Spektrum Tubuh Tari
Mungkinkah memisahkan ruang dari tubuh dan tari, sebagaimana memisahkan keindonesiaan dari tubuh masyarakat Indonesia? Atau, justru pemisahan itu sudah terjadi tanpa disadari, yaitu ketika ruang, tubuh, dan tari telah dipisahkan dan dikotak-kotakkan ketika berhadapan dengan kategorisasi produksi pengetahuan? Apakah keindonesiaan itu hanya sebatas pada keindahan ornamental unsur ketradisian atau ia telah menubuh sebagai spektrum tubuh penari?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkecamuk ketika saya melihat gagasan mengenai pembauran dan pemisahan antara tari tradisi dan tari modern yang dikenali sebagai tari kontemporer. Namun, dalam amatan tampak bahwa tubuh tersebut menunjukkan ketangguhan: menyerap tradisi dan modernitas sebagai bagian dari identitas yang dijalani.
Perkembangan gagasan platform Telisik Tari maupun pewacanaan yang dikembangkan oleh Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dari arsip media cetak untuk menelisik tari pada masa lalu hingga Expanded Choreography (2022), menunjukkan kolektivitas nilai di ruang kota yang mengembangkan pembacaan atas praktik maupun praktik koreografi itu sendiri. Pewacanaan atas spiritualisme urban pun ikut menelisik nilai tradisi yang dipraktikkan oleh masyarakat urban. Koreografi sosial yang ditelisik memosisikan pengamatan atas realitas sosial sebagai tari dan keartistikan tari menjadi laku kreatif untuk pengembangan kota. Alih-alih menjadi utilitarian, dalam tulisan ini dirasa perlu untuk mengurung keluasan spektrum pewacanaan yang telah dikembangkan Komite Tari DKJ, sehingga realitas sosial dapat diamati dari spektrum tari, spektrum tubuh tari, dan spektrum rasa tari.
Menelisik perkembangan tari mutakhir berarti mengamati spektrum yang saling berkelindan: spektrum (ke)urban(an), (ke)tubuh(an), tari dan tata tari, serta spektrum tubuh tari itu sendiri (Rahardjo, 2022a). Pada awalnya, spektrum-spektrum tersebut tampak sebagai akibat dari hasrat untuk ekspresi pembebasan diri (2022b), dan ternyata kebebasan tersebut makin tampak hanya sebatas pada ruang yang diinstitusikan (2022c). Dalam perkembangannya, spektrum tersebut makin tampak sebagai tarik-ulur negosiasi politik rasa (Rahardjo, 2024).
Koreografi sosial memberikan ruang keleluasaan untuk mendiskusikan keluasan spektrum tari dari spektrum tubuh tari yang tidak sekadar unsur-unsur pembentuk karya atau penguasaan teknik artistik, tetapi justru unsur-unsur konteks yang melatari karya artistik. Tari tradisi sangat kental dengan unsur-unsur konteks latar laku spiritual, nilai universalitas, tak jarang bernilai sakral. Sebaliknya, tari modern menekankan ekspresi individual yang sangat partikular, tetapi tetap berpotensi terhubung dengan rasa dalam diri penontonnya. Sekilas, keduanya tampak berjarak. Namun, bagaimana jika keduanya ditemukan sebagai spektrum tari dalam satu tubuh penari lalu dikompetisikan?
Rasa: Hasrat dan Gairah Ekspresi
Perhelatan kolaborasi Jakarta Menari Bersama Vol. 4 (18 Oktober 2025) dan Jakarta Xperimental Dance (19 Oktober 2025)—selanjutnya dalam tulisan ini disebut sebagai JMB—menunjukkan perluasan koreografi, spiritualitas, dan sosial sebagai gejala produksi pengetahuan generasi muda. Peserta datang dari beragam latar: tari kontemporer, tari modern, tari tradisi, hingga mereka yang menjalankan laku tari sebagai ekspresi kelangenan ataupun pencarian jati diri. Kompetisi Tradiporary Dance Battle dan Free’Soul Dance Challenge menunjukkan gejala-gejala tersebut.
Dance Battle merupakan ajang ekspresi diri, vibing, dan pertukaran referensi gerak dan energi. Dalam sambutannya, Yessy Hutabarat, salah satu juri, menyatakan bahwa identitas adalah karakter yang menjadi ciri khas bagi seorang penari untuk saat ini dan nanti. Bagi Ketua Komite Tari DKJ Josh Marcy, JMB merupakan pertemuan kolaboratif antargenre tari dan seni. Dari sejumlah sambutan lain, dapat disarikan bahwa Tradiporary merupakan bauran antara teknik tari tradisi dan teknik tari genre lain yang ditujukan untuk berekspresi. Akibatnya, penilaian atas peserta kompetisi Tradiporary Dance Battle bersandar pada unsur artistik pembentuk tari tradisi maupun kekuatan ekspresi yang disalurkan.
