus dalam jurnalnya berjudul “Hegemonic Masculinity: Wacana Relasi Gender dalam Tinjauan Psikologi Sosial”, bahwa:
“Satu tipe maskulinitas yang disebut oleh Nilan (2009) adalah maskulinitas yang diproduksi oleh representasi sosial yaitu hypermasculinity. Term ini identik dengan sosok yang kuat, keras, dan heroik. Hypermasculinity merupakan citra rekaan media yang berkepentingan terhadap visi industri kapitalis, misalnya hendak meraih keuntungan finansial sebanyak-banyaknya dari produk yang ditawarkan. Hypermasculinity diapropriasi sebagai imaji yang normal dan standar, meskipun dalam kehidupan riil sosok tersebut tidak pernah dijumpai, misalnya sosok superman dalam film” (Drianus: 2019).
Kutipan tersebut mendukung realitas lapisan pemahaman atas maskulinitas sebagai konstruksi sosial yang dibangun, diciptakan, diterima, dinormalkan, kemudian dilanggengkan dalam ruang dan waktu, bahkan hingga siklus lain yang mereproduksi untuk kepentingan pemodal. Uraian paragraf di atas, secara ringkas menuliskan konstruksi arus utama atas tubuh yang saya pahami dan alami. Saya merasa perlu adanya jembatan dalam memahami orientasi tubuh yang menjadi medium atas konstruksi maskulinitas. Pada poin ini, saya melihat adanya potensi bagi Ishvara memperluas jangkauan pengamatannya, soal isu eksploitasi yang dicurigai Ishvara memang realitas yang ada, khususnya terkait industri produksi dan distribusinya, yang eksis di ruang hidupnya saat ini.
Dalam karya ini, tubuh dipahami sebagai lokus di mana tenaga dan hasrat saling bertaut dengan kerja dan modal. Relasi antara tubuh dan produktivitas mengingatkan kita pada bagaimana kapitalisme mengatur kehidupan sehari-hari hingga ke wilayah yang paling intim: tidur, makan, cinta, dan gairah. Ecological Aphrodisiac menyoroti bagaimana masyarakat kota memaknai kelelahan dan vitalitas melalui benda-benda konsumsi seperti jamu kuat. Di titik inilah, tubuh menjadi cermin bagi sistem yang lebih besar—sistem yang menuntut agar manusia terus “berfungsi” dalam ritme kota yang cepat dan padat, bahkan di ranah hasrat sekalipun.
Namun, Ishvara tidak berhenti pada kritik terhadap maskulinitas dan kapitalisme. Ia memperluas pembacaannya ke wilayah relasi sosial dan keintiman. Anthony Giddens (1992) dalam bukunya The Transformation of Intimacy menjelaskan bahwa keintiman pada era modern merupakan hasil komunikasi emosional yang setara antara individu-individu yang saling mengakui kehadiran satu sama lain. Di tengah dunia yang serba efisien dan instrumental, keintiman menjadi bentuk perlawanan terhadap keterasingan sosial. Gagasan ini menemukan pantulannya dalam adegan teko merah yang berpindah dari tangan ke tangan: tubuh-tubuh saling meminumkan air, membangun sirkulasi empati dan kepercayaan yang meluruhkan batas antara performer dan penonton.
Air di dalam Ecological Aphrodisiac dapat dibaca sebagai representasi ekologis sekaligus afektif. Ia adalah metafora atas hubungan nonhierarkis antartubuh—mengalir, menyesuaikan, memberi tanpa menguasai. Dalam pandangan ini, pendekatan ekologi yang cair dan nonbiner terasa relevan, menolak pemisahan tegas antara alam dan budaya, manusia dan nonmanusia, maskulin dan feminin. Keberlanjutan tidak lagi semata-mata berbicara tentang lingkungan fisik, tetapi juga tentang bagaimana tubuh-tubuh dan relasi sosial dapat hidup dalam keseimbangan, saling memulihkan tanpa hierarki. Ishvara menghadirkan ini dalam bentuk koreografi sosial: tubuh sebagai lanskap ekologi yang hidup, bergerak, dan mengalir.
