Selama ini seni tari kerap dipandang sebagai estetika tubuh semata. Tari dianggap sebagai tubuh yang bergerak secara indah di atas panggung untuk ditonton dan dinikmati, padahal tubuh yang menari adalah bahasa, identitas, dan juga medan makna. Tiga pertunjukan tari dalam CTRL + MOVE pada 15 Oktober 2025 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, adalah sebuah kilasan yang menarik untuk dapat kita telisik bersama, bagaimana tari dapat menjadi semacam ruang ekspresi sekaligus resistansi untuk menolak kuasa atas tubuh.
Tubuh Adalah Bahasa Sosial
Pada pertunjukan pertama, CTRL + MOVE menampilkan “Creature: Dancing Bodies” karya Rizqi Amalia Kamila. Terlihat jelas pertunjukan tersebut ingin menolak cara pandang yang melihat tari semata seni olah tubuh dan gerak yang indah, lembut, dan gemulai. Kamila mengajak kita untuk menelisik lebih mendalam dari apa yang dapat kita lihat dari sebuah pertunjukan tari. Estetika yang ada di dalam tari adalah sebuah ekspresi yang lahir dari seluruh bagian tubuh yang menyatu dalam gerakan yang ritmis, melodis dan penuh makna.
Setiap bagian tubuh: otak, jantung, paru-paru, otot, jemari, urat dan nadi, bersatu padu bersama menciptakan tarian. Namun, tidak hanya bagian tubuh yang melebur, tetapi juga detail-detail kecil yang diperlihatkan dalam tarian tersebut. Gerakan jemari kaki yang menari-nari, mikro ekspresi dari wajah penari yang di-zoom out lewat kamera dan layar, adalah cara Kamila untuk memperlihatkan apa yang paling melekat dalam diri kita, yang kerap kita lupakan, yakni tubuh adalah bahasa.
Dalam kacamata masyarakat-lisan, apa yang kita pahami sebagai bahasa adalah apa yang keluar dari mulut kita. Mulut yang tidak berbicara kita sebut sebagai bisu. Seakan-akan tanpa mulut, kita hanya diam dan tidak dapat bersuara. Bahkan, apa yang kita sebut sebagai “bersuara” adalah semata-mata apa yang dapat kita dengar lewat telinga. Tanpa kita sadari, kita telah menciptakan sebuah “kebudayaan” yang mengabaikan individu-individu dan komunitas yang tidak berbicara dengan mulut, dan mendengar melalui lubang telinga. Kebudayaan normalitas ini telah memisahkan kebudayaan yang lain, yakni kebudayaan masyarakat Tuli dalam ruang hidup, bernegara, serta berkomunitas bersama.
Padahal, jauh sebelum manusia menemukan kelisanan sebagai salah satu bentuk bahasa dan komunikasi, tubuh adalah bahasa paling purba yang dimiliki oleh kita. Dari lahir, bayi tidak hanya berbahasa lewat tangisnya, tetapi lewat kerling matanya yang menatap dan mengenali wajah ibunya untuk pertama kali, dan juga dalam sebuah senyuman bayi yang paling jujur dan tulus. Gestur, ekspresi, dan gerakan jari yang menari adalah bahasa yang sepenuhnya kita miliki dan melekat dalam diri kita. Pertunjukan “Creature: Dancing Bodies” seakan mengingatkan kembali bahwa tubuh adalah bahasa sosial yang sudah lama tidak kita kenali lagi.
Tubuh dan Identitas
Tubuh tidak hanya berbahasa, tetapi juga politis. Ada tubuh yang dinarasikan normal dan tidak normal. Tubuh yang dinarasikan sebagai tubuh sempurna dan tubuh buruk rupa. Tubuh telah menjadi lapisan-lapisan identitas yang dibentuk dan dimaknai. Tentu saja, tubuh-tubuh yang dimiliki oleh kelompok dominan akan dianggap sebagai tubuh yang ideal, tubuh yang mampu dan produktif. Sementara tubuh-tubuh lain, akan dianggap sebagai tubuh yang “cacat”, tubuh yang tidak mampu dan tidak berguna. Dalam kacamata normalitas, tubuh menjadi cara kita memisahkan orang lain yang dianggap memiliki identitas-fisik yang berbeda.
Pun demikian dalam seni tari. Tubuh dimaknai sebagai yang estetik. Sementara apa yang kita pandang sebagai keindahan merupakan sebuah citra atau rekaan dan khayalan yang dimiliki oleh kelompok dominan. Pada masa lalu, kelompok dominan ini berada di istana kerajaan. Orang-orang kerajaan yang memiliki kuasa untuk menentukan citra estetik dalam tubuh penari. Mereka menentukan standar estetika tubuh seorang penari balet, siapa yang layak dan patut menjadi penari balet. Tubuh dan identitas seorang penari balet dibentuk sekaligus dibatasi. Hal tersebut yang coba diungkapkan oleh Siti Alisa, dalam pertunjukan kedua, “Unbodying Fragments: A Lecture Performance”.