Pada babak preliminary Tradiporary, kata kunci yang dapat ditangkap dari peserta kompetisi antara lain: eksposisi koleksi teknik tari tradisi, baik teknik tradisi Indonesia (seperti Betawi, Jawa Barat, Jawa, Minang, Papua), maupun teknik tradisi modern (seperti Krump, Popping, Waacking, dan Breaking). Yang menarik, basis teknik yang dimiliki tubuh tari sebagai kekuatan utama kemudian dibentangkan sekaligus dibaurkan dengan teknik dari genre lain. Hal ini tentu saja menunjukkan persoalan kekayaan spektrum tari yang dimiliki, persoalan hasrat dan gairah berekspresi lewat medium tubuh, kematangan pengelolaan teknik maupun pengelolaan emosi sebagai landasan dari ekspresi yang diartikulasikan lewat tubuh. Kuda-kuda, gestur pergelangan tangan dan jari, tatapan, kostum, spirit sebagai jalan untuk merelasikan rasa atau kepasrahan diri kepada situasi daripada persoalan atraktivitas semata. Di akhir preliminary, pengamatan menunjukkan kecenderungan bahwa penari dari basis tari tradisi kuat dalam teknik, tetapi terbatas dalam eksplorasi genre lain. Sebaliknya, penari dengan basis modern menunjukkan fleksibilitas ekspresif, bahkan mendekati dimensi rasa dalam tradisi, yaitu konsep roso (rasa).
Pada babak enam belas besar, penggunaan properti—seperti sampur (selendang), topeng jingga, kuda kepang, kipas, kipas Bali, piring, enggang-mandau, busur-panah—memperluas tubuh sekaligus memuat ungkapan dan simbol. Pada bagian ini, spektrum tubuh dari peserta menampakkan bagaimana pemaknaan dirinya atas segenap spektrum perluasan tari itu sendiri apa pun basis tari yang dimilikinya, baik itu membatasi atau justru membebaskan. Di sini, “politik rasa” bekerja secara personal: tubuh dapat membatasi diri pada makna yang telah dikenal atau justru membuka kemungkinan baru.
Babak Seven to Smoke memperlihatkan nuansa dance battle sesungguhnya. Gestur-gestur tradisi menjadi kekuatan. Kerling dan tatapan, goyang pinggul geol, sikap intimidatif yang tetap mengesankan respek pada lawan, gestur ledekan penuh rasa kejenakaan dan tendensi mengajak bermain-main, kuda-kuda rendah yang kerap dimaknai sebagai sikap siap melompat tinggi untuk menunjukkan kedigdayaan sekaligus merupakan sikap siap tempur, hingga pada gerak-gerak beradu mimetik atas gestur kera dalam pagelaran pewayangan dan gestur-gestur kecil pada tangan dan ekspresi wajah, dipertandingkan oleh peserta. Sikap dominasi dalam tari tradisi justru ditunjukkan bukan lewat meluaskan dan meninggikan gestur tubuh, melainkan melalui ketenangan, posisi tubuh yang lebih rendah dari lawan, serta menghaluskan gestur dan gerak tubuh. Di sinilah tampak keindonesiaan hadir sebagai spektrum rasa yang terartikulasikan melalui tubuh.
Namun, muncul pertanyaan: apakah spektrum rasa ini benar menunjukkan keberagaman Indonesia, atau justru condong pada dominasi yang sangat Jawasentris? Mengingat pemenang dari kompetisi Tradiporary Dance Battle, Boby Ari Setiawan menampakkan kekuatan basis dari tari tradisi Jawa-Solo yang kental.
Berbeda dengan Tradiporary, babak penyisihan kedua Free’Soul Dance Challenge menghadirkan dimensi yang lebih introspektif. Melalui prompt seperti pain, heal, bad, heat, focus, light, drown, amnesia, melody, dameunger, desire, hopeless, rebel, lonely, myself, tired, home, fragile, broken, torn, penari merespons emosi personal yang sekaligus bersifat kolektif. Berbeda dengan basis tradisi yang mengolah rasa sebagai kedalaman spiritual-komunal, maka Free’Soul memperlihatkan rasa sebagai pengalaman individual yang terbuka.
Pada babak final, prompt “Dance with Your God: Kalau kalian bertemu Tuhan, apa yang hendak kalian sampaikan lewat tari?” menggeser ekspresi ke ranah spiritual. Menari berarti bercerita untuk menyampaikan rasa, berupa kejujuran dan ketulusan. Basis tari tradisi, tari modern hingga baurannya menjadi tari kontemporer, tidak mengubah pola identitas. Alih-alih mengubah pakem, baik pakem tari tradisi maupun tari modern, penari memperkaya spektrum tubuh, spektrum tari, dan spektrum rasa lewat perbendaharaan kosakata gerak tari dalam menyampaikan hasrat dan gairahnya untuk berekspresi. Soal perluasan perbendaharaan kosakata gerak tari inilah yang mungkin memperkaya kebudayaan daripada sekadar memperdebatkan soal pakem, nilai dan siapa yang lebih unggul, atau siapa yang harus dibatasi. Perbedaan kosakata gerak pun justru menunjukkan kekayaan portofolio dan makin memperkaya serta meluaskan spektrum-spektrum tari, termasuk spektrum rasa itu sendiri dalam diri individu penari, komunitas tari, maupun sebagai keindonesiaan kita, sebagai bangsa yang gemar berjoget.