Dengan demikian, Ecological Aphrodisiac dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap cara modernitas mengatur kehidupan. Ia bernegosiasi dengan ritme cepat yang menuntut efisiensi, dengan menghadirkan ritus pelan yang memberi ruang bagi perasaan, jeda, dan empati. Tubuh dalam karya ini bukan tubuh yang bekerja untuk produksi, melainkan tubuh yang bekerja untuk pemulihan. Ia menghadirkan politik kelembutan—politik yang muncul dari kesadaran bahwa kerentanan juga adalah bentuk kekuatan.
Melalui cara ini, Ishvara mengusulkan bentuk koreografi afeksi: koreografi sebagai praktik ekologis dan sosial. Tubuh tidak hanya menjadi alat ekspresi artistik, tetapi juga wahana penyembuhan bersama. Di tengah sistem yang mengubah stamina menjadi mata uang sosial, Ecological Aphrodisiac menegaskan bahwa di antara kerja, hasrat, dan kapital, selalu ada kemungkinan bagi tubuh untuk bernapas, beristirahat, dan mengalir bersama tubuh-tubuh lain dalam sirkulasi empati yang terus saling menghidupi.
#3
Dramaturgi Produksi sebagai Ekologi Kerja
Katalis merasa beruntung diundang oleh Ishvara Devati untuk bekerja bersama mengembangkan projek Ecological Aphrodisiac, dengan residensi mini DKJ sebagai salah satu jejak awal pertemuan kami. Sebagai kolektif yang beranggotakan produser dan dramaturg, Katalis bekerja melalui pendekatan dramaturgis—cara merangkai kerja artistik dan kerja produksi sebagai satu ekologi yang saling menghidupi. Penciptaan dipahami sebagai proses artistik sekaligus sebagai ekologi kerja yang menghubungkan gagasan, tubuh, relasi, dan kebutuhan produksi. Pendekatan dramaturgis bagi Katalis tidak berhenti pada penyusunan alur atau penafsiran makna karya, itu merembes ke ranah keproduksian: bagaimana konsep artistik menghasilkan konsekuensi logistik, bagaimana ritme tubuh memengaruhi desain waktu produksi, bagaimana nilai gagasan menentukan strategi sirkulasi, hingga bagaimana relasi kerja dibangun secara etis.
Pendekatan ini mengarahkan kami untuk mendampingi Ishvara tidak hanya dalam aspek konseptual, tetapi juga dalam merawat dinamika kerja: mengelola waktu, memetakan dukungan yang mungkin, serta membuka ruang dialog dengan ekosistem yang terhubung dengan projek. Kami melihat bahwa kekuatan dramaturgi membantu menemukan celah potensi—baik dalam struktur karya maupun dalam proses produksi dan distribusinya—sehingga keseluruhan perjalanan Ecological Aphrodisiac dapat bergerak dengan ritme yang bertahap, organik, tetapi tetap terarah.
Ecological Aphrodisiac berangkat dari pengalaman embodied Ishvara Devati sebagai seniman yang hidup dan bekerja di tengah kota. Dari pengalaman tubuh yang terus bernegosiasi dengan ruang urban, ia menelusuri kelindan antara tubuh, gender, hasrat, tenaga, dan kapital sebagai bagian dari dinamika sosial yang ia hadapi sehari-hari. Dari situ, Katalis membaca tentang bagaimana Ishvara menyerap kehidupan kota, berjumpa dengan para pedagang dan konsumen jamu kuat, serta merasakan sendiri bagaimana tubuh diperlakukan, dituntut, dan dinegosiasikan dalam ritme perkotaan yang keras. Pengalaman ini kemudian memberi kedalaman dan arah bagi dramaturgi, gagasannya tidak berangkat dari abstraksi tetapi peristiwa sehari-hari yang berlangsung di ruang hidupnya. Dari titik itu, Katalis berfokus pada pemetaan potensi artistik, sosial, dan politis projek. Selanjutnya, kerangka gagasan dibangun bersifat lentur, terbuka dan nonlinier, yang bertujuan membuka potensi-potensi baru. Dengan demikian, cara kerja dramaturgi Katalis menyusun alur dan merapikan konsep, juga menjaga adanya ruang berpikir yang penuh kemungkinan, responsif, dan merangkul kejutan-kejutan atas temuan yang akan datang.