Alisa adalah seorang penari balet yang mencoba untuk menolak kuasa atas tubuh-tari. Tubuhnya dianggap terlalu pendek. Sementara badannya dianggap bongsor atau besar, tidak kurus kering selayaknya “standar” seorang penari balet. Namun demikian, Alisa tetap menari. Baginya, tubuh penari balet semestinya lebih demokratis. Tidak masalah apabila tubuhnya lebih berotot. Begitu pula kaki-kaki Alisa yang menari di atas panggung tanpa memakai pointe shoes, sepatu khusus balet. Dia mengalami cedera lutut sehingga tidak bisa menari menggunakan sepatu tersebut. Namun, Alisa tetap menari.
Apa yang ditampilkan oleh Alisa dalam tarian baletnya di atas panggung dan apa yang disuarakan lewat mikrofon kecilnya tidak saja menggugah hati para penonton, tetapi juga menggugat cara pandang kita terhadap identitas penari balet maupun penari secara umum. Alisa telah berbicara mengenai diskriminasi terhadap tubuh fisik yang selama ini dianggap tidak cocok untuk menjadi seorang penari, tubuh fisik yang dianggap tidak indah dan tidak sempurna.
Lebih dari itu, Alisa mengutarakan bahwa tari balet yang lahir dari tontonan kerajaan semestinya membaca kebutuhan zaman supaya kehadirannya tetap relevan. Tari balet dapat berbicara tentang isu politik dan identitas gender. Karena bagaimanapun, tari tidak dapat dilepaskan dari identitas penarinya. Tarian semestinya tumbuh dari ruang hidup dan ruang sosial si penari. Seperti yang diungkapkan oleh Alisa ketika menutup pertunjukannya, “Walau tubuh saya tidak ideal untuk balet, setidaknya saya punya cara bergerak sendiri”.
Tubuh: Medan Makna dan Kuasa
Tubuh nyatanya tidak pernah bergerak tanpa makna dan kuasa. Tubuh tidak pernah lepas dari lapisan-lapisan identitas maupun pelbagai isu yang berkelindan di dalamnya. Tubuh hadir di dalam ketidakadilan, kemiskinan, diskriminasi, korupsi, dan akses pendidikan. Tubuh dapat menjadi bahasa simbolik sekaligus yang paling jujur untuk menelisik isu-isu yang dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada sebuah benda yang kita namai sebagai meja dapat kita telisik dalam pertunjukan tari terakhir, “PAGE 404” karya Rifa Arrahmi Annida.
Pada sebuah meja makan kita melihat ketidakadilan dan ketimpangan. Orang-orang kelas atas, makan di sebuah meja makan yang besar lengkap dengan berbagai macam hidangannya. Sementara orang-orang kelas bawah makan di sebuah meja kecil, bahkan sering kali tanpa meja, lantaran makan hanya untuk terus mengulur hidup sehari-hari. Meja makan adalah tontonan sebuah ketimpangan kelas sosial, yang hadir tidak saja di setiap rumah, tetapi lebih nyata di tempat-tempat makan di ruang publik.
Pada sebuah meja kita biasa mendapati para pejabat bertukar amplop. Jabatan dan posisi sering ditentukan bukan dari kapasitas atau meritokrasi, melainkan dari apa yang diselipkan di atas meja. Pada sebuah meja seorang pejabat dan pengusaha tambang dapat saling duduk, bersalaman, dan diakhiri dengan tawa bersama. Meja sudah sejak lama menjadi wahana transaksi politik dan kekuasaan di negara ini. Korupsi nyatanya dimulai dari meja.
Pada sebuah meja kelas kita menyembunyikan berbagai bentuk diskriminasi dan ketidaksetaraan dalam pendidikan kita. Meja sekolah yang bagus lengkap dengan ruangan berpendingin diperuntukan untuk anak-anak yang datang ke sekolah dengan diantar mobil keluarganya. Sementara meja sekolah yang sudah reot dan bertahun-tahun tidak diganti adalah milik anak-anak yang datang ke sekolah setelah turun dari mobil angkutan umum. Dan, pada sebuah meja kelas, kita memisahkan sekolah untuk anak-anak disabilitas.
Rifa dalam pertunjukannya memperlihatkan bahwa tubuh adalah identitas sosial yang melekat dalam setiap sendi isu-isu sosial. Sebuah pertunjukan tari dapat menjadi wahana kritik sosial yang sangat kuat untuk mengartikulasikan berbagai isu sosial tersebut. Koreografi para penari yang menggunakan elemen meja menjadi sebuah perpaduan dan simbolik yang menarik dalam upaya untuk menggali makna dan kuasa yang hadir dalam lapisan-lapisan identitas seperti kelas sosial, ras, gender, dan disabilitas. Dengan mengaplifikasi isu-isu tersebut, kita dapat menciptakan pertunjukan tari yang tidak saja menghibur, tetapi juga peka dan berempatik.
Muhammad Khambali
Penulis dan pengajar, peminat kajian disabilitas. Buku pertamanya, Disabilitas dan Narasi Ketidaksetaraan (2025)