Bersua untuk Berkelindan dan Berada dalam Rimpang
Berdasarkan wawancara dengan dewan juri (Josh Marcy, Bathara Saverigadi Dewandoro, Denta Sepdwiansyah Pinandito) dan tiga peserta kompetisi (Argyanti Jelang Ramadhantya, Nazwa Sabrina dan Dimitri Arditya), menunjukkan korelasi antara teknik dan rasa; menyampaikan rasa lebih berdampak pada diri dan penonton daripada sekadar teknik. Teknik hanya medium bagi tubuh untuk menyatakan gairah rasa tersebut. Namun, bagi penonton dan juri, teknik juga penting, karenanya penguasaan teknik atau spektrum tari yang paling memesona tetap menjadi penilaian. Namun, rasa terutama berperan dalam kelindan pada unjuk koleksi spektrum tari yang dimiliki para peserta kompetisi.
Pengamatan terhadap rangkaian acara JMB menunjukkan bahwa tari kontemporer berakar pada perpaduan basis tari tradisi maupun tari modern. Basis yang kuat mencerminkan keluasan spektrum tari (dan tata tari) pada tubuh tari, gairah dan hasrat berekspresi melalui tubuh peserta kompetisi justru menunjukkan peran faktor keluasan spektrum rasa yang terkandung dalam spektrum tubuh tari. Dengan kata lain, amatan pada JMB memperlihatkan dua arah gerak yang saling berkelindan: tari modern yang berupaya mengakar pada tradisi sebagai identitas dan tari tradisi yang meluas dalam spektrum (ke)urban(an), menjadi tari kontemporer (lihat Bagan Jalur Artistik). Bauran spektrum ini tidak saja mendorong dialog tari dalam spektrum tubuh tari, tetapi sekaligus menancapkan akar spektrum tubuh tari dalam kerimpangan identitas yang majemuk. Namun, dapat segera dikenali sifat keindonesiaannya lewat spektrum rasa.

Melalui spektrum rasa, keindonesiaan dalam spektrum tubuh tari dapat dipahami sebagai proses sekaligus hasil dari akumulasi berbagai spektrum yang melingkupi penari: spektrum (ke)urban(an), tubuh, tari dan tata tari. Seluruh spektrum ini tidak hadir secara terpisah, tetapi berkelindan dan terus terbentuk seiring perjalanan hidup penari. Dalam proses tersebut, setiap spektrum dapat direntangkan, diluaskan, atau dikerucutkan untuk membentuk karakter dan identitas seorang penari. Dengan demikian, perluasan salah satu atau keseluruhan spektrum dapat dilihat sebagai upaya untuk memperkaya portofolio identitas dan karakter penari dalam upayanya mengolah rasa sekaligus menyalurkan hasrat dan gairah untuk mengekspresikan emosi personal.
Referensi
Rahardjo, Moelyono. “Mengasuh Untuk Meluaskan Pengetahuan: Memandang Wacana Tari Dari Spektrum Yang Tampak.” Seri Wacana Tari: Expanded Choreography, Editor: Sonya Sondakh dan Wili Sandra, Dewan Kesenian Jakarta, 2022a, pp. 20–29.
Rahardjo, Moelyono. “Hasrat Untuk Berekspresi: Mencari Pembebasan Diri dalam Breakdance di Jakarta Tahun 1985.” Telisiktari.id, 2022b, https://telisiktari.id/artikel/3-hasrat-untuk-berekspresi-mencari-pembebasan-diri-dalam-breakdance-di-jakarta-tahun-1985/.
Rahardjo, Moelyono. “Breakdance: Kebebasan Tubuh Sebatas pada Ruang yang Diinstitusikan.” Telisiktari.id, 2022c, https://telisiktari.id/artikel/Breakdance-Kebebasan-Tubuh-Sebatas-Pada-Ruang-Yang-Diinstitusikan/
Rahardjo, Moelyono. “The Political Landscape of Rasa in the Dancer’s Body Spectrum: Expanded Choreography Methods in Dan (s) ity’s Works 2022–2024.” POLITICAL AND ECONOMIC SELF-CONSTITUTION: MIGRATION, INEQUALITIES AND DISCRIMINATION. https://cpst-pesc.com/wp-content/uploads/2025/05/Proceedings-II-International-Conference.pdf#page=85
Moelyono Rahardjo
Dosen seni