Dalam kerja produksi, Katalis bergerak di antara dua ruang kerja yang lentur. Pertama, ruang yang memungkinkan proses artistik tumbuh secara organik, dan yang kedua ruang terstruktur yang muncul ketika projek berkomitmen dengan pihak pendukung, misalnya sponsor, komisi, hibah, kolaborator dan bahkan publik penonton. Dari situlah Katalis menghubungkan kerja dramaturgi dan keproduksian. Keduanya dikerjakan secara simbiotik. Dramaturgi dimaksudkan memberi arah bagi aspek produksi. Sementara produksi menjaga agar gagasan tetap bergerak dalam batasan yang realistis, tanpa kehilangan daya dan kedalaman kritisnya. Ruang tersebut yang senantiasa berusaha untuk dijaga oleh Katalis dalam mengelola sebuah proses kerja kreatif.
Ramuan untuk Menghadirkan Pengalaman Bersama
Sedikit disinggung di bagian lain tulisan ini, bahwa Ecological Aphrodisiac lahir dari konteks ruang urban. Tubuh trans Ishvara sebagai bagian dari kehidupan perkotaan, membaca ruang kota dan maskulinitas sebagai lanskap sosial. Maskulinitas sebagai watak dari jamu kuat, menjadi pintu masuk membaca gejala dan invasinya terhadap tubuh, jaringan produksi, dan pergerakan kota. Tubuh politis Ishvara mengalami, membacanya, dan mentransformasikannya melalui bahasa artistik. Secara dramaturgis, Katalis menyikapi tubuh dalam proses ini sebagai ruang pergulatan, pengalaman yang tidak berhenti pada perjuangan untuk bertahan, dan pemulihan. Pengalaman Ishvara yang diterjemahkan secara artistik tidak diorientasikan sekadar tontonan, tetapi ruang imajinasi yang menggerakkan, memantik pengalaman tubuh lain, menggugah, mengganggu, dan kemungkinan lain yang tak terhingga.
Katalis melihat projek ini sebagai karya tari dengan nilai koreografi afeksi—sebuah praktik sosial dan ekologis yang memadukan tubuh, ruang, dan relasi. Strategi dramaturgis diarahkan pada pembentukan pengalaman bersama: pertunjukan sekaligus ruang yang mengajak penonton merasakan, menyimak, dan berinteraksi dengan dinamika tubuh dan gagasan yang ditawarkan Ishvara. Ruang-ruang presentasi sebagai kanal distribusi, apa pun bentuk presentasinya, disikapi Katalis sebagai ruang pertukaran. Bahwasanya projek ini bukan barang, tetapi representasi laku perjalanan, setiap bagiannya dapat menjadi pemantik pencair kebekuan, menggerakkan dinamika baru, hingga dimaknai sebagai undangan untuk bersama-sama bangkit. Jadi, ruang presentasi yang dibayangkan dari projek ini bisa beragam sesuai pengalaman yang ingin dihadirkan.
Melalui pemetaan awal inilah, Katalis merancang jalan yang terbuka bagi pergerakan proyek ini kedepannya. Kerja studio yang berfokus pada tubuh, pembacaan atas kota, kesempatan memasuki ruang-ruang presentasi, hingga sampai pada titik dimana percakapan publik dimulai dan mulai meluas. Semuanya itu memungkinkan untuk dilalui secara ulak-alik. Tahapan selanjutnya adalah Katalis membaca strategi produksi dan membayangkan pasar, untuk dapat menopang perjalanan karya ini.
Pembayangan Dua Jalur Pasar yang Sirkular bagi Ecological Aphrodisiac
Dalam projek Ecological Aphrodisiac, kerja keproduksian Katalis dijalankan sebagai proses merawat, menyusun ritme, dan memetakan keberlanjutan. Sejak awal, kami memahami bahwa kompleksitas isu jamu kuat—yang menghubungkan tubuh, maskulinitas, ekologi, dan kapital—membutuhkan strategi produksi yang lentur, reflektif, dan beresonansi dengan ritme kerja Ishvara. Karena itu, produksi tidak ditempatkan sebagai urusan administratif semata, tetapi sebagai laku merawat perjalanan gagasan yang nantinya akan mewujud ke dalam bahasa ungkap artistik: bagaimana dukungan, waktu, ruang, dan relasi disusun agar karya dapat tumbuh tanpa kehilangan arah dan etikanya.
Secara praktis, Katalis memetakan dukungan yang mungkin hadir dalam beberapa lapis. Dukungan seperti yang diberikan Komite Tari DKJ—miniresidensi dan ruang presentasi publik—kami baca sebagai bentuk dukungan logistik, ekologi pertukaran, dan inkubasi gagasan. Dalam perjalanan projek ini, bentuk-bentuk dukungan serupa sangat mungkin hadir kembali: studio untuk proses, laboratorium riset kota, kolaborasi lintas disiplin, hingga dukungan dana dari institusi seni dan sektor nonseni terkait isu karya, di dalam maupun luar negeri. Setiap dukungan ini bernilai sebagai “sumber daya”, sekaligus hubungan sosial yang perlu dirawat melalui transparansi, kesetaraan, integritas, dan komunikasi yang jujur. Katalis menyikapi proses produksi sebagai laku dan proses membangun. Dari setiap proses dibaca ulang, direfleksikan capaiannya untuk melihat keberlanjutannya. Dalam melihat pasar, Katalis tidak kaku, pihak-pihak yang berperan mendukung pengembangan/inkubasi, pada saat yang sama pun dapat dilihat sebagai pasar, ada nilai yang dipertukarkan di sana. Namun, jika disandarkan pada pasar yang menjadi platform pertemuan dengan audiens, Katalis melihat dua potensi, antara gagasan (wacana) dan artistik yang menjadi muatan distribusinya.
Terkait ruang distribusi, Katalis mengidentifikasi dua jalur yang saling berkelindan. Jalur pertama adalah pasar distribusi artistik konvensional, yakni lintasan festival, platform, dan ruang presentasi karya dari tingkat nasional dan internasional. Pada jalur ini, karya hadir sebagai pengalaman estetis, koreografis, dan konseptual. Katalis juga membaca jalur kedua, yakni pasar wacana dan imajinasi sosial—yang Claire Bishop (2012) sebut sebagai market of affects and positions: ruang yang menghimpun gagasan, perspektif, posisi politik, dan imajinasi tentang cara hidup yang lebih adil. Di dalam ekosistem ini, yang dipertukarkan bukan karya pertunjukan, melainkan cara membaca dunia. Oleh karena kekuatan gagasan dan modal artistik Ishvara, kami melihat kedua jenis pasar yang kami tandai tersebut dapat menjadi ruang potensial bagi Ecological Aphrodisiac.
Bagi Katalis, dua pasar ini bukan dua dunia yang terpisah, melainkan sebuah alur sirkular: karya bisa bertransformasi dari ruang festival ke ruang wacana, dan dari ruang wacana kembali ke panggung pertunjukan. Yang bergerak tidak hanya bentuk artistiknya, ia juga merupakan gagasan, posisi etis, dan imajinasi sosial yang ditawarkan Ishvara. Meski demikian, Katalis menyadari risiko yang hadir dalam market of affects and positions: seniman sering direduksi menjadi token keberagaman atau legitimasi politik tertentu. Untuk itu, strategi Katalis adalah memastikan ruang yang ditempati proyek ini tidak menggeser otonomi Ishvara sebagai subjek kreatif. Setiap kesempatan dipertimbangkan tidak hanya berdasarkan nilai eksposur, tetapi sejauh mana ruang tersebut aman, transformatif, dan memungkinkan artikulasi yang jujur. Otoritas naratif harus tetap berada di tangan seniman.
Melengkapi strategi pasar, Katalis juga memikirkan distribusi gagasan dalam bentuk dokumentasi, publikasi, arsip proses, dan percakapan lintas jaringan seni. Dengan demikian, perjalanan Ecological Aphrodisiac tidak hanya bertumpu pada pertunjukan, tetapi juga pada penyebaran pengetahuan yang dapat memperkuat wacana gender, tubuh, dan ekologi hasrat di Indonesia dan kawasan. Strategi inilah yang menjadi jembatan menuju pertimbangan etis dalam representasi karya—terutama karena projek ini bersinggungan dengan tubuh, narasumber, dan pengalaman sosial yang rentan.
Kompas Kerja dan Perawatan Kolektif
Eksplorasi Ecological Aphrodisiac melibatkan tubuh-tubuh yang berada dalam wilayah sosial yang sensitif: pedagang jamu kuat, konsumen, serta individu yang memiliki hubungan intim dengan isu maskulinitas, tenaga, dan ekonomi hasrat. Setiap perjumpaan menyimpan lapisan pengalaman personal yang rentan dibaca secara simplifikasi—baik secara moral, sosial, maupun budaya. Karena itu, sejak awal Katalis menempatkan aspek etika sebagai bagian tak terpisahkan dari estetika dan dramaturgi produksi.
Bagi kami, etika tidak sekadar “aturan”, tetapi cara merawat hubungan yang terbentuk sepanjang proses kreatif. Etika berarti menyadari posisi—siapa yang berbicara, siapa yang diwakili, siapa yang memegang otoritas—dan secara aktif mengantisipasi relasi kuasa yang timpang. Dalam projek yang bersinggungan dengan tubuh-tubuh rentan dan wacana sosial yang sensitif, ketidakseimbangan posisi dapat membuat pengalaman orang lain mudah tereduksi: narasumber yang semestinya didengar bisa berubah menjadi objek; pengalaman personal menjadi dekorasi dramaturgis; cerita hidup bergeser konteks tanpa kendali dari pemiliknya.
Karena itu, bagi Katalis, etika berarti menjaga agar proses kreatif tidak memproduksi ketidakadilan baru—baik secara simbolik, afektif, maupun material. Merawat hubungan berarti memastikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada Ishvara dan tim diterima dengan tanggung jawab; bahwa subjek yang ditemui tidak direduksi menjadi fungsi dramatik semata; dan bahwa karya tetap mengembalikan martabat pada setiap kehidupan yang disentuhnya. Etika, dalam pengertian ini, bukan pagar, melainkan kompas yang menjaga proses tetap berpihak dan peka terhadap ketidakseimbangan kuasa yang mungkin hadir secara halus maupun tak kasat mata.
Sebagai langkah konkret, kami membuka kemungkinan untuk menghadirkan pakar lintas bidang—pengkaji gender, ahli jamu dan pengobatan herbal, pedagang jamu, konsumen jamu kuat, serta pengamat sosial—sebagai tawaran bagi Ishvara, bukan sebagai keharusan. Poros pertimbangan kami selalu kembali pada kebutuhan navigasi seniman: apakah ia membutuhkan perspektif tambahan, teman diskusi gagasan, teman berbagi pengalaman atau ruang aman untuk menguji ulang pembacaan-pembacaannya.
Kehadiran para ahli ini tidak untuk mengesahkan karya, mengoreksi pengalaman tubuh Ishvara, atau mengintervensi arah artistik, tetapi menyediakan medan pantul yang dapat memperluas perspektif, memperkaya konteks, dan membantu mengidentifikasi titik-titik sensitif agar representasi tidak jatuh pada bias atau bentuk eksploitasi yang tidak disadari. Pendekatan seperti ini kami pandang sebagai bagian dari perawatan kolektif—cara menjaga kesehatan relasi, memperhalus kepekaan, sekaligus memastikan bahwa karya tetap jujur dan bertanggung jawab terhadap dunia sosial yang disentuhnya.
Di balik semua itu, ada kerja merawat dinamika internal: mengelola ego, menata bahasa, memilih diksi ketika mewakili perjumpaan-perjumpaan tersebut di ruang publik. Katalis menyadari bahwa kerja produksi tidak hanya soal mengarsip, menghitung, atau membuat jadwal, tetapi juga kerja afektif—merawat dan memastikan semua pihak merasa aman, dan menjaga agar projek tidak kehilangan empati yang menjadi sumber kekuatannya. Dengan demikian, etika dalam Ecological Aphrodisiac hadir sebagai prinsip kerja, bukan batasan: ia menjaga agar karya tidak hanya indah dan cerdas, tetapi juga adil dan manusiawi.
#4
Ruang Belajar Kolektif dan Ekologi Kecil Kami
Dalam perjalanan mendampingi Ecological Aphrodisiac, Katalis belajar bahwa produksi tidak hanya tentang mengelola tahapan kerja, tetapi tentang menjaga keselarasan antara gagasan, tubuh, dan relasi. Relasi yang kami bangun bersama Ishvara disandarkan pada prinsip resiprositas, sensitivitas, dan keberpihakan pada proses. Di titik inilah kami melihat bahwa projek ini menciptakan banyak ruang perjumpaan—baik melalui bentuk artistik maupun lewat gagasan yang dibawanya.
Ekosistem yang bekerja di dalam projek ini begitu luas: narasumber yang ditemui Ishvara dalam riset jamu kuat; jaringan seniman dan pekerja seni; sponsor dan lembaga pendukung; hingga audiens yang kelak berhadapan langsung dengan karya. Mereka semua bukan entitas statis, melainkan tubuh-tubuh yang bergerak dengan realitas hidupnya masing-masing, dan pada saat bersamaan, saling terhubung melalui projek ini. Katalis memandang tugas kami adalah merawat ruang perjumpaan itu agar tetap kondusif—bukan steril, melainkan sehat, lentur, dan memungkinkan gagasan tumbuh.
Secara spesifik terkait karya ini, Katalis meyakini Ecological Aphrodisiac akan berkontribusi pada lanskap koreografi kontemporer di Indonesia, mengingat eksplorasinya yang melintasi gagasan tentang tubuh, hasrat, kapital, dan etika. Sepanjang proses ini, Katalis pun menyadari bahwa keproduksian adalah ruang belajar kolektif. Keterbukaan dibutuhkan untuk merawat relasi baru, menguatkan yang tumbuh dari proses, dan menghadapi konsekuensi yang muncul di sepanjang perjalanan. Kami tahu medan seni di Indonesia—dan juga global—masih penuh tantangan: ritme kerja yang cepat, tekanan institusional, ekspektasi pasar, dan keterbatasan sumber daya. Namun, proses ini membuat kami semakin yakin untuk bertahan dengan cara kami sendiri—dengan cara yang baik, pelan bila perlu, tetapi tetap teguh.
Pada akhirnya, kami percaya bahwa kerja produksi adalah sebuah koreografi sosial: sebuah praktik yang menjaga kehidupan gagasan, tubuh, dan relasi yang membentuk karya. Bersama Ishvara, kami merasa bersyukur menjadi bagian dari ekologi kecil yang merawat keberanian untuk membayangkan dunia yang lebih adil, lembut, dan lebih memulihkan.
Daftar Pustaka
Bishop, Claire. (2012). Artificial hells: Participatory art and the politics of spectatorship. Verso Books.
Drianus, Oktarizal (2019). Hegemonic Masculinity: Wacana Relasi Gender dalam Tinjauan Psikologi Sosial. PSYCHOSOPHIA Journal of Psychology, Religion, and Humanity, 1(1), 36-50.
Giddens, Anthony. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Stanford University Press.
Synnott, Anthony. (1993). The body social: Symbolism, self, and society. Routledge.
Sekar Handayani
Katalis Kolektif Koreografi






